BI Catat Defisit NPI US$ 6,7 Miliar
JAKARTA, BursaNusantara.com – Bank Indonesia (BI) melaporkan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) defisit US$ 6,7 miliar pada triwulan II-2025 akibat neraca transaksi berjalan dan finansial sama-sama tertekan.
Transaksi berjalan defisit US$ 3,01 miliar, lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya yang hanya minus US$ 0,2 miliar.
Sementara itu, neraca transaksi modal dan finansial defisit US$ 5,16 miliar di tengah arus keluar modal asing yang sensitif terhadap ketidakpastian global.
Kepala Grup Departemen Komunikasi BI, Junanto Herdiawan, menyebut kondisi ini tetap terkendali berkat sinergi kebijakan pemerintah dan otoritas moneter.
Menurut Junanto, BI terus memperkuat bauran kebijakan dan intervensi pasar untuk menjaga stabilitas eksternal di tengah gejolak global.
Arus Modal Asing dan Komoditas Jadi Kunci
BI menekankan bahwa defisit terkendali berkat masuknya modal asing langsung yang mencerminkan kepercayaan investor.
Investasi langsung mencatat surplus, sementara investasi portofolio defisit karena aliran keluar dari surat utang domestik.
Selain itu, surplus neraca pendapatan sekunder meningkat berkat remitansi PMI dan hibah internasional.
Namun, defisit neraca pendapatan primer naik karena pembayaran dividen dan kupon obligasi yang bersifat musiman.
Di sisi lain, neraca perdagangan nonmigas masih surplus, tetapi menyusut seiring pelemahan harga komoditas global.
Core: Fondasi Ekspor Masih Rapuh
Peneliti Core Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai pelebaran defisit adalah masalah struktural klasik yang tak kunjung diatasi.
Menurutnya, lonjakan impor barang modal dan energi tak diimbangi oleh kinerja ekspor yang masih bergantung pada komoditas.
Ia menegaskan daya saing manufaktur domestik lemah karena biaya produksi tinggi dan minim inovasi.
Sekitar dua pertiga pelebaran defisit berasal dari impor energi dan konsumsi, sisanya akibat lemahnya ekspor manufaktur.
Yusuf mengingatkan bahwa ketergantungan pada harga batubara dan nikel global membuat perekonomian rapuh terhadap siklus eksternal.
Risiko Sistemik di Balik Cadangan Devisa
Yusuf menilai cadangan devisa besar bukan solusi jangka panjang, karena bersandar pada aliran portofolio yang mudah keluar masuk.
Jika defisit transaksi berjalan terus melebar, cadangan bisa cepat terkuras untuk intervensi valas.
Kondisi ini, menurutnya, menjadi risiko sistemik yang kerap diremehkan pembuat kebijakan.
Ia menegaskan bahwa tanpa strategi industrialisasi yang jelas, upaya BI hanya sebatas tambal sulam.
Investasi asing langsung masih terkonsentrasi di sektor ekstraktif, bukan manufaktur bernilai tambah.
Permata: Defisit Musiman, Prospek Masih Terjaga
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai defisit NPI kali ini lebih dipengaruhi faktor musiman.
Pembayaran dividen dan kupon menekan neraca pendapatan primer, sementara perang dagang 2.0 memicu keluarnya portofolio.
Ia memperkirakan defisit transaksi berjalan melebar ke -0,81% PDB hingga akhir 2025.
Namun, Josua menilai potensi pemangkasan suku bunga The Fed dapat mengembalikan arus portofolio ke Indonesia.
Ia menambahkan normalisasi ekspor pasca-front loading juga akan membantu menstabilkan neraca eksternal.
Strategi BI Jangka Pendek dan Struktural
Untuk menjaga stabilitas, BI mengoptimalkan instrumen SRBI, SVBI, dan SUVBI agar menarik modal asing tanpa menekan bunga kredit.
Intervensi dilakukan melalui spot, DNDF, dan NDF di pasar domestik maupun luar negeri.
Josua menekankan pentingnya efisiensi impor energi, pengurangan biaya logistik, dan pengaturan waktu impor strategis.
Di sisi struktural, pemerintah harus percepat diversifikasi ekspor dari komoditas ke manufaktur berteknologi menengah-tinggi.
Sektor pariwisata berkualitas dan jasa digital bernilai tambah juga harus diperkuat sebagai sumber devisa baru.
Tantangan Fondasi Ekonomi Nasional
Josua menilai cadangan devisa ideal dipertahankan pada kisaran US$ 152–156 miliar hingga akhir 2025.
Stabilitas rupiah di level Rp 16.100–Rp 16.300 per dolar AS menjadi syarat vital agar risiko krisis berkurang.
Namun, ia menegaskan cadangan devisa bukanlah obat struktural bagi persoalan NPI yang mendasar.
Strategi jangka panjang menuntut disiplin fiskal, substitusi impor, dan investasi asing yang membawa transfer teknologi.
Ia menutup dengan penekanan bahwa perbaikan struktur industri adalah kunci agar NPI tidak terus menjadi masalah laten.












