Geser Kebawah
Gaya HidupSeni & Hiburan

Duet Iwan Fals & Isyana Sarasvati Hidupkan Panji Tengkorak

647
×

Duet Iwan Fals & Isyana Sarasvati Hidupkan Panji Tengkorak

Sebarkan artikel ini
Duet Iwan Fals & Isyana Sarasvati Hidupkan Panji Tengkorak
Iwan Fals dan Isyana Sarasvati duet lagu “Bunga Terakhir” untuk soundtrack film animasi Panji Tengkorak, persembahan emosional lintas generasi.

Soundtrack Epik Dua Generasi untuk Panji Tengkorak

JAKARTA, BursaNusantara.com – Di tengah arus musik digital yang kian cepat, duet antara Iwan Fals dan Isyana Sarasvati terasa seperti kejutan langka yang menggetarkan lanskap industri hiburan Tanah Air.

Keduanya bersatu dalam proyek soundtrack film animasi Panji Tengkorak, menyanyikan ulang lagu legendaris “Bunga Terakhir” yang dulu dipopulerkan Romeo pada 1999.

Sponsor
Iklan

Namun kali ini, lagu tersebut tak sekadar bernostalgia, melainkan dihidupkan kembali dengan narasi emosional dan nilai artistik tinggi.

Penggarapan lagu ini bukan perkara instan—melainkan hasil dari proses panjang dan pertemuan dua era musik Indonesia.

Film animasi garapan Falcon Pictures ini menjadi jembatan antara kekuatan visual dan kekuatan musikal lintas generasi.

Duet yang Tak Terelakkan

Bagi Iwan Fals, menyanyikan kembali “Bunga Terakhir” adalah pengalaman yang menyegarkan.

Ia menyebut duet ini membuat dirinya merasa jauh lebih muda—sebuah pengakuan yang tak hanya jujur, tapi juga sarat makna.

“Karena duet dengan Isyana, saya merasa tambah muda, ha ha ha!” ujarnya saat konferensi pers di Jakarta Selatan.

Isyana pun tak kalah antusias, bahkan menyebut proyek ini sebagai pengalaman karier yang sangat berharga dan menambah warna baru dalam portofolionya.

“Ini kesempatan yang enggak mungkin aku tolak. Kapan lagi bisa bikin soundtrack bareng living legend?” serunya bersemangat.

Misi Budaya di Balik Musik

Produser Falcon Pictures, Frederica, menegaskan alasan kuat di balik pemilihan dua nama besar ini.

Menurutnya, Panji Tengkorak sebagai IP (intellectual property) lokal yang sangat ikonik memerlukan presentasi yang sepadan dari sisi musikal.

Karena itu, keputusan untuk menggandeng Iwan dan Isyana bukan hanya berdasarkan popularitas, tetapi juga makna budaya.

“Mereka berdua adalah representasi musikal dari dua generasi, namun tetap mengusung DNA Indonesia,” jelas Frederica.

Ia meyakini bahwa kombinasi suara mereka mampu menyentuh esensi dari karakter Panji Tengkorak yang penuh konflik dan kehilangan.

Lirik Lama, Narasi Baru

Mengapa “Bunga Terakhir” dipilih dari sekian banyak lagu lawas Indonesia yang legendaris?

Frederica menjawab lugas: karena liriknya sangat menggambarkan perjalanan emosional Panji Tengkorak.

Dalam narasi film, tokoh utama beralih ke ilmu hitam setelah kehilangan cinta sejatinya—sebuah tragedi yang sejalan dengan pesan mendalam dari lagu ini.

Pilihan lagu ini mempertegas bahwa penggarapan soundtrack bukan sekadar tempelan musik, melainkan bagian integral dari storytelling film.

Proses Rekaman Penuh Totalitas

Live recording menjadi pendekatan utama dalam pembuatan lagu ini, bukan tanpa alasan.

Konsep ini dipilih untuk menjaga nuansa emosional dan chemistry antara Iwan dan Isyana.

Prosesnya intens: tiga sesi latihan, masing-masing menyanyikan lagu sebanyak 10 kali.

Total 30 kali mereka menyanyikan “Bunga Terakhir” sebelum memilih rekaman terbaik untuk dilepas ke publik.

“Pas rekaman, kami berdiri berdua, nyanyi langsung dari awal sampai akhir tanpa potong,” ungkap Isyana.

Iwan Fals mengonfirmasi tantangan itu: “Itu 10 kali dalam tiga sesi. Jadi, totalnya 30 lagu.”

Pujian Meluncur dari Layar Lebar

Denny Sumargo, voice actor utama dalam film Panji Tengkorak, menyebut kehadiran duet Iwan-Isyana sebagai keajaiban yang didukung semesta.

Ia menyaksikan sendiri momen magis saat keduanya membawakan lagu dan bagaimana nuansa itu terasa nyata dalam film.

“Yang satu legenda, satu lagi calon legenda. Energinya nyata, bukan dibuat-buat,” ucap Denny penuh kesan.

Menurutnya, proyek sebesar ini tak akan terjadi jika semesta tak merestui.

Bagi Denny, kolaborasi lintas generasi inilah yang menghidupkan semangat karakter Panji Tengkorak yang penuh gejolak dan kehilangan.

Antara Prestasi dan Pelestarian

Tak banyak musisi yang mendapatkan kesempatan berduet dengan Iwan Fals, apalagi dalam format rekaman.

Isyana yang sebelumnya hanya tampil live bersama Iwan di panggung, menyambut momen ini dengan penuh rasa hormat.

Ia menyadari bahwa tak hanya sedang menciptakan lagu, tetapi juga menorehkan sejarah dalam industri musik dan perfilman Indonesia.

Di sisi lain, Falcon Pictures juga mengemban misi lebih besar: memperkenalkan kembali tokoh klasik komik Indonesia ke generasi baru.

Melalui pendekatan animasi dan kekuatan musik, Panji Tengkorak mendapat konteks baru yang lebih emosional dan relevan.

Sentuhan Emosional dalam Visual

Video klip “Bunga Terakhir” turut diluncurkan bersamaan dengan rilis lagu, menampilkan cuplikan proses rekaman secara langsung.

Bukan sekadar klip promosi, video ini menjadi arsip penting yang merekam dinamika emosional antara dua musisi besar.

Gambar-gambar dalam video tersebut memperlihatkan bagaimana masing-masing musisi menyelami lirik dan cerita lagu.

Satu rekaman menunjukkan Isyana dan Iwan bernyanyi berdampingan, saling menguatkan satu sama lain dengan tatapan dan gestur.

Kehadiran visual ini memperkuat koneksi antara lagu, film, dan publik sebagai penikmat karya seni.

Transformasi Soundtrack Menjadi Legasi

Dengan segala elemen artistik dan naratif yang menyatu, “Bunga Terakhir” versi Iwan Fals dan Isyana Sarasvati berhasil naik kelas dari sekadar lagu ke bentuk warisan budaya.

Proyek ini membuktikan bahwa kolaborasi lintas generasi bukan hanya mungkin, tapi juga sangat diperlukan dalam pelestarian nilai-nilai lokal.

Panji Tengkorak bukan hanya hidup kembali dalam bentuk animasi, tetapi juga dihidupkan oleh energi dua musisi dari dua era yang berbeda.

Kolaborasi ini menunjukkan bagaimana seni bisa menyembuhkan, menginspirasi, dan menghidupkan kembali harapan yang pernah hilang.