Geser Kebawah
Ekonomi Makro

Defisit APBN Februari 2025 Rp31,2 Triliun, Stabil atau Mengkhawatirkan?

98
×

Defisit APBN Februari 2025 Rp31,2 Triliun, Stabil atau Mengkhawatirkan?

Sebarkan artikel ini
Defisit APBN Februari 2025 Rp312 Triliun Stabil Atau Mengkhawatirkan
Defisit APBN Februari 2025 mencapai Rp31,2 triliun atau 0,13% dari PDB. Meski demikian, keseimbangan primer masih surplus Rp48,1 triliun.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Kementerian Keuangan melaporkan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengalami defisit sebesar Rp31,2 triliun hingga akhir Februari 2025. Defisit ini setara dengan 0,13% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), masih dalam batas yang ditetapkan dalam desain APBN 2025.

Defisit APBN dalam Target Pemerintah

Meskipun defisit pada Februari 2025 meningkat, realisasi tersebut masih sesuai dengan rencana APBN 2025 yang menargetkan defisit sebesar Rp616,2 triliun atau sekitar 2,53% dari PDB. Artinya, kondisi fiskal pemerintah masih dalam kendali dan tidak melampaui batas yang ditetapkan.

Sponsor
Iklan

Defisit APBN terjadi ketika pendapatan negara lebih kecil dibandingkan pengeluaran pemerintah. Namun, dalam laporan Kementerian Keuangan, keseimbangan primer masih mencatat surplus sebesar Rp48,1 triliun. Ini menunjukkan bahwa sebelum pembayaran bunga utang, pemerintah masih memiliki kelebihan pendapatan.

Pendapatan Negara Hingga Februari 2025

Hingga akhir Februari 2025, pendapatan negara tercatat mencapai Rp316,9 triliun atau setara dengan 10,5% dari total APBN. Sumber pendapatan utama terdiri dari:

  • Pajak
  • Bea dan Cukai
  • Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)

Pendapatan ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi masih berjalan dengan baik, meskipun defisit tetap terjadi karena pengeluaran pemerintah yang lebih besar.

Faktor Penyebab Defisit di Awal Tahun

Menurut Kementerian Keuangan, defisit APBN yang terjadi di awal 2025 merupakan yang pertama kali setelah APBN mencatat surplus sejak 2021. Beberapa faktor utama yang memicu terjadinya defisit antara lain:

1. Peningkatan Belanja Pemerintah

Pemerintah meningkatkan belanja negara untuk mendukung program prioritas, termasuk subsidi energi, bantuan sosial, dan pembangunan infrastruktur.

2. Dampak Ekonomi Global

Ketidakpastian ekonomi global turut mempengaruhi penerimaan negara, terutama dari sektor ekspor dan industri manufaktur.

3. Fluktuasi Penerimaan Pajak

Meski penerimaan pajak mengalami peningkatan, laju pertumbuhannya belum cukup untuk mengimbangi kenaikan pengeluaran negara.

Dampak Defisit Terhadap Ekonomi Nasional

Defisit anggaran yang masih dalam batas aman memberikan ruang bagi pemerintah untuk tetap menjalankan berbagai program prioritas tanpa mengganggu stabilitas fiskal. Namun, jika tren defisit terus berlanjut, maka diperlukan strategi yang lebih efektif dalam mengoptimalkan penerimaan negara.

Pemerintah optimistis bahwa dengan kebijakan fiskal yang tepat, APBN 2025 tetap berada dalam jalur yang terkendali. Dengan surplus keseimbangan primer, ruang fiskal untuk pengelolaan utang juga tetap terjaga, sehingga stabilitas ekonomi nasional dapat terus dipertahankan.

Selain itu, para pengamat ekonomi juga menyoroti pentingnya diversifikasi sumber pendapatan negara agar tidak hanya bergantung pada pajak dan bea cukai. Sumber penerimaan baru, seperti optimalisasi aset negara dan reformasi pajak digital, dapat menjadi strategi jangka panjang dalam memperkuat ketahanan fiskal.

Dengan defisit yang masih dalam batas aman serta keseimbangan primer yang positif, pemerintah optimistis dapat menjaga stabilitas fiskal sepanjang tahun 2025. Ke depan, tren penerimaan dan belanja negara akan terus dipantau untuk memastikan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi nasional.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru