Geser Kebawah
HeadlinePasarSaham

Buyback Saham Rp 5 Triliun: Strategi Emiten Prajogo Pangestu

227
×

Buyback Saham Rp 5 Triliun: Strategi Emiten Prajogo Pangestu

Sebarkan artikel ini
Buyback Saham Rp 5 Triliun Strategi Emiten Prajogo Pangestu
Empat emiten Prajogo Pangestu akan buyback saham senilai Rp 5 triliun untuk meningkatkan nilai pemegang saham. Simak detailnya!

JAKARTA, BursaNusantara.com – Empat emiten milik taipan Prajogo Pangestu berencana melakukan pembelian kembali (buyback) saham dengan total dana mencapai Rp 5 triliun. Keempat emiten tersebut adalah PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT).

Rincian Buyback Saham

Strategi Buyback TPIA

TPIA menyiapkan anggaran buyback sebesar Rp 2 triliun untuk membeli maksimal 0,29% atau sekitar 250 juta saham. Manajemen TPIA menegaskan bahwa langkah ini bertujuan untuk meningkatkan nilai pemegang saham dan menjaga kepercayaan publik terhadap perusahaan.

Sponsor
Iklan

“Rencana buyback ini dilakukan sebagai salah satu upaya TPIA untuk meningkatkan nilai bagi pemegang saham,” ujar manajemen dalam keterbukaan informasi.

Selain itu, buyback ini juga bertujuan untuk menjaga stabilitas harga saham agar mencerminkan fundamental perusahaan yang sesungguhnya.

Buyback CUAN dan BREN

Sementara itu, CUAN mengalokasikan dana sebesar Rp 500 miliar untuk membeli kembali sahamnya. Buyback ini tidak akan melebihi 0,55% dari total modal yang ditempatkan perusahaan.

BREN, sebagai emiten energi terbarukan, menyiapkan dana hingga Rp 2 triliun untuk membeli kembali 0,2% sahamnya. Menurut manajemen BREN, dana buyback berasal dari saldo kas internal dan tidak akan mengganggu operasional perusahaan.

“Buyback ini merupakan langkah strategis untuk menjaga stabilitas saham dan meningkatkan kepercayaan investor,” ungkap manajemen BREN dalam keterbukaan informasi.

Strategi BRPT dalam Buyback

BRPT menyiapkan dana Rp 500 miliar untuk membeli sebanyak 0,7% saham yang telah diterbitkan perusahaan. Buyback ini akan dilakukan dalam periode 24 Maret hingga 23 Juni 2025 tanpa perlu persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Untuk pelaksanaan buyback, TPIA, CUAN, dan BREN menunjuk BNI Sekuritas, sementara BRPT menggunakan jasa Sucor Sekuritas.

Kinerja Keuangan Emiten Grup Prajogo Pangestu

Kinerja TPIA Tahun 2024

Perusahaan mencatat pendapatan bersih sebesar US$ 1,79 miliar pada 2024, turun 17,4% dibanding tahun sebelumnya. Segmen kimia berkontribusi sebesar US$ 1,69 miliar, sementara infrastruktur menyumbang US$ 100,9 juta.

Beban pokok pendapatan turun 16,4% menjadi US$ 1,74 miliar, namun EBITDA merosot 41,5% menjadi US$ 76,1 juta. Akibatnya, rugi bersih setelah pajak melonjak 81,9% menjadi US$ 57,3 juta.

Meski demikian, Direktur TPIA, Suryandi, menegaskan bahwa perusahaan masih memiliki posisi keuangan yang solid dengan likuiditas mencapai US$ 2,4 miliar per 31 Desember 2024.

Laba Meningkat, BREN Optimistis

Berbeda dengan TPIA, BREN membukukan laba bersih US$ 122,10 juta pada 2024, naik 13,67% dibandingkan tahun sebelumnya. Pendapatan BREN juga meningkat tipis 0,31% menjadi US$ 596,82 juta.

CEO BREN, Hendra Soetjipto Tan, menyatakan bahwa perusahaan tetap berkomitmen terhadap efisiensi dan keberlanjutan meski menghadapi tantangan operasional.

“Portofolio energi terbarukan kami berkontribusi pada pendapatan yang stabil dan profitabilitas yang meningkat,” ungkapnya.

Dampak Buyback terhadap Pasar Saham

Community & Retail Equity Analyst Lead PT Indo Premier Sekuritas, Angga Septianus, menilai aksi buyback merupakan upaya emiten untuk meyakinkan pasar terhadap fundamental mereka.

“Sentimen buyback memang dapat meningkatkan kepercayaan investor, tetapi dampaknya terhadap pergerakan IHSG masih perlu dicermati,” ujarnya.

Sementara itu, IHSG mengalami volatilitas tinggi menjelang Lebaran. Bahkan, Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat melakukan trading halt pada 18 Maret akibat penurunan indeks lebih dari 5%. Sejak awal tahun, aliran dana asing yang keluar dari pasar saham telah mencapai Rp 27,55 triliun.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun telah mengizinkan buyback saham tanpa RUPS guna meredam volatilitas pasar. Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menyebut buyback saham grup Prajogo Pangestu berpotensi menyelamatkan likuiditas pasar.

“Buyback ini dapat membantu IHSG bertahan di level support agar tidak jatuh lebih dalam,” kata Nafan.

Prospek dan Rekomendasi Saham

Investment Analyst Edvisor Profina Visindo, Indy Naila, menilai kinerja keuangan TPIA masih tertekan akibat permintaan lemah di industri petrokimia. Sebaliknya, prospek BREN terlihat lebih cerah berkat pertumbuhan sektor energi terbarukan.

“Ekspansi proyek BREN dan peningkatan efisiensi operasional bisa menjadi faktor positif bagi investor,” ujarnya.

Indy menyarankan investor untuk mencermati saham BREN dengan target harga Rp 8.500 per saham. Selain itu, calon IPO anak usaha TPIA, PT Chandra Daya Investasi (CDI), juga berpotensi menjadi katalis positif bagi emiten grup Prajogo Pangestu.

Dengan adanya aksi buyback, strategi korporasi, dan kondisi pasar saat ini, investor diharapkan tetap berhati-hati dan mencermati perkembangan fundamental emiten sebelum mengambil keputusan investasi.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.