Peran Danantara Jadi Katalis Investasi Nasional
JAKARTA, BursaNusantara.com – Di tengah perlambatan konsumsi rumah tangga dan tekanan fiskal negara, kehadiran Badan Pengelola Investasi Danantara menjadi tumpuan baru untuk menjaga pertumbuhan ekonomi tetap stabil.
Dengan rasio investasi terhadap PDB masih di bawah 30%, daya dorong Danantara sebagai sovereign wealth fund Indonesia harus ditingkatkan secara signifikan.
Setoran dividen BUMN sekitar Rp80 – 100 triliun per tahun dinilai belum cukup untuk mengangkat laju pertumbuhan menuju target 8% pada 2029.
Agar efektif, investasi Danantara perlu diperluas hingga mencapai Rp300 triliun dengan menggandeng mitra strategis domestik dan global.
Strategi Gandeng Swasta dan Investor Global
Danantara perlu keluar dari ketergantungan pada dana BUMN dan menggandeng sektor swasta sebagai mitra investasi jangka panjang.
Kerja sama dengan ACWA Power senilai US$10 miliar untuk proyek EBT adalah langkah awal membuka keran pendanaan global.
Upaya pendekatan ke Blackrock juga menunjukkan arah strategis Danantara untuk menjemput modal dari manajer aset internasional.
Jika berhasil, Danantara bisa menghindari risiko crowding out serta menjadi katalis nyata investasi Indonesia.
Investasi Selektif dan Fokus Sektor Masa Depan
Analis menyarankan agar Danantara menghindari sektor fosil dan proyek gasifikasi yang tak lagi relevan secara global.
Fokus diarahkan pada proyek EBT, kimia hijau, dan sektor bernilai tambah seperti hilirisasi dan perumahan rakyat.
Investasi awal ke Chandra Asri dan restrukturisasi Garuda Indonesia menunjukkan langkah taktis, meski potensi jangka pendeknya belum besar.
Namun secara jangka menengah, Danantara dipandang sebagai pengungkit baru pertumbuhan melalui proyek konkret dan terukur.
Menuju Rasio Investasi 36–38% dari PDB
Presiden Prabowo disebut harus mendorong peningkatan rasio investasi nasional ke atas 36% dari PDB agar target 8% tercapai.
Belajar dari China dan India, yang mampu menjaga pertumbuhan tinggi melalui dominasi investasi, Danantara menjadi kendaraan kunci Indonesia.
Ekonom Herry Gunawan menegaskan pentingnya proyek dengan underlying jelas, bukan sekadar janji diplomasi.
Sementara Wijayanto Samirin mengingatkan bahwa orientasi Danantara harus jangka panjang, bukan sekadar mengejar return cepat.
Sinergi Kemenkeu Dorong Peran Danantara
Menkeu Sri Mulyani menegaskan bahwa Danantara harus mengakselerasi partisipasi sektor swasta, bukan menggantikannya.
Jika gagal menarik swasta, potensi crowding out bisa terjadi dan menekan efektivitas Danantara di pasar investasi nasional.
Febrio Kacaribu menambahkan, Danantara akan menjadi pendekatan baru dalam skema fiskal untuk mendorong investasi berkelanjutan.
Danantara bukan sekadar instrumen keuangan negara, tapi menjadi jembatan antara modal dan proyek yang menghasilkan nilai ekonomi riil.
Catatan Redaksi:
Danantara tak cukup hanya menjadi simbol, tapi harus menjadi aktor nyata dalam perubahan arah investasi Indonesia. BursaNusantara.com akan terus memantau efektivitas kebijakan ini ke depan.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.











