Meluruskan Konsep Kapasitas Penyimpanan dan Ketahanan Energi
JAKARTA, BursaNusantara.com – Pemerintah memberikan klarifikasi resmi guna meredam kegelisahan masyarakat terkait ketersediaan Cadangan BBM Nasional yang sempat diisukan menipis.
Informasi mengenai ketersediaan energi untuk konsumsi selama 20 hari tersebut dipastikan merujuk pada kapasitas penyimpanan (storage), bukan total volume sisa yang akan habis.
Pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya dinilai telah disalahpahami dan diartikan tidak sesuai dengan konteks teknis di lapangan.
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), M Kholid Syeirazi, dalam diskusi di Jakarta menjelaskan bahwa angka 20 hari merupakan cadangan operasional yang bersifat sirkuler.
Pasokan tersebut akan terus diisi kembali dari sumber impor maupun domestik tepat setelah volume di dalam tangki penyimpanan mulai terpakai oleh konsumen.
Kholid menekankan bahwa keterbatasan hanya terletak pada kapasitas tangki penyimpanan yang dimiliki saat ini, bukan pada kemampuan negara menyediakan komoditasnya.
Tiga Lapis Ketahanan Energi Sesuai Perpres 96/2024
Pemerintah secara struktur memiliki tiga jenis cadangan energi guna menjamin stabilitas distribusi di seluruh wilayah Indonesia.
Cadangan operasional dikelola oleh badan usaha seperti Pertamina untuk mencukupi kebutuhan rutin harian masyarakat secara sirkuler.
Kholid menjelaskan bahwa jenis kedua adalah Cadangan Penyangga Energi (CPE) yang bersifat wajib disediakan oleh Pemerintah sesuai kemampuan keuangan negara.
Ketentuan mengenai pengelolaan cadangan penyangga tersebut telah diatur secara legal melalui Perpres Nomor 96 Tahun 2024.
Lapisan terakhir adalah cadangan strategis yang disimpan oleh negara sebagai bantalan ketahanan nasional untuk menghadapi kondisi darurat atau krisis pasokan.
Ketiga lapisan proteksi ini menjadi jaminan bahwa ketahanan energi nasional berada dalam posisi yang terkendali dan aman bagi publik.
Kesiapan Satgas RAFI Menjelang Idulfitri
Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, mengimbau masyarakat untuk tidak terpancing melakukan aksi penimbunan atau panic buying.
Aksi pembelian berlebih justru berpotensi memperburuk distribusi dan memberikan dampak negatif terhadap stabilitas ekonomi secara umum.
Komaidi menganalogikan ketersediaan stok bahan bakar seperti perputaran barang di toko yang akan selalu dipasok kembali saat stok mulai laku terjual.
Menjelang momen Idulfitri, Pertamina dipastikan telah menyiapkan skenario pendistribusian yang maksimal melalui Satgas Ramadan dan Idulfitri.
Stok di masing-masing wilayah dipastikan telah diamankan untuk mendukung kelancaran aktivitas mudik masyarakat di seluruh Indonesia.
Masyarakat diharapkan tetap tenang dan tidak perlu khawatir karena pemerintah menjamin kelancaran pasokan energi hingga hari raya mendatang.
Lihat berita terbaru lainnya di Google Berita | Bursa Nusantara
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












