Di Balik Cadangan Besar, Target Lifting Minyak Masih Tersendat
JAKARTA, BursaNusantara.com – Indonesia masih memiliki cadangan minyak bumi sekitar 4,31 miliar barel hingga Mei 2025, mencakup cadangan terbukti, mungkin, dan memungkinkan.
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menyebut cadangan gas nasional juga mencapai 51,98 triliun kaki kubik (Tcf) dalam laporan semester I-2025.
Sebanyak 165 Wilayah Kerja (WK) aktif terdiri dari 105 WK eksploitasi, 43 WK eksplorasi, 3 WK eksplorasi dalam evaluasi, dan 14 WK dalam proses terminasi.
Mayoritas WK yang dihentikan merupakan wilayah kerja migas nonkonvensional yang dinilai tidak lagi ekonomis secara teknis dan komersial.
Djoko juga memaparkan ada 3.199 struktur lapangan migas yang telah teridentifikasi baik untuk eksplorasi maupun pengembangan lanjutan.
Jumlah sumur migas yang telah dibor sejak awal industri mencapai 44.714 titik dengan total 126 play terbukti secara geologis.
Sementara itu, discovered resources tercatat mencapai 149 miliar barel ekuivalen minyak (bboe) sebagai hasil eksplorasi berbagai kontraktor.
Dalam kategori contingent resources, tercatat masih ada 1,16 miliar barel ekuivalen minyak pada tahun 2024 yang bisa dimanfaatkan jika memenuhi kelayakan teknis dan ekonomis.
SKK Migas mematok target sumber daya migas tahun 2025 sebesar 605 juta barel ekuivalen dengan outlook bisa mencapai 1,143 miliar barel ekuivalen minyak.
Meski memiliki potensi besar, realisasi lifting minyak nasional belum mampu memenuhi target APBN 2025 yang ditetapkan sebesar 605.000 bph.
Hingga 30 Juni 2025, realisasi lifting baru mencapai 578.000 barel per hari (bph) atau sekitar 95,5% dari target.
Djoko mengakui capaian tersebut sudah lebih tinggi dibanding semester I tahun lalu, namun belum menyentuh proyeksi dalam APBN.
Ia menyatakan optimisme bahwa target akan tercapai di akhir tahun, seiring peningkatan produksi dari beberapa lapangan baru.
Produksi minyak mulai menunjukkan tren positif sejak Juli dengan tambahan antara 100 hingga 200 bph secara bertahap.
Kontribusi signifikan datang dari lapangan Forel-Terubuk serta optimalisasi produksi Banyu Urip yang baru saja diresmikan Presiden Prabowo Subianto.
SKK Migas menilai optimalisasi lapangan yang telah berproduksi serta percepatan pengembangan lapangan baru menjadi kunci pencapaian target lifting tahunan.
Namun pertanyaan besar masih menggantung: bagaimana cadangan besar ini bisa dikonversi lebih cepat menjadi produksi riil dan meningkatkan penerimaan negara?
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.









