MOSKOW, BursaNusantara.com – Ketegangan antara Rusia dan Ukraina kembali mencapai puncaknya setelah gelombang serangan udara melumpuhkan sistem penerbangan Rusia, terutama di sekitar Moskow.
Sebanyak 13 bandara, termasuk empat fasilitas utama di ibu kota, dilaporkan sempat tidak beroperasi pada Selasa malam (6/5/2025) akibat gempuran drone Ukraina.
Kementerian Pertahanan Rusia mencatat bahwa pertahanan udaranya harus dikerahkan ke sedikitnya 11 wilayah berbeda untuk menanggapi serangan skala besar tersebut.
Total 105 drone berhasil dijatuhkan, dengan 19 di antaranya teridentifikasi di sekitar Moskow.
Baca Juga: Serangan Udara Terbesar: 267 Drone dan 3 Rudal Balistik Rusia
Meski otoritas setempat menyebut layanan penerbangan kembali normal keesokan harinya, dampak logistik dari penutupan sementara tersebut tetap terasa, termasuk pengalihan 34 penerbangan.
Eskalasi Jelang Hari Kemenangan
Serangan ini menambah kompleksitas situasi keamanan menjelang peringatan Hari Kemenangan Rusia yang jatuh pada Jumat.
Parade tahunan tersebut menjadi simbol penting bagi Moskow, apalagi tahun ini menandai delapan dekade berakhirnya Perang Dunia II di Eropa.
Presiden Vladimir Putin bahkan mengusulkan gencatan senjata tiga hari menjelang peringatan itu. Sekitar 20 kepala negara, termasuk Presiden Tiongkok Xi Jinping, dijadwalkan menghadiri acara tersebut.
Baca Juga: Gelombang Tinggi Lumpuhkan Nelayan Karawang, Ekonomi Keluarga Terancam
Namun, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menolak mentah-mentah proposal itu, menyebutnya hanya demi “kenyamanan para tamu asing” dan tidak membawa manfaat strategis bagi Ukraina.
Ia menuntut durasi minimal 30 hari jika gencatan senjata ingin dibahas lebih lanjut.
Tanggapan Internasional dan Dampak Serangan
Respons dari komunitas internasional pun beragam. Presiden AS Donald Trump menyambut baik tawaran Rusia, menyebutnya sebagai peluang awal menuju solusi damai.
Namun, utusan khusus AS untuk Ukraina, Jenderal Keith Kellogg, menolak gagasan tersebut. Ia menegaskan bahwa hanya gencatan senjata penuh dan menyeluruh yang dapat diterima Washington.
Baca Juga: Rusia Siap Tanggapi Militerisasi Uni Eropa yang Anggap Moskow Musuh
Di sisi lain, Ukraina masih bungkam secara resmi mengenai keterlibatannya. Namun, pernyataan dari seorang mayor Garda Nasional Ukraina, Oleksii Hetman, menyiratkan bahwa militer Ukraina telah meluncurkan serangan balasan ke wilayah Kursk dan berhasil merebut kembali beberapa wilayah yang sebelumnya ditinggalkan.
Serangan di Kursk sendiri menyebabkan kerusakan serius pada gardu listrik, melukai dua remaja, dan memutus pasokan listrik ke kota Rylsk.
Sementara itu, serangan balasan Rusia ke kota-kota Ukraina seperti Sumy, Odesa, dan Kharkiv dilaporkan menewaskan empat warga sipil dan melukai setidaknya sebelas orang lainnya.
Kemampuan Drone Ukraina Meningkat Tajam
Drone-drone yang digunakan dalam serangan kali ini bukan sekadar alat intai biasa. Beberapa di antaranya berukuran kecil menyerupai pesawat model, dengan kemampuan manuver tinggi dan teknologi pemandu canggih.
Baca Juga: Menanti Kesempurnaan Coretax Digitalisasi Pajak Indonesia
Bahkan dilaporkan, beberapa unit mampu menembus pertahanan udara dan meledak tepat di sasaran pada detik terakhir.
Dengan eskalasi seperti ini, posisi Ukraina dalam konflik tidak lagi hanya bertahan, tetapi mulai menunjukkan kekuatan ofensif strategis yang dapat menjangkau pusat-pusat vital Rusia.
Perkembangan ini memberi sinyal bahwa perang akan memasuki babak baru, di mana kemampuan serangan jarak jauh dan momentum diplomatik menjadi faktor penentu dalam peta konflik kawasan.











