MTEL Pimpin Reli Saham Menara
JAKARTA, BursaNusantara.com – Saham PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) melesat mengungguli dua pesaing besarnya di sektor menara telekomunikasi, berkat kombinasi sentimen korporasi dan fundamental yang kokoh.
Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan harga saham MTEL melonjak 4,8% dalam sepekan terakhir hingga menutup sesi I perdagangan Selasa (12/8/2025) di level Rp 645 per saham.
Lonjakan itu memperpanjang reli bulanan MTEL menjadi 14,1%, sekaligus menempatkannya sebagai saham menara dengan performa terbaik dalam periode yang sama.
Kalahkan TOWR dan TBIG
Sebagai perbandingan, saham PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) hanya naik 4% sepekan terakhir, juga berakhir di Rp 645 per saham.
Sementara saham PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) justru terkoreksi tipis 0,2% ke level Rp 1.935 per saham dalam periode yang sama.
Kinerja unggul MTEL ini memperkuat persepsi pasar bahwa emiten menara milik PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) tersebut sedang dalam jalur ekspansi agresif yang direspons positif oleh investor.
Buyback Jadi Pemicu Utama Reli
Katalis penguatan harga saham MTEL muncul sejak pengumuman rencana pembelian kembali (buyback) saham hingga 4,12% dari modal ditempatkan dan disetor.
Manajemen mengalokasikan dana sebesar Rp 1 triliun untuk merealisasikan aksi korporasi ini, yang akan dimintakan persetujuan pemegang saham pada RUPSLB 26 Agustus 2025.
Sejak rencana buyback diumumkan, harga saham MTEL telah naik 7,5%, menandakan antusiasme pasar terhadap aksi yang dinilai akan meningkatkan nilai bagi pemegang saham.
Buyback umumnya dianggap sebagai sinyal kepercayaan manajemen terhadap prospek perusahaan, sekaligus cara efektif mengoptimalkan struktur modal.
Rumor Merger Tambah Tenaga
Selain buyback, rumor yang beredar di pasar mengenai potensi merger antara MTEL dan TBIG semakin memanaskan spekulasi investor.
Wacana ini dinilai realistis mengingat tren konsolidasi di industri telekomunikasi, yang sebelumnya terlihat dari merger antar operator seluler besar.
Jika terealisasi, merger MTEL–TBIG akan membentuk entitas menara raksasa dengan jangkauan dan portofolio aset yang masif, sekaligus meningkatkan efisiensi operasional dan daya tawar di pasar.
Spekulasi ini tercermin pada respons pasar yang agresif, di mana investor memposisikan diri untuk mengantisipasi potensi sinergi dan penguatan pendapatan di masa depan.
Kinerja Semester I-2025 Tetap Solid
Di luar sentimen rumor dan aksi korporasi, kinerja keuangan MTEL hingga semester I-2025 menunjukkan tren pertumbuhan yang konsisten.
Pendapatan tercatat Rp 4,59 triliun atau naik 3,3% yoy, ditopang oleh pertumbuhan tenant organik, perluasan layanan fiberisasi, dan kontribusi dari lini bisnis non-tower.
Laba bersih juga meningkat 2,9% yoy, sementara EBITDA mencapai Rp 3,86 triliun dengan margin yang membesar, menandakan efisiensi operasional yang terus membaik.
Kombinasi pertumbuhan pendapatan, peningkatan profitabilitas, dan perbaikan efisiensi ini memperkuat daya tarik fundamental MTEL di mata investor institusional.
Rekomendasi Analis: Mayoritas Beli
Dari 31 analis yang mengulas MTEL, sebanyak 25 di antaranya merekomendasikan beli, dengan target harga rata-rata Rp 734 per saham, jauh di atas harga saat ini.
Target tertinggi diberikan oleh Sinarmas Sekuritas di Rp 860, disusul UOB Kay Hian di Rp 820, BRI Danareksa Sekuritas di Rp 800, dan MNC Sekuritas di Rp 780.
Konsensus ini mengindikasikan keyakinan pasar terhadap kelanjutan reli MTEL, didukung oleh prospek pertumbuhan organik dan potensi katalis dari aksi korporasi.
Prospek Jangka Pendek: Katalis Berlapis
Dalam jangka pendek, ada tiga katalis yang berpotensi menjaga momentum positif MTEL.
Pertama, realisasi buyback yang akan mengurangi jumlah saham beredar dan berpotensi memperkuat EPS.
Kedua, perkembangan rumor merger yang jika semakin konkret akan memicu repricing valuasi saham.
Ketiga, ekspektasi kinerja kuartal III-2025 yang solid seiring kontribusi tambahan dari proyek fiberisasi dan penambahan tenant.
Tantangan yang Perlu Diwaspadai
Meski prospeknya menjanjikan, investor tetap perlu mencermati risiko yang mengiringi reli MTEL.
Tekanan persaingan dari operator menara independen, fluktuasi biaya pembangunan infrastruktur, dan dinamika permintaan dari operator seluler bisa menjadi faktor pembatas pertumbuhan.
Selain itu, ketidakpastian realisasi merger juga perlu diperhitungkan, mengingat proses integrasi bisnis skala besar kerap menghadapi tantangan teknis maupun regulasi.
Pasar Menunggu Kejelasan
Menjelang RUPSLB, pasar diperkirakan akan tetap mengamati setiap perkembangan terkait buyback dan rumor merger.
Jika manajemen mampu memberikan kejelasan strategi jangka panjang, reli MTEL berpotensi berlanjut, apalagi didukung tren konsolidasi industri telekomunikasi yang kian menguat.
Dengan kombinasi fundamental yang solid dan sentimen positif yang berlapis, MTEL kini berada di pusat perhatian investor, menjadikannya salah satu saham sektor infrastruktur yang paling dinamis pada paruh kedua 2025.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.










