KomoditasPasar

CPO Siap Nanjak ke 4.350 Ringgit, Ditopang Impor India dan Konflik Timur Tengah

98
CPO Siap Nanjak ke 4.350 Ringgit, Ditopang Impor India dan Konflik Timur Tengah
Harga CPO diprediksi menembus 4.350 ringgit per ton didorong lonjakan permintaan India dan sentimen geopolitik Timur Tengah.

Permintaan Global & Geopolitik Dorong Optimisme Harga CPO

JAKARTA, BursaNusantara.com – Harga minyak kelapa sawit mentah (CPO) kembali menunjukkan kekuatan tren bullish di pekan ini dengan pergerakan mendekati level resistance penting.

Dukungan utama datang dari ekspektasi penurunan produksi CPO Indonesia yang diperkirakan mencapai 1,5 juta ton sepanjang tahun ini.

Perkiraan tersebut berasal dari proyeksi terbaru Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) yang melihat konsumsi domestik CPO tumbuh signifikan hingga 7,4% per tahun.

Dengan pasokan yang semakin terbatas dan konsumsi dalam negeri yang melonjak, pasar global pun mulai merespons dengan peningkatan harga.

Kondisi itu secara langsung mengurangi volume ekspor CPO dari Indonesia, negara produsen terbesar di dunia.

Ekspor Malaysia Naik Tajam

Sentimen positif lainnya datang dari Malaysia yang mencatat lonjakan ekspor CPO sebesar 26,3% selama paruh pertama bulan Juni.

Angka ini menjadi indikator bahwa permintaan minyak nabati di pasar internasional tengah menguat tajam.

Analis ICDX Girta Yoga menilai bahwa momentum ini menunjukkan arah tren global yang kembali pro-CPO, setelah sempat stagnan akibat fluktuasi harga minyak dunia dan ketegangan geopolitik.

Pasar mulai memberi respons terhadap sinyal pemulihan ekonomi di negara-negara konsumen utama.

India dan China Kembali Jadi Motor Utama

India berpeluang kembali menjadi katalis utama permintaan CPO setelah pemerintah negara itu memangkas tarif bea masuk CPO hingga 50% pada akhir bulan lalu.

Kebijakan tersebut memicu peningkatan minat impor dari pelaku industri India yang memanfaatkan harga efisien untuk memenuhi kebutuhan nasional.

Sementara itu, dari China, belum adanya kejelasan mengenai tarif impor kedelai dari Amerika Serikat membuka peluang bagi CPO untuk mengisi celah permintaan minyak nabati.

Kondisi tersebut dinilai sangat menguntungkan produsen CPO Asia Tenggara, terutama Malaysia dan Indonesia.

Pengaruh Geopolitik dan Harga Minyak Dunia

Yoga menambahkan, eskalasi konflik antara Israel dan Iran ikut memperkuat harga CPO akibat melonjaknya harga minyak mentah dunia.

Kenaikan harga minyak mentah secara historis selalu berdampak pada peningkatan minat terhadap minyak nabati sebagai bahan baku alternatif energi.

CPO dan minyak kedelai kerap dijadikan bahan baku biodiesel dalam skenario harga minyak fosil yang mahal.

Hal inilah yang turut mendorong ekspektasi pasar bahwa permintaan biofuel akan kembali meningkat signifikan di semester kedua 2025.

Proyeksi Teknis dan Arah Pasar

Secara teknikal, Girta Yoga memproyeksikan harga CPO akan bergerak menuju resistance di kisaran 4.200 hingga 4.350 Ringgit Malaysia per ton.

Namun jika muncul katalis negatif, potensi koreksi masih terbuka dengan support pada kisaran 4.100 hingga 3.950 Ringgit Malaysia per ton.

Pergerakan harga pekan lalu mencatat penguatan sebesar 1,25%, sedangkan sepanjang Juni ini, CPO naik signifikan 6,86%.

Meski begitu, secara year-to-date (ytd), tren harga CPO masih menunjukkan pelemahan sebesar 6,75%.

Dengan sentimen yang terus berkembang dan dukungan dari fundamental pasar yang kuat, arah harga CPO pekan ini bakal ditentukan oleh respons pasar terhadap kondisi pasokan dan kebijakan perdagangan global.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version