HeadlinePasarSaham

CDIA Rebound Tajam Usai ARB Beruntun, Akumulasi Misterius di Tengah FCA

126
CDIA Rebound Tajam Usai ARB Beruntun, Akumulasi Misterius di Tengah FCA
Saham CDIA milik Prajogo Pangestu melonjak ARA setelah dua hari ARB. Aksi borong direksi dan komisaris memicu spekulasi pasar di tengah status pemantauan.

Aksi Beli Internal Picu Rebound CDIA di Tengah Papan Pemantauan

JAKARTA, BursaNusantara.com – Saham PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) tiba-tiba menyala terang di tengah keremangan status pemantauan khusus Bursa Efek Indonesia (BEI), setelah menorehkan lonjakan 9,76% dan menyentuh auto reject atas (ARA) pada Jumat (1/8/2025).

Perdagangan saham CDIA hari itu mencapai volume 83,39 juta lembar dengan frekuensi tinggi sebanyak 26.697 kali, dan nilai transaksi menembus Rp 134,32 miliar hanya dalam satu hari.

Padahal, dua hari sebelumnya saham emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu itu sempat terkapar—membentuk auto reject bawah (ARB) beruntun dengan koreksi 9,84% pada 30 Juli dan 10% pada 31 Juli.

Broker Semesta Borong, Investor Asing Malah Lepas

Di tengah reli mendadak ini, muncul akumulasi besar dari broker lokal Semesta Indovest Sekuritas dengan nilai net buy fantastis mencapai Rp 47,8 miliar.

Ironisnya, investor asing justru memanfaatkan reli ini untuk melakukan net sell senilai Rp 6,49 miliar terhadap saham anak usaha PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) tersebut.

Aksi ini memunculkan pertanyaan besar di kalangan pelaku pasar, apakah kenaikan CDIA bersifat fundamental atau hanya anomali sementara di tengah status pemantauan BEI.

Pasalnya, saham CDIA tidak hanya ramai di pasar reguler, namun juga aktif di pasar negosiasi. Transaksi di luar bursa mencatatkan kisaran harga antara Rp 910 hingga Rp 2.000, memicu spekulasi bahwa harga Rp 2.000 bisa saja tertembus dalam waktu dekat.

Direksi dan Komisaris Kompak Borong Saham

Tak berhenti pada aksi broker, lonjakan CDIA juga dibumbui fakta mengejutkan: para pejabat internal perusahaan melakukan aksi beli yang masif.

Direktur Agus Lukmanul Hakim melakukan pembelian 1,5 juta saham pada 25 Juli 2025 di harga Rp 1.290 per saham, dengan total nilai transaksi Rp 1,93 miliar.

Uniknya, sebelum transaksi ini, Agus tidak menggenggam satu lembar pun saham CDIA. Aksi tersebut langsung menjadikannya pemegang 0,001% saham perseroan.

Langkah serupa dilakukan Direktur Merly yang membeli 4 juta saham CDIA sehari sebelumnya, dengan nilai Rp 5,16 miliar. Sama seperti Agus, Merly sebelumnya juga bukan pemegang saham dan kini memiliki 0,003%.

Lebih dulu dari keduanya, Komisaris Andre Khor Kah Hin bahkan melakukan pembelian signifikan pada 18 Juli 2025 sebanyak 15 juta saham di harga hanya Rp 800 per saham. Nilai transaksinya menembus Rp 12 miliar dan mengangkat posisinya sebagai pemilik 0,012% saham.

Strategi atau Sinyal? Pasar Dibayangi Dua Kemungkinan

Aksi borong oleh jajaran direksi dan komisaris ini membuka dua interpretasi tajam di kalangan analis dan pelaku pasar.

Pertama, adanya keyakinan dari internal manajemen terhadap prospek fundamental CDIA yang bisa jadi belum sepenuhnya terbaca publik.

Kedua, tidak sedikit pula yang menilai ini sebagai strategi psikologis untuk menahan tekanan jual dan memancing likuiditas di tengah tekanan status “papan pemantauan khusus” yang biasanya mengikis kepercayaan investor ritel.

Apalagi dengan dinamika harga pasar negosiasi yang mencapai Rp 2.000, sebagian pelaku pasar mencium aroma permainan harga (price engineering) yang bisa jadi melibatkan pihak tertentu dengan kepentingan lebih besar dari sekadar trading harian.

Bursa dan OJK Didesak Awasi Pergerakan CDIA Lebih Ketat

Menguatnya CDIA di tengah sorotan pemantauan khusus membuat sebagian analis menyerukan perlunya pengawasan lebih ketat oleh otoritas.

Pasar menunggu apakah lonjakan ini akan berlanjut menuju breakout harga psikologis Rp 2.000, atau justru menjadi “bull trap” baru yang bisa mencederai kepercayaan investor, terutama ritel.

Di tengah ketidakpastian sentimen dan gejolak yang tidak lepas dari campur tangan pihak internal, pergerakan CDIA kini menjadi sorotan tajam bukan hanya dari sisi teknikal, tapi juga integritas pasar secara keseluruhan.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Grafik tidak tersedia karena JavaScript dinonaktifkan di browser Anda.
×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version