Saham CDIA Melejit, Euforia Bursa Berlanjut
JAKARTA, BursaNusantara.com – Perburuan terhadap saham PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) masih terus berlangsung pasca resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia pada Rabu, 9 Juli 2025.
Saham milik taipan Prajogo Pangestu ini mencatatkan kelebihan permintaan IPO hingga 563,64 kali, menandai salah satu rekor tertinggi sepanjang sejarah pasar modal Indonesia.
Pada hari pertama perdagangan, antrian beli CDIA di harga Rp 256 per saham menembus 12,62 miliar saham, melebihi jumlah saham baru yang dilepas saat IPO sebanyak 12,5 miliar saham.
Harga saham langsung menyentuh batas auto reject atas (ARA) di hari pertama, mendorong kapitalisasi pasar CDIA naik signifikan menjadi sekitar Rp 31–33 triliun.
Nilai Valuasi dan Risiko Kenaikan yang Terlalu Cepat
Analis Senior Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas mengungkap, di harga Rp 256, valuasi CDIA berada di PE 64,54x dan PBV 2,21x, masih relatif murah dibandingkan rerata sektor infrastruktur.
Ia menekankan, meski euforia wajar terjadi, potensi aksi ambil untung tetap perlu diwaspadai mengingat struktur kepemilikan publik hanya 10 persen.
Kondisi itu membuat pergerakan harga bisa sangat fluktuatif dan rentan terhadap lonjakan atau koreksi ekstrem.
Sukarno juga mengingatkan bahwa tanpa katalis lanjutan, reli harga saham berisiko menjadi bubble valuasi.
Komitmen Jangka Panjang dan Strategi Bisnis
Presiden Direktur CDIA Fransiskus Ruly Aryawan menyatakan bahwa pencatatan saham perdana merupakan fondasi penting bagi strategi ekspansi jangka panjang.
Perseroan fokus pada penguatan layanan logistik, kepelabuhanan, energi, dan pengelolaan air yang terintegrasi secara strategis di kawasan Asia Tenggara.
Dana IPO senilai Rp 2,37 triliun akan digunakan untuk mempercepat pengembangan proyek dan memperkuat anak usaha di sektor logistik serta penyimpanan.
Ruly menegaskan komitmen CDIA untuk menjadi mitra pertumbuhan bagi industri nasional melalui solusi infrastruktur berkelanjutan.
Daya Tarik Investor dan Potensi Masuk Indeks LQ45
Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai CDIA sebagai oase di tengah pasar yang stagnan, dengan potensi harga melampaui Rp 2.000 dalam waktu dekat.
Fundamental kuat, ditopang pendapatan berulang dari pelabuhan dan energi, menjadikan saham ini pilihan utama bagi investor jangka menengah-panjang.
Jika kelak CDIA masuk indeks utama seperti LQ45, rerating valuasi bisa terbuka lebar, terutama saat proyek Grup Barito mulai terealisasi.
Namun, Topan juga menyoroti bahwa reli tajam dalam waktu singkat bisa membuat valuasi menjadi premium dan memicu tekanan koreksi.
Rekor Sejarah IPO dan Euforia yang Tak Terbendung
Founder Stocknow.id Hendra Wardana menyebut CDIA mencetak sejarah sebagai salah satu IPO paling diminati di BEI dengan partisipasi lebih dari 400 ribu investor.
Antrean beli mencapai 126 juta lot dan harga di pasar negosiasi sempat menyentuh Rp 1.215 per saham, mencerminkan ekspektasi tinggi terhadap prospek jangka panjang emiten ini.
Hendra menilai CDIA bukan sekadar fenomena sesaat, tapi kandidat kuat sebagai bintang baru bursa dengan peluang lonjakan harga ke Rp 500 hingga Rp 1.000.
Namun, ia juga mengingatkan potensi tekanan jual dari investor institusi awal serta risiko eksekusi proyek yang ambisius.
Optimisme Konservatif dan Sentimen Nama Besar
Investment Analyst Edvisor Provina Visindo Indy Naila menyebut CDIA tetap menarik secara fundamental, meski saat ini valuasinya premium dibanding emiten transportasi lain.
Indy memproyeksikan harga bisa bergerak konservatif di kisaran Rp 700–1.000, dengan prospek positif jangka menengah panjang jika ekspansi berjalan lancar.
Ia juga menyoroti bahwa nama besar Prajogo Pangestu menjadi magnet utama yang mendongkrak sentimen investor terhadap saham CDIA.
Kendati demikian, ia mengingatkan pentingnya memantau strategi ekspansi dan kinerja keuangan secara berkala agar tidak terjebak euforia semata.
Momentum Strategis Emiten Infrastruktur Masa Depan
Senior Analyst Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas menegaskan, kombinasi fundamental kuat, leverage rendah, dan kekuatan nama grup induk menjadikan CDIA sebagai pilihan utama investor.
Ia memperkirakan, penguatan saham masih berpotensi berlanjut selama volume perdagangan tetap tinggi dan tidak terjadi aksi distribusi besar.
Namun, ia juga menekankan pentingnya kehati-hatian dalam menyikapi harga pasar yang bergerak cepat, terutama bagi investor yang baru masuk pasca IPO.
CDIA kini berada di panggung utama bursa sebagai simbol transformasi sektor infrastruktur nasional dan menjadi emiten yang paling disorot tahun ini.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












