JAKARTA, BursaNusantara.com – Di tengah kondisi pasar keuangan yang dinamis pada awal 2025, dua jenis reksadana berhasil mencetak return tertinggi, yaitu reksadana pendapatan tetap dan reksadana pasar uang.
Data dari Infovesta menunjukkan secara year-to-date (YTD) hingga 14 Februari 2025, reksadana pendapatan tetap mencatatkan imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis reksadana lain.
Sementara itu, reksadana pasar uang tumbuh sebesar 0,68% secara YTD. Di sisi lain, kinerja reksadana saham dan indeks reksadana campuran mengalami koreksi masing-masing sebesar -4,36% dan -1,37% YTD.
Kinerja Reksadana di Awal Tahun 2025
Imbal Hasil Reksadana Pendapatan Tetap
Reksadana pendapatan tetap mencatatkan performa terbaik di awal tahun 2025. Kinerja ini didorong oleh peningkatan dana kelolaan yang menunjukkan kepercayaan investor untuk menempatkan dananya pada instrumen yang relatif stabil.
Imbal hasil yang tinggi pada reksadana pendapatan tetap menjadi indikator bahwa manajer investasi mampu mengoptimalkan portofolio melalui penempatan di obligasi berkualitas dan aset berpendapatan tetap lainnya.
Peningkatan imbal hasil ini menandakan adanya pertumbuhan dana kelolaan, yang berarti semakin banyak investor yang memilih reksadana sebagai kendaraan investasi untuk tujuan diversifikasi portofolio dan pengelolaan risiko yang lebih konservatif.
Kinerja Reksadana Pasar Uang
Tidak kalah menarik, reksadana pasar uang juga menunjukkan performa yang stabil dengan pertumbuhan return sebesar 0,68% YTD.
Kinerja ini disebabkan oleh alokasi investasi yang sebagian besar ditempatkan pada deposito perbankan dan obligasi jangka pendek, yang memberikan tingkat pengembalian yang relatif stabil di tengah fluktuasi pasar.
Manajer investasi dari Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menyatakan bahwa strategi diversifikasi antara deposito dan obligasi dengan tenor di bawah satu tahun telah membantu menjaga stabilitas imbal hasil reksadana pasar uang.
Kedua produk unggulan, Manulife Dana Kas II (MDK II) dan Manulife Dana Kas Syariah (MDKS), masing-masing mencatatkan return bersih sebesar 4,79% dan 4,43% untuk setahun terakhir hingga akhir Januari 2025.
Faktor Eksternal yang Mempengaruhi Kinerja
Pengaruh Kebijakan AS dan Geopolitik
Menurut Director & Chief Investment Officer Fixed Income MAMI, Ezra Nazula, pergerakan return reksadana di awal tahun 2025 dipengaruhi oleh ketidakpastian dari kebijakan tarif Amerika Serikat dan sikap The Fed yang mengindikasikan kemungkinan mempertahankan suku bunga acuan.
Kondisi geopolitik yang memanas juga turut membayangi pergerakan pasar, terutama di sektor saham, sehingga menciptakan iklim yang kurang kondusif bagi pasar modal.
Dukungan dari Pemangkasan Suku Bunga BI
Di sisi lain, pasar obligasi mendapat dukungan positif dari pemangkasan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI), yang mendorong penurunan yield obligasi. Hal ini membuat produk reksadana obligasi menjadi lebih menarik bagi investor yang memiliki profil risiko konservatif.
Dengan demikian, minat terhadap reksadana yang berfokus pada aset obligasi diperkirakan akan terus tinggi sepanjang tahun 2025.
Inovasi Produk dan Strategi Manajer Investasi
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












