Revolusi Transparansi Pasar Modal: Danantara Incar Kursi Pemegang Saham di Bursa Efek Indonesia
JAKARTA – Kabar besar datang dari otoritas pasar modal Indonesia. Institusi pengelola investasi negara, Danantara, secara terbuka menyatakan ketertarikannya untuk masuk ke jajaran pemegang saham Bursa Efek Indonesia (BEI).
Langkah ini akan terealisasi segera setelah proses demutualisasi bursa rampung. Rencana besar ini bertujuan untuk melepaskan ketergantungan manajemen bursa dari pengaruh dominan anggota bursa (sekuritas) dan beralih menuju model bisnis yang lebih independen dan transparan.
Oleh karena itu, transformasi ini dianggap krusial untuk menjaga integritas pasar.
Selain itu, Danantara berkomitmen mendukung penuh peningkatan transparansi informasi demi melindungi hak-hak investor ritel dan institusi secara setara.
Demutualisasi: Kunci Independensi dan Potensi IPO Bursa
Proses demutualisasi akan mengubah struktur kepemilikan bursa dari yang semula dimiliki oleh anggota bursa (perusahaan sekuritas) menjadi entitas yang lebih terbuka.
Manajemen menekankan bahwa perubahan ini akan memutus bargaining power berlebih dari pihak sekuritas terhadap direksi bursa. Hal ini sangat penting untuk memastikan tindakan disipliner terhadap pelaku distorsi pasar dapat berjalan secara objektif.
Namun, daya tarik utama dari demutualisasi ini adalah peluang BEI untuk melakukan penawaran umum perdana atau Initial Public Offering (IPO) di masa depan.
Meskipun skema masuknya Danantara masih dikaji—apakah melalui investasi langsung atau IPO—kehadiran raksasa investasi negara ini diprediksi akan memperkuat kredibilitas bursa di mata dunia.
Target Transparansi: Free Float 15% dan Aturan Others 1%
Selain soal kepemilikan, bursa juga berencana melakukan reformasi data informasi. Salah satu poin utamanya adalah menaikkan batas free float menjadi 15%. Hal ini dilakukan untuk memastikan likuiditas pasar tetap terjaga di level yang sehat.
Strategi lainnya adalah menurunkan kriteria informasi “Others” dari 5% menjadi 1%. Langkah radikal ini bertujuan agar bursa melalui KSEI dapat mengidentifikasi Ultimate Beneficiary Owner (UBO) atau pemilik manfaat akhir dari setiap transaksi.
Dengan demikian, praktik transaksi gelap atau manipulasi pasar dapat ditekan seminimal mungkin melalui keterbukaan data yang lebih ketat.
Masa Depan Danantara: Fokus Tambang dan Sektor Strategis
Di luar isu bursa, Danantara juga memberikan sinyal mengenai ekspansi di sektor komoditas, termasuk potensi pengambilan alih tambang strategis seperti Tambang Martabe.
Meskipun masih dalam posisi menunggu, Danantara menegaskan kesiapannya untuk mengelola aset-aset negara dengan spesialisasi yang jelas, seperti pemisahan fokus antara MIND ID dan Perminas untuk mineral dan tanah jarang (rare earth).
Kesimpulannya, masuknya Danantara ke struktur bursa adalah babak baru bagi kemandirian ekonomi Indonesia.
Dengan transparansi yang lebih baik, kepercayaan investor global diharapkan meningkat tajam, menjadikan IHSG sebagai destinasi investasi yang lebih aman dan menguntungkan.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.






