United Tractors Bagikan Dividen Final Rp1.484 per Saham
JAKARTA, BursaNusantara.com – PT United Tractors Tbk (UNTR), salah satu anak usaha andalan dari Astra International, secara resmi menyalurkan dividen final tahun buku 2024 senilai Rp5,38 triliun atau setara Rp1.484 per saham pada 28 Mei 2025.
Langkah korporasi ini menyusul distribusi dividen interim yang telah lebih dahulu dibayarkan pada tahun lalu sebesar Rp2,42 triliun atau Rp667 per saham.
Dividen Jumbo Meski Laba Menyusut
Total dividen tunai yang dikucurkan UNTR untuk tahun buku 2024 mencapai Rp7,81 triliun atau Rp2.151 per saham. Jumlah tersebut mencerminkan kebijakan pembagian laba sebesar 40% dari perolehan laba bersih perusahaan sepanjang tahun lalu, yang tercatat sebesar Rp19,53 triliun.
Meski laba menurun, UNTR tetap menunjukkan komitmen tinggi dalam memberikan imbal hasil bagi para pemegang saham, sebuah strategi yang dinilai tepat untuk menjaga minat investor jangka panjang.
Saham Menguat Tipis Jelang Pembagian Dividen
Menjelang pembagian dividen final, saham UNTR tercatat menguat tipis sebesar 0,81% ke level Rp21.900 pada sesi perdagangan 27 Mei 2025. Pergerakan ini terjadi meski dalam periode year-to-date (YtD), saham UNTR masih terkoreksi sebesar 18,21%.
Penurunan ini mencerminkan tekanan fundamental yang terjadi di sektor pertambangan, terutama batu bara, yang masih menjadi kontributor utama kinerja keuangan perusahaan.
Penurunan Laba Bersih Kuartalan
Laporan keuangan kuartal I-2025 menunjukkan penurunan laba bersih UNTR sebesar 30% secara tahunan (YoY), menjadi Rp3,2 triliun. Penurunan ini tak lepas dari menurunnya kontribusi dua segmen utama: pertambangan batu bara termal dan metalurgi.
Harga batu bara yang cenderung menurun dan volume penjualan yang lebih rendah menjadi penyebab utama pelemahan tersebut. Kinerja kontraktor pertambangan pun ikut terpukul akibat curah hujan tinggi yang membatasi aktivitas operasional.
Segmen Emas dan Mesin Konstruksi Jadi Penopang Baru
Meski dua segmen utama tertekan, UNTR masih mampu menahan penurunan lebih dalam berkat peningkatan kontribusi dari lini bisnis pertambangan emas dan mineral lainnya. Kenaikan ini memperlihatkan adanya diversifikasi yang mulai membuahkan hasil.
Segmen mesin konstruksi juga menunjukkan stabilitas yang cukup baik di tengah tekanan sektor komoditas. Ini menandakan bahwa manajemen terus mengarahkan fokus pada ekspansi di luar batu bara untuk menyeimbangkan portofolio bisnis.
Proyek RKEF Jadi Beban Laba dari Entitas Asosiasi
Salah satu tantangan yang turut menyeret laba bersih UNTR berasal dari entitas asosiasi yang terkait dengan Nickel Industries Limited (NIC). Dua proyek Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF) milik NIC mengalami penurunan nilai, yang berdampak pada kerugian bersih yang harus dicatat UNTR sebagai bagian dari ekuitas entitas asosiasi.
Meski bukan bagian langsung dari operasional utama UNTR, dampak keuangan dari entitas asosiasi ini menunjukkan pentingnya mitigasi risiko atas investasi strategis di sektor nikel.
Saham UNTR Dinilai Masih Undervalue
Dari sisi valuasi, saham UNTR masih dinilai sangat murah. Dengan rasio price to book value (PBV) sebesar 0,84 kali dan price to earning ratio (PER) sebesar 6,40 kali, posisi saham ini tergolong undervalue jika dibandingkan dengan perusahaan sejenis di kawasan Asia Tenggara.
Kondisi ini membuka peluang bagi investor jangka panjang untuk mengakumulasi saham UNTR, terutama bagi mereka yang mengincar dividen stabil dan eksposur di sektor infrastruktur serta pertambangan.
Rekomendasi Beli dengan Target Harga Lebih Rendah
BRI Danareksa Sekuritas, dalam riset terbarunya tertanggal 15 Mei 2025, tetap mempertahankan peringkat buy untuk saham UNTR. Namun target harga diturunkan menjadi Rp24.900 per saham dari sebelumnya Rp28.000, menyesuaikan proyeksi kinerja dan tekanan sektor batu bara.
Target harga tersebut setara dengan PE forward 5,0x, yang masih berada pada kisaran konservatif mengingat volatilitas komoditas dan ketidakpastian ekonomi global.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.







