JAKARTA, BursaNusantara.com – Mengetahui harga wajar saham adalah langkah penting bagi investor agar dapat mengambil keputusan yang tepat dalam berinvestasi.
Saham yang dijual di bawah harga wajar disebut undervalued, sementara saham yang harganya melebihi nilai intrinsiknya disebut overvalued. Lalu, bagaimana cara menghitung harga wajar saham? Simak panduan lengkapnya berikut ini!
Mengapa Mengetahui Harga Wajar Saham Itu Penting?
1. Menghindari Saham Overvalued
Membeli saham dengan harga terlalu tinggi bisa berisiko karena harganya mungkin tidak bertahan lama. Mengetahui harga wajar membantu investor menghindari jebakan membeli saham yang sedang dalam tren naik secara tidak realistis.
2. Menemukan Saham Undervalued
Saham yang dijual di bawah harga wajarnya memiliki potensi keuntungan lebih tinggi dalam jangka panjang. Dengan memahami valuasi, investor bisa menemukan peluang investasi terbaik.
3. Menentukan Waktu Terbaik untuk Membeli
Mengetahui harga wajar memungkinkan investor menentukan kapan saat yang tepat untuk membeli saham, baik saat pasar turun maupun saat perusahaan sedang berkembang pesat.
Metode Menghitung Harga Wajar Saham
Ada beberapa metode yang digunakan untuk menilai harga wajar saham, di antaranya:
1. Metode Diskonto Arus Kas (DCF)
Metode DCF menilai saham berdasarkan proyeksi arus kas masa depan yang didiskontokan ke nilai sekarang. Rumus sederhana untuk metode ini:
Harga Wajar Saham = Dividen per Tahun / (Tingkat Diskonto – Ekspektasi Pertumbuhan)
Contoh:
- PT ABCD membagikan dividen Rp1.000 per saham per tahun
- Tingkat diskonto 12%, ekspektasi pertumbuhan 5%
- Harga wajar saham PT ABCD = 1.000 / (12% – 5%) = Rp14.285 per saham
Metode DCF memerlukan data yang lebih kompleks, tetapi dianggap sebagai pendekatan yang akurat dalam valuasi saham.
2. Metode PER (Price to Earnings Ratio)
PER membandingkan harga saham dengan laba per saham (EPS). Rumusnya:
Harga Wajar Saham = PER rata-rata industri x EPS
Contoh:
- PT AAA memiliki EPS Rp2.000
- PER industri 11,5x
- Harga wajar saham PT AAA = 11,5 x Rp2.000 = Rp23.000 per saham
3. Metode PBV (Price to Book Value)
PBV membandingkan harga saham dengan nilai buku per saham (BVPS). Rumusnya:
Harga Wajar Saham = PBV rata-rata industri x BVPS
Contoh:
- PT AAA memiliki BVPS Rp16.000
- PBV industri 2,4x
- Harga wajar saham PT AAA = 2,4 x Rp16.000 = Rp22.400 per saham
4. Membandingkan Hasil PER dan PBV
Jika hasil dari metode PER dan PBV berbeda, investor bisa menggunakan rentang harga sebagai acuan. Misalnya, jika hasil PER adalah Rp23.000 dan PBV Rp22.400, maka harga wajar saham berada dalam kisaran tersebut.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Harga Wajar Saham
1. Fundamental Perusahaan
Analisis laporan keuangan, seperti Return on Equity (RoE) dan Return on Assets (RoA), membantu menentukan valuasi saham berdasarkan kinerja perusahaan.
2. Kondisi Industri
Performa saham dalam sektor yang sama bisa dijadikan acuan untuk mengetahui apakah suatu saham murah atau mahal dibanding pesaingnya.
3. Sentimen Pasar
Faktor eksternal seperti kebijakan ekonomi, tren pasar, atau kondisi geopolitik juga memengaruhi harga wajar saham. Misalnya, krisis global dapat membuat harga saham turun meskipun secara fundamental masih kuat.
Kesimpulan
Mengetahui harga wajar saham membantu investor menghindari jebakan membeli saham yang terlalu mahal, menemukan saham yang undervalued, dan menentukan waktu terbaik untuk membeli. Metode DCF, PER, dan PBV adalah alat yang dapat digunakan untuk analisis valuasi saham secara mendalam. Dengan pendekatan ini, investor bisa lebih percaya diri dalam mengambil keputusan investasi.
Referensi:
Rivan Kurniawan. 2023. “4 Cara Menghitung Harga Wajar Saham dan Valuasinya” Rivankurniawan.com
IDX. 2024. “Cara Mengukur Harga Saham Secara Wajar, Murah atau Mahal?” Idx.co.id
Kumparan. 2024. “Cara Menghitung Harga Wajar Saham untuk Investor” Kumparan.com
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.







