Geser Kebawah
Aksi KorporasiPasar

Dividen BBCA 2025 dan Harga Saham BCA Jadi Sorotan Investor

469
×

Dividen BBCA 2025 dan Harga Saham BCA Jadi Sorotan Investor

Sebarkan artikel ini
dividen bbca 2025 dan harga saham bca jadi sorotan investor kompres
Dividen BBCA 2025 dan harga saham BCA menarik perhatian investor setelah sahamnya mengalami koreksi dan prospek dividen diprediksi meningkat.

Dividen BBCA 2025 dan Harga Saham BCA Jadi Sorotan Investor

JAKARTA, BursaNusantara.com – Jumlah pemegang saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA mengalami lonjakan signifikan, meningkat 25.223 pihak menjadi 402.515 investor per 31 Januari 2025. Peningkatan ini terjadi seiring dengan melemahnya harga saham BCA di awal tahun.

Pada 30 Desember 2024, harga saham BCA berada di level Rp 9.675, namun menurun 5,42% menjadi Rp 9.150 per 30 Januari 2025. Pergerakan harga saham BCA masih didominasi tren merah dalam beberapa pekan terakhir, meskipun sempat menguat pada 7 Februari ke Rp 9.350.

Sponsor
Iklan

Secara valuasi, rasio price to book value (PBV) BBCA berada di 4,39 kali, lebih rendah dari rata-rata 3 tahun sebesar 4,97 kali. Sedangkan price earning ratio (PER) berada di 21,02 kali, di bawah mean standar 3 tahun yang sebesar 25,98 kali.

Prospek Dividen BBCA 2025 dan Laporan Keuangan

Menurut Sucor Sekuritas, kinerja keuangan BBCA di kuartal IV 2024 menunjukkan pertumbuhan yang melambat. Bank Central Asia mencatat laba bersih sebesar Rp 13,8 triliun, turun 3% secara kuartalan. Penurunan ini disebabkan oleh kenaikan beban operasional yang melonjak 15% dibandingkan kuartal sebelumnya.

Sucor Sekuritas juga mencatat bahwa pada tahun 2025, manajemen BBCA mengambil langkah lebih konservatif dalam ekspansi. Persaingan pendanaan yang semakin ketat dan daya beli konsumen yang melemah menjadi faktor utama yang dapat mempengaruhi pertumbuhan bisnis BBCA.

“Akibatnya, pertumbuhan pinjaman diperkirakan hanya mencapai 6-8%, jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 14% pada tahun 2024,” jelas Sucor dalam risetnya.

Meskipun demikian, BBCA tetap memiliki fundamental yang solid, dengan rasio permodalan yang kuat dan strategi bisnis yang matang. Namun, ekspektasi pertumbuhan yang lebih lambat membuat investor harus mempertimbangkan kembali valuasi saham BBCA.

RUPS BBCA dan Prediksi Dividen Final

Bank Central Asia (BBCA) akan mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 12 Maret 2025. Pemegang saham yang tercatat dalam daftar per 11 Februari 2025 akan berhak menghadiri rapat tersebut.

Meskipun agenda rapat belum diumumkan secara resmi, mengacu pada RUPST tahun sebelumnya, salah satu agenda yang kemungkinan besar akan dibahas adalah penentuan dividen final BBCA untuk tahun buku 2024.

Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja, sebelumnya menyatakan bahwa kebijakan dividen BBCA cenderung meningkat dari tahun ke tahun, kecuali dalam kondisi tertentu seperti pandemi 2020. Pada tahun 2023, BBCA membagikan total dividen sebesar Rp 33,28 triliun atau Rp 270 per saham, dengan rincian Rp 42,5 per saham sebagai dividen interim dan Rp 227,5 per saham sebagai dividen final.

Untuk tahun buku 2024, BBCA telah membagikan dividen interim Rp 50 per saham yang telah dibayarkan pada 11 Desember 2024. Jika mengikuti tren pembagian dividen tahun-tahun sebelumnya, dividen final BBCA 2025 diperkirakan akan lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.

Target Harga Saham BCA dan Rekomendasi Analis

Sucor Sekuritas menyatakan bahwa target harga saham BCA telah direvisi turun menjadi Rp 11.500, meskipun rekomendasi buy tetap diberikan.

Hal ini mempertimbangkan prospek jangka panjang BBCA yang masih solid, meskipun pertumbuhan laba diprediksi akan lebih lambat.

Dengan valuasi saham yang saat ini lebih murah dibandingkan rata-rata historisnya, investor jangka panjang bisa mempertimbangkan untuk mengakumulasi saham BBCA, terutama dengan potensi dividen BBCA 2025 yang menarik.

Namun, investor juga perlu memperhatikan pergerakan pasar dan kebijakan ekonomi yang dapat mempengaruhi kinerja BBCA di tahun mendatang.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.