Geser Kebawah
HeadlineKomoditasPasar

Dolar AS Menguat, Harga Emas Kehilangan Momentum

714
×

Dolar AS Menguat, Harga Emas Kehilangan Momentum

Sebarkan artikel ini
Dolar AS Menguat, Harga Emas Kehilangan Momentum
Harga emas dunia tergelincir 0,14% ke US$ 3.367,58 per ons pada Senin (25/8/2025). Penguatan dolar menekan, meski ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed tetap menjadi penopang.

Emas Tertahan di Tengah Tekanan Mata Uang AS

JAKARTA, BursaNusantara.com – Perdagangan awal pekan membawa warna berbeda bagi emas global yang harus terkoreksi tipis, meski sebelumnya sempat menyentuh puncak tertinggi dalam dua pekan terakhir.

Harga emas spot tercatat turun 0,14% ke US$ 3.367,58 per ons, sementara kontrak emas berjangka AS melemah 0,3% ke US$ 3.409,6 pada pengiriman Desember.

Sponsor
Iklan

Pelemahan ini terjadi ketika dolar AS kembali menguat 0,2% setelah sempat jatuh ke posisi terendah empat pekan, sehingga membuat emas kurang menarik di mata investor internasional.

Bagi pemegang mata uang asing, kenaikan dolar secara langsung meningkatkan biaya kepemilikan emas, sehingga minat beli cenderung berkurang.

Meskipun demikian, ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed masih menjadi bantalan yang menjaga harga emas agar tidak jatuh lebih dalam.

Ekspektasi Pasar Masih Terjaga

Pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell pekan lalu memberi ruang harapan, dengan sinyal bahwa risiko terhadap pasar tenaga kerja meningkat meski inflasi belum benar-benar jinak.

Pernyataan ini menumbuhkan spekulasi bahwa suku bunga dapat diturunkan pada pertemuan The Fed September mendatang, meski keputusan final belum diumumkan.

Data dari CME FedWatch Tool menunjukkan pasar memperkirakan 87% peluang pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada 17 September 2025.

Selain itu, total penurunan suku bunga hingga akhir tahun diperkirakan mencapai 48 basis poin, menciptakan dorongan optimisme bagi investor emas.

Dengan prospek suku bunga lebih rendah, emas dipandang lebih kompetitif karena tidak menanggung opportunity cost tinggi.

Analisis Teknis dan Tantangan Data Ekonomi

Senior Analyst City Index, Matt Simpson, menyebut level US$ 3.350 per ons sebagai area support penting bagi emas dalam jangka pendek.

Ia menilai komentar dovish Powell memberi ruang emas untuk membentuk swing low signifikan bila didukung data ekonomi yang sejalan.

Namun, menurut Simpson, reli lanjutan membutuhkan konfirmasi dari data inflasi PCE dan ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari ekspektasi.

Sebaliknya, jika data justru menunjukkan inflasi tetap tinggi, peluang reli emas akan terhambat dan harga cenderung bergerak sideways.

Investor kini bersiap menyambut rilis data PCE pada 29 Agustus 2025 yang diperkirakan mencapai 2,9%, level tertinggi sejak akhir 2023.

Logam Mulia Lain Ikut Melemah

Pergerakan emas tidak sendirian, karena pasar logam mulia lain juga menghadapi tekanan pada perdagangan awal pekan.

Harga perak terkoreksi tipis 0,1% ke US$ 38,77 per ons, menandai tren pelemahan bersama emas.

Platinum turun lebih dalam sebesar 0,4% ke US$ 1.356,39 per ons, mencerminkan sentimen hati-hati pelaku pasar.

Sementara itu, palladium ikut terkoreksi 0,4% ke US$ 1.122 per ons, menegaskan pelemahan serentak di pasar logam mulia.

Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan dolar AS menjadi faktor dominan yang menekan keseluruhan sektor komoditas logam berharga.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Tinggalkan Balasan