Geser Kebawah
PasarSaham

Danantara Diresmikan, Saham Bank BUMN Justru Terkoreksi

113
×

Danantara Diresmikan, Saham Bank BUMN Justru Terkoreksi

Sebarkan artikel ini
Danantara Diresmikan, Saham Bank BUMN Justru Terkoreksi
Peluncuran Danantara oleh Prabowo belum beri respons positif; saham BUMN mayoritas turun tajam, hanya BBRI sedikit menghijau, dampak pasar masih belum optimal.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Presiden Prabowo Subianto secara resmi telah meluncurkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) pada Senin (24/2/2025). Badan baru ini dirancang untuk mengelola investasi strategis di berbagai sektor, termasuk bank-bank BUMN.

Namun, peluncuran Danantara tampaknya tidak memberikan dampak positif yang signifikan bagi pergerakan saham bank BUMN. Hingga perdagangan sesi I di Senin, mayoritas saham bank pelat merah menunjukkan tren koreksi.

Sponsor
Iklan

Dampak Peluncuran Danantara pada Saham Bank BUMN

Kinerja Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)

Saham BMRI, bank berlogo pita emas, tercatat mengalami koreksi paling dalam di antara bank-bank pelat merah. Harga saham BMRI turun 1,48% dari harga akhir pekan lalu menjadi Rp5.000 per saham.

Data menunjukkan bahwa dalam sebulan terakhir, saham BMRI telah terkoreksi hingga 18,37%. Penurunan tajam ini menunjukkan adanya tekanan signifikan yang masih membayangi pasar saham BMRI meskipun peluncuran Danantara diharapkan sebagai katalis investasi strategis.

Kinerja Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI)

Sementara itu, harga saham BBNI juga mengalami pelemahan. Pada sesi perdagangan pertama awal pekan ini, saham BBNI turun 1,40% dari harga akhir pekan, mencapai Rp4.240 per saham. Selama sebulan terakhir, saham BBNI telah terkoreksi sebesar 8,03%.

Penurunan ini mencerminkan sentimen negatif yang masih melingkupi sektor perbankan, meskipun adanya potensi sinergi melalui pengelolaan oleh Danantara.

Pergerakan Saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI)

Berbeda dengan BMRI dan BBNI, harga saham BBTN cenderung stagnan dan masih berada di level Rp935 per saham. Namun, dalam sebulan terakhir, saham BBTN mengalami koreksi sekitar 12,21%, menunjukkan penurunan kinerja yang signifikan meski tidak ada perubahan harga pada sesi perdagangan awal pekan ini.

Sementara itu, saham BBRI menjadi satu-satunya bank pelat merah yang menunjukkan tren positif. Hingga akhir perdagangan sesi I, saham BBRI menguat 0,51% menjadi Rp3.910 per saham.

Meski demikian, dalam sebulan terakhir, saham BBRI masih terkoreksi sekitar 6,68%, menandakan adanya tekanan pasar yang juga dirasakan oleh bank terbesar ini.

Analisis dan Implikasi Terhadap Pasar

Tekanan Pasar dan Respons Investor

Meskipun peluncuran Danantara diharapkan dapat mendorong investasi strategis dan mengoptimalkan pengelolaan aset nasional, realitas pasar menunjukkan bahwa ekspektasi investor belum terpenuhi.

Tekanan pada saham bank BUMN, terutama BMRI dan BBNI, mengindikasikan adanya kekhawatiran mengenai dampak sinergi dari badan baru ini terhadap kinerja keuangan dan manajemen risiko yang masih perlu diperkuat.

Investor asing yang aktif melakukan aksi jual, meskipun terdapat pembelian net buy pada beberapa saham, menandakan adanya ketidakpastian dalam menghadapi pergerakan pasar yang cukup volatil.

Tantangan dan Harapan ke Depan

Kondisi pasar yang masih menunjukkan tren koreksi menuntut bank-bank pelat merah untuk terus meningkatkan kinerja dan efisiensi operasional mereka.

Dengan peluncuran Danantara, diharapkan akan tercipta sinergi yang lebih baik dalam mengelola investasi nasional, meskipun dalam jangka pendek, fluktuasi harga saham mungkin masih berlanjut.

Para analis menyarankan agar strategi perbaikan tata kelola dan peningkatan manajemen risiko menjadi fokus utama, sehingga dampak negatif dari tekanan pasar bisa diminimalisir. Langkah strategis ini juga harus didukung oleh komunikasi yang transparan dari manajemen bank dan badan pengelola investasi.

Peluncuran BPI Danantara oleh Presiden Prabowo Subianto merupakan inisiatif strategis untuk mengoptimalkan pengelolaan investasi nasional, termasuk perbankan BUMN.

Namun, hingga perdagangan sesi I, mayoritas saham bank BUMN seperti BMRI dan BBNI menunjukkan tren koreksi yang signifikan, sementara BBRI menjadi satu-satunya yang sedikit menghijau.

Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah sinergi yang diharapkan akan segera terwujud atau justru memberikan dampak negatif dalam jangka pendek. Evaluasi lebih lanjut serta strategi perbaikan tata kelola diharapkan dapat mengatasi ketidakpastian ini dan mendukung pertumbuhan sektor perbankan nasional ke depannya.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.