Ekonomi Makro

CSIS: Target Pertumbuhan Ekonomi 5,4% di RAPBN 2026 Terlalu Optimistis

333
CSIS Target Pertumbuhan Ekonomi 5,4% di RAPBN 2026 Terlalu Optimistis
CSIS menilai target pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,4% di RAPBN 2026 sulit tercapai karena tekanan global dan anjloknya harga komoditas utama ekspor.

Target Ekonomi Pemerintah Dipertanyakan

JAKARTA, BursaNusantara.com – Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,4% dalam RAPBN 2026 memicu perdebatan, sebab sejumlah analis menilai target tersebut terlalu ambisius di tengah tekanan harga komoditas global.

Direktur Eksekutif CSIS Yose Rizal Damuri menegaskan, turunnya harga batu bara, nikel, gas, serta CPO akan berdampak besar terhadap penerimaan negara karena empat komoditas ini menyumbang sekitar 40% ekspor Indonesia.

Menurutnya, penerimaan fiskal pada 2022–2024 sangat terbantu oleh pajak ekspor, sehingga penurunan harga komoditas kini menjadi ancaman serius bagi ruang fiskal pemerintah.

Yose menyebut bahwa bila harga komoditas terus melandai, pertumbuhan ekonomi sulit dipacu hingga menyentuh 5,4% seperti optimisme pemerintah dalam RAPBN 2026.

Proyeksi Global Lebih Rendah

CSIS menilai proyeksi pemerintah lebih tinggi dibandingkan perkiraan IMF yang mematok pertumbuhan Indonesia 2026 hanya 4,8%.

Selain itu, IMF juga memangkas outlook pertumbuhan ekonomi dunia menjadi 3,1% pada laporan terbaru, lebih pesimistis dari perkiraan awal 3,3%.

Yose menegaskan jarak antara proyeksi IMF dan target RAPBN terlalu lebar, sehingga berisiko menimbulkan gap ekspektasi kebijakan fiskal.

Kondisi tersebut membuat kredibilitas perencanaan fiskal pemerintah bisa dipertanyakan jika realisasi pertumbuhan jauh di bawah target.

Faktor Domestik dan Eksternal

Selain pelemahan harga komoditas, faktor eksternal lain seperti ketidakpastian kebijakan suku bunga global juga akan menentukan arah ekonomi Indonesia.

Dari sisi domestik, kebutuhan belanja negara meningkat tajam seiring janji politik pemerintahan baru, sehingga ruang fiskal untuk stimulus terbatas.

Yose menekankan bahwa ketahanan fiskal tidak cukup kuat bila terlalu bergantung pada penerimaan komoditas yang sangat fluktuatif.

Pemerintah, kata dia, perlu memfokuskan diversifikasi basis penerimaan dan memperkuat industri pengolahan agar tidak terjebak dalam siklus harga komoditas.

Optimisme Pemerintah

Meski berbagai lembaga internasional memproyeksi lebih rendah, Presiden Prabowo Subianto tetap yakin target 5,4% realistis dengan pengelolaan fiskal yang disiplin.

Dalam pidato RAPBN 2026 di hadapan DPR, Prabowo menyebut Indonesia masih memiliki momentum pertumbuhan dengan asumsi makro stabil.

Ia menegaskan pertumbuhan 2026 bisa mencapai 5,4% atau lebih, dengan syarat belanja negara diarahkan pada sektor produktif dan penciptaan lapangan kerja.

Namun, analis menilai optimisme pemerintah harus diimbangi dengan strategi antisipatif jika ketidakpastian global kembali menekan ekspor.

Jalan Panjang Mencapai Target

Target pertumbuhan 5,4% memang memberi sinyal kepercayaan diri pemerintah, tetapi sekaligus mengundang tantangan besar dalam realisasinya.

Ketergantungan pada ekspor komoditas membuat proyeksi pertumbuhan sangat rentan terhadap gejolak pasar global.

Sementara ruang fiskal terbatas, kebutuhan pembiayaan infrastruktur dan program populis terus meningkat.

Kondisi ini membuat target ambisius pemerintah harus dibuktikan dengan kebijakan konkret yang mampu menjaga stabilitas fiskal sekaligus menumbuhkan daya saing ekonomi.

×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version