Geser Kebawah
BisnisEnergiHeadline

Dugaan Kepentingan Asing Atas Penolakan Geothermal Flores

90
×

Dugaan Kepentingan Asing Atas Penolakan Geothermal Flores

Sebarkan artikel ini
Dugaan Kepentingan Asing Atas Penolakan Geothermal Flores
Penolakan proyek geothermal di Flores memunculkan dugaan kepentingan asing yang menghambat kemandirian energi Indonesia.

Narasi Penolakan Geothermal Dinilai Sarat Kepentingan Tertentu

JAKARTA, BursaNusantara.com – Penolakan proyek energi panas bumi (geothermal) di Flores, Nusa Tenggara Timur, kembali mengemuka.

Namun di balik narasi perlindungan lahan dan lingkungan, sejumlah pihak mulai menyoroti kemungkinan adanya pengaruh kepentingan asing yang tidak menginginkan Indonesia mencapai kemandirian energi, terutama dari sumber daya terbarukan yang potensial seperti geothermal.

Sponsor
Iklan

Sikap tegas Forum Komunikasi dan Advokasi Komunitas Flores, Sumba, Timor, Alor (FKKF) Jakarta terhadap proyek geothermal dinilai sebagian analis sebagai bentuk oposisi yang perlu dikaji lebih dalam motif dan arah dukungannya.

Potensi Geothermal Dinilai Strategis untuk Energi Nasional

Dengan posisi Flores yang berada di ring of fire dan memiliki cadangan panas bumi tinggi, banyak pihak melihat kawasan ini sebagai salah satu pilar penting dalam strategi Indonesia menuju swasembada energi terbarukan. Geothermal dianggap lebih stabil dibandingkan energi surya atau angin yang fluktuatif dan tergantung cuaca.

Namun penolakan yang muncul justru dinilai tidak memperhitungkan urgensi pemanfaatan energi domestik secara mandiri, dan dikhawatirkan menjadi celah bagi ketergantungan impor energi masa depan.

FKKF Usulkan Alternatif Energi Lain

Dalam pernyataannya, Ketua Umum FKKF Jakarta, Marsellinus Ado Wawo menyarankan agar pemerintah mengalihkan fokus ke jenis energi terbarukan lainnya, seperti angin, sinar matahari, arus laut hingga biomassa.

Marsell menyebut proyek geothermal di Flores rawan konflik agraria karena menyentuh lahan produktif masyarakat. “Kalau soal pangan, tak ada alternatif selain tanah. Tak mungkin menanam di bulan atau mars,” ujarnya.

Narasi Perlindungan Tanah Diduga Alat Politisasi

Meski alasan utama penolakan mengatasnamakan kepentingan petani dan ekologi, sejumlah pengamat menilai isu ini berpotensi ditunggangi oleh pihak-pihak yang ingin melemahkan proyek energi strategis nasional. Terlebih, selama ini ketergantungan energi Indonesia masih tinggi terhadap bahan bakar fosil dan impor.

Kondisi geografis Flores yang penuh tantangan seharusnya menjadi alasan kuat untuk memanfaatkan geothermal secara optimal.

Jika ditangani dengan teknologi ramah lingkungan dan melibatkan partisipasi lokal, geothermal dapat memberikan manfaat besar tanpa mengorbankan keberlangsungan hidup warga.

Proyek Energi Rentan Dihambat Isu Sosial

Marsell juga mengungkapkan bahwa banyak proyek SDA di Indonesia kerap menyisakan persoalan lingkungan, mulai dari pencemaran hingga dampak sosial.

Namun di sisi lain, proyek strategis seperti geothermal berisiko tidak berjalan jika terus disandera oleh narasi negatif tanpa dasar kuat.

Penolakan semacam ini, bila tidak dilihat secara komprehensif, justru berisiko membuka ruang dominasi asing dalam sistem energi nasional.

Dengan konteks geopolitik dan persaingan energi global yang semakin ketat, Indonesia dituntut untuk waspada terhadap berbagai bentuk intervensi yang menghambat upaya swasembada energi nasional.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru