Masa Depan BRPT Dipatok dari Dua Arah
JAKARTA, BursaNusantara.com – Di balik dinamika saham konglomerasi milik taipan Prajogo Pangestu, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) muncul sebagai entitas yang mengandalkan dua sektor dengan potensi pertumbuhan jangka panjang yang tidak seimbang tapi saling melengkapi: energi baru terbarukan dan petrokimia.
Dominasi Geotermal dan Angin Lewat BREN
Pilar energi hijau yang menopang BRPT datang dari anak usahanya, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), yang mayoritas sahamnya dikuasai sebesar 64,6%.
Melalui BREN, BRPT mengendalikan pembangkit listrik tenaga angin berkapasitas 78 MW dan pembangkit panas bumi 903 MW yang akan berkembang menjadi 1 GW pada 2026.
Kapasitas tambahan yang direncanakan sebesar 23,8 MW tahun depan dan 97,4 MW setahun setelahnya menunjukkan arah ekspansi yang presisi dan agresif.
Dengan pertumbuhan EBITDA dan pendapatan rata-rata tahunan di kisaran 9% dan 8,5% selama 10 tahun mendatang, potensi fundamental BREN terbilang luar biasa.
Apalagi dua proyek raksasa yang belum dihitung ke dalam valuasi, yakni Hamiding dan Sekincau (kapasitas 1 GW), serta dua proyek tenaga angin di Lombok dan Sukabumi (total 249 MW), masih dalam tahap pengembangan aktif.
Petrokimia Masih Jadi Mesin Lama yang Tajam
Meski sektor energi baru terbarukan mendominasi narasi pertumbuhan, BRPT tidak meninggalkan mesin lamanya: bisnis petrokimia melalui PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang dimiliki sebesar 34,6%.
TPIA menguasai pangsa produksi petrokimia nasional dengan kapasitas 4,2 juta ton dan permintaan domestik yang diklaim dua kali lebih besar dari rata-rata global.
Produksi dan volume penjualan TPIA diproyeksikan tumbuh masing-masing 3,9% dan 3,1% per tahun selama dekade mendatang, selaras dengan pertumbuhan pendapatan sebesar 4,1%.
Faktor penopang utama datang dari strategi substitusi impor yang digadang pemerintah, membuat posisi TPIA dalam ekosistem industri nasional semakin krusial.
BRPT juga punya cadangan proyek besar melalui Aster, yang bisa menyumbang laba bersih antara US$ 80–200 juta per tahun, serta proyek CA-EDC dengan potensi pendapatan hingga US$ 500 juta per tahun.
Valuasi Jumbo Jadi Senjata Harga Saham
Dalam riset terbarunya, Trimegah Sekuritas memulai liputan terhadap saham BRPT dengan rekomendasi beli dan target harga ambisius Rp 3.700 per saham.
Target ini mencerminkan potensi kenaikan hingga 42% dibanding harga pasar saat riset disusun, dengan metodologi penilaian berbasis SOTP (sum-of-the-parts).
Kontribusi valuasi BREN yang bisa dikaitkan langsung ke BRPT mencapai US$ 16,8 miliar, menjadikannya penyumbang terbesar dari total valuasi perseroan.
Sementara itu, kontribusi valuasi TPIA yang diatribusikan ke BRPT mencapai US$ 1,9 miliar, Aster sebesar US$ 1,6 miliar, dan proyek CA-EDC senilai US$ 295 juta.
Tak hanya itu, valuasi tambahan dari entitas seperti CDIA, Indo Raya Tenaga, dan Griya Idola ikut dimasukkan untuk melengkapi portofolio pertumbuhan jangka panjang BRPT.
BRPT Bukan Lagi Emiten Konglomerasi Biasa
Dengan dua penggerak utama—BREN sebagai kendaraan ekspansi energi terbarukan, dan TPIA sebagai jantung industri petrokimia nasional—BRPT berada dalam posisi yang tak hanya defensif, tapi juga ofensif.
Investor kini melihat BRPT bukan sebagai emiten konglomerasi biasa, tetapi sebagai kendaraan investasi strategis menuju era transisi energi dan substitusi impor nasional.
Di tengah tren global yang makin agresif mengadopsi energi hijau, saham BRPT tampil sebagai salah satu opsi yang relevan, terukur, dan berbasis fundamental kuat.
Prospek ini bisa menjadi acuan penting bagi pelaku pasar dalam merancang portofolio jangka panjang yang berbasis pertumbuhan sektor strategis nasional.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





