Geser Kebawah
Internasional

China Respon Kebijakan AS dengan Tarif 15%, Perang Dagang II Kian Memanas

230
×

China Respon Kebijakan AS dengan Tarif 15%, Perang Dagang II Kian Memanas

Sebarkan artikel ini
China Respon Kebijakan AS dengan Tarif 15%, Perang Dagang II Kian Memanas
China menaikkan tarif impor barang AS hingga 15% dan membatasi ekspor ke 15 perusahaan AS, meningkatkan ketegangan Perang Dagang II.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China kembali meningkat. Pemerintah China secara resmi memberlakukan tarif tambahan sebesar 15% terhadap barang impor dari AS mulai 10 Maret 2025, sekaligus membatasi ekspor ke 15 perusahaan AS sebagai bentuk pembalasan terhadap kebijakan tarif AS.

Keputusan ini diumumkan oleh Kementerian Keuangan dan Kementerian Perdagangan China pada Selasa (4/3/2025), bertepatan dengan efektifnya tarif baru AS terhadap barang-barang China. Dengan langkah ini, Perang Dagang II antara kedua negara ekonomi terbesar dunia semakin meruncing.

Sponsor
Iklan

China Perketat Regulasi Perdagangan

China menargetkan barang-barang utama asal AS, terutama produk pertanian. Jagung dan kedelai menjadi komoditas utama yang terkena dampak, masing-masing dikenakan bea masuk sebesar 15% dan 10%. Langkah ini dipastikan akan menghambat ekspor komoditas pertanian AS yang sebelumnya sangat bergantung pada pasar China.

Selain itu, China juga menindak 15 perusahaan AS dengan membatasi ekspor ke perusahaan tertentu, di antaranya Leidos dan General Dynamics Land Systems. Kedua perusahaan tersebut bergerak di sektor pertahanan dan teknologi, yang sebelumnya memiliki hubungan dagang strategis dengan China.

“Hubungan China dengan AS pasti akan mengalami perselisihan, tetapi China tidak akan menerima tekanan atau ancaman,” ujar Lou Qinjian, juru bicara Kongres Rakyat Nasional ke-14, dalam pernyataannya terkait kebijakan tarif ini.

Respons AS: Tarif 10% Berlaku Hari Ini

Gedung Putih telah mengonfirmasi bahwa tarif baru sebesar 10% terhadap barang-barang China mulai berlaku pada Selasa (4/3/2025). Dalam kurun waktu satu bulan, total tarif tambahan yang dikenakan AS terhadap China telah mencapai 20%, memperburuk hubungan bilateral kedua negara.

Menanggapi kebijakan tarif AS, Kementerian Perdagangan China menyatakan bahwa negaranya “dengan tegas menolak” kebijakan tersebut. China menilai langkah AS dapat merusak hubungan perdagangan bilateral dan mendesak Washington untuk membatalkan keputusan tersebut.

“Bea masuk tambahan AS akan merusak hubungan perdagangan kedua negara. Kami mendesak AS untuk menarik kembali keputusan tarifnya agar tidak memperburuk situasi,” tulis Kementerian Perdagangan China dalam pernyataan resminya.

Eskalasi Perang Dagang II: Risiko dan Dampak Global

Menurut Frederique Carrier, Kepala Strategi Investasi di RBC Wealth Management, kebijakan saling balas tarif ini menimbulkan risiko eskalasi yang lebih luas. Ia menyebut bahwa negara-negara lain seperti Kanada dan Meksiko juga berpotensi ikut terdampak akibat kebijakan proteksionisme ini.

“Perang dagang membawa risiko pembalasan dan eskalasi. Negara-negara yang terkena tarif seperti China, Kanada, dan Meksiko mungkin akan merespons dengan tindakan yang lebih agresif,” ungkap Carrier.

Sejak Februari 2025, AS telah menaikkan tarifnya terhadap barang-barang China dalam dua tahap. Sebagai balasan, China tidak hanya menaikkan tarif terhadap impor energi dari AS tetapi juga memasukkan dua perusahaan AS ke dalam daftar hitam perdagangan. Tindakan ini membatasi mereka dalam melakukan bisnis di China.

Bagaimana Dampaknya bagi Ekonomi Global?

Tarif yang saling diberlakukan antara AS dan China memberikan efek domino bagi ekonomi global, khususnya dalam beberapa aspek berikut:

1. Lonjakan Tarif dan Biaya Produksi

Tarif baru dari AS menyebabkan rata-rata bea masuk atas barang-barang China naik hingga 33%, dibandingkan 13% sebelum Presiden AS Donald Trump kembali menjabat pada Januari 2025. Hal ini berdampak langsung pada harga barang dan rantai pasokan global.

2. Penurunan Ekspor Produk Pertanian AS

China merupakan importir utama produk pertanian AS, terutama kacang kedelai, yang mencakup 1,2% dari total ekspor AS atau senilai US$22,3 miliar pada 2023. Kini, tarif tinggi yang dikenakan China akan mengurangi daya saing produk-produk pertanian AS di pasar global.

3. Gangguan di Sektor Energi dan Farmasi

Selain pertanian, ekspor minyak dan gas AS ke China yang sebelumnya mencapai US$19,3 miliar (1% dari total ekspor AS) juga terancam. Sektor farmasi pun ikut terdampak dengan nilai ekspor yang mencapai US$15,6 miliar (0,8%).

Kesimpulan: Perang Dagang II Masuki Babak Baru

Perang Dagang II antara AS dan China kini memasuki fase yang semakin intensif. Kebijakan tarif yang saling balas memperburuk hubungan perdagangan, menciptakan ketidakpastian ekonomi global, dan berpotensi mengganggu rantai pasokan internasional.

Investor dan pelaku pasar perlu mencermati perkembangan terbaru serta dampaknya terhadap ekonomi dunia. Jika ketegangan ini terus berlanjut tanpa adanya kesepakatan dagang, maka bukan tidak mungkin akan terjadi krisis perdagangan yang lebih luas dalam waktu dekat.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru