Geser Kebawah
BisnisPerdagangan & Industri

Dari Raja Tekstil Hingga Bangkrut Tertimbun Utang: Pendiri Sritex

136
×

Dari Raja Tekstil Hingga Bangkrut Tertimbun Utang: Pendiri Sritex

Sebarkan artikel ini
dari raja tekstil hingga bangkrut tertimbun utang pendiri sritex kompres
Sritex, raksasa tekstil Indonesia, kini terpuruk dengan utang triliunan. Apa penyebabnya? Baca cerita lengkap perjalanan dan kisah kelam perusahaan ini.

Sosok Pendiri Sritex: Dari Raja Tekstil Hingga Bangkrut Tertimbun Utang

Sejarah Kejayaan Sritex

Sponsor
Iklan

JAKARTA, BursaNusantara.com – PT Sri Rejeki Isman Tbk. (SRIL), atau yang lebih dikenal dengan Sritex, dulunya merupakan raksasa tekstil terintegrasi terbesar di Asia Tenggara. Namun, kini perusahaan tersebut berada di ujung tanduk setelah dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Semarang, dengan putusan yang diperkuat Mahkamah Agung pada 2024. Kejatuhan Sritex ini mengejutkan banyak pihak, terutama karena sebelumnya perusahaan ini sangat dominan di industri tekstil Indonesia.

Penyebab Pailit: Kelalaian Manajemen

Menurut Menteri Ketenagakerjaan Yassierli, pailitnya Sritex disebabkan oleh kelalaian manajemen dalam memitigasi risiko keuangan. Ini mengakibatkan utang perusahaan yang terus menumpuk. Hingga September 2022, total liabilitas Sritex tercatat mencapai US$1,6 miliar atau sekitar Rp25,9 triliun. Kejatuhan ini juga menciptakan dampak sosial yang besar, dengan 10.000 buruh Sritex berencana melakukan aksi unjuk rasa di Jakarta pada Januari 2025, guna menuntut perhatian atas nasib mereka.

Perjuangan Haji Muhammad Lukminto: Dari Pedagang ke Raksasa Tekstil

Sukses Sritex tidak terlepas dari perjuangan keras Haji Muhammad Lukminto, sang pendiri. Lahir pada 1 Juni 1946, Lukminto, yang juga dikenal dengan nama Le Djie Shin, memulai bisnis tekstilnya sejak usia muda. Dia mulai berjualan tekstil di pasar Solo pada usia 20-an, dan pada tahun 1966, di usianya yang ke-26, ia membuka kios pertama yang diberi nama UD Sri Redjeki di Pasar Klewer. Kios kecil itu menjadi titik awal kebesaran Sritex.

Dalam waktu dua tahun, Lukminto berhasil mendirikan pabrik pertama yang memproduksi kain untuk pasar lokal di Solo. Pabrik ini kemudian berkembang pesat menjadi PT Sri Rejeki Isman, yang didirikan pada 1980 dan menjelma menjadi salah satu pemain dominan di industri tekstil Indonesia dan Asia Tenggara.

Keberhasilan Sritex di Masa Orde Baru

Kunci sukses Sritex sangat terkait dengan kedekatan Lukminto dengan pemerintah Orde Baru, terutama dengan Presiden Soeharto dan keluarga Cendana. Menurut laporan Tempo dalam buku Prahara Orde Baru (2013), Sritex mendapatkan banyak keuntungan berkat perlindungan dari keluarga Soeharto dan dukungan Menteri Penerangan Harmoko, yang merupakan sahabat kecil Lukminto.

Pada masa Orde Baru, Sritex memenangkan tender besar, termasuk pengadaan seragam batik untuk Korpri, Golkar, dan ABRI pada tahun 1990-an. Dukungan dari pemerintah ini membuat Sritex mampu menguasai pasar tekstil domestik dan internasional, serta memperoleh keuntungan besar dalam bentuk uang dan dolar.

Kehancuran yang Tak Terduga: Kelalaian Manajemen dan Utang Menumpuk

Meskipun pada awalnya meraih kesuksesan besar, manajemen Sritex ternyata gagal menjaga kestabilan finansial perusahaan. Pada 2024, setelah utang yang menggunung dan keputusan yang salah dalam pengelolaan risiko keuangan, Sritex akhirnya dinyatakan pailit. Hal ini tidak hanya berdampak pada perusahaan dan manajernya, tetapi juga para buruh yang menggantungkan nasib pada perusahaan tersebut. Dalam menghadapi keputusan pailit ini, 10.000 buruh Sritex berencana menggelar aksi unjuk rasa di Jakarta, menuntut keadilan terkait masa depan mereka.

Kisah Inspiratif dan Perjalanan Panjang Sritex

Meski kini terpuruk, perjalanan Sritex adalah sebuah kisah inspiratif tentang bagaimana usaha keras dan kerja sama dengan pemerintah dapat membawa kesuksesan. Namun, ini juga menjadi pelajaran penting bahwa tanpa pengelolaan risiko yang baik, kesuksesan pun bisa berakhir tragis. Kini, dunia industri tekstil Indonesia harus menghadapi kenyataan pahit bahwa Sritex, yang pernah berjaya, kini harus merasakan dampak dari kelalaian dalam pengelolaan utang dan risiko finansial.


Dengan artikel ini, diharapkan pembaca dapat memahami lebih dalam mengenai penyebab kebangkrutan Sritex dan perjalanan panjang sang pendiri, Haji Muhammad Lukminto. Kejayaan yang pernah diraih kini menjadi kenangan, namun perjalanannya tetap menjadi pelajaran berharga bagi pengusaha dan manajer di Indonesia.