Geser Kebawah
Nasional

Dugaan Plagiat Disertasi Bahlil Lahadalia, UIN Jakarta Beri Penjelasan

151
×

Dugaan Plagiat Disertasi Bahlil Lahadalia, UIN Jakarta Beri Penjelasan

Sebarkan artikel ini
Dugaan Plagiat Disertasi Bahlil Lahadalia UIN Jakarta Beri Penjelasan
UIN Jakarta menjelaskan nilai similarity disertasi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang sempat disebut mencapai 95% dan dikaitkan dengan dugaan plagiat.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Narasi mengenai nilai similarity atau kesamaan disertasi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang diklaim mencapai 95% telah menarik perhatian publik dan menyeret nama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (UIN Jakarta). Tuduhan plagiarisme terhadap Bahlil pun mencuat, meskipun pihak kampus telah memberikan klarifikasi mengenai kesalahan interpretasi data dalam sistem Turnitin.

Klarifikasi UIN Jakarta soal Nilai Similarity Disertasi Bahlil

Guru Besar UIN Jakarta, Prof Maila Dinia Husni Rahiem, dalam tulisannya di laman resmi UIN Jakarta pada 19 Oktober 2024 menjelaskan bahwa persoalan ini bermula dari seorang mahasiswa doktoral sekaligus dosen UIN Jakarta yang memeriksa keaslian disertasi Bahlil menggunakan akun Turnitin kampus. Hasil awal menunjukkan nilai similarity sebesar 13%.

Sponsor
Iklan

Namun, karena dokumen tersebut tidak segera dihapus dari repository Turnitin kampus, ketika dilakukan pemeriksaan ulang, sistem mendeteksi kesamaan 100% akibat file tersebut sudah tersimpan dalam database Turnitin sebagai dokumen resmi. Situasi ini menimbulkan kebingungan, seolah-olah Bahlil menjiplak disertasinya sendiri atau dokumen lain yang ada di dalam sistem.

Menurut Prof Maila, hal ini memunculkan kesan yang salah bahwa Menteri Bahlil telah menjiplak karya mahasiswa UIN Jakarta. “Hal ini terjadi karena disertasi Menteri Bahlil pernah diunggah ke repository Turnitin dan dianggap sebagai dokumen terdaftar,” jelasnya. Oleh karena itu, pernyataan yang menyebutkan similarity 95% atau lebih harus diteliti lebih lanjut dengan mempertimbangkan faktor teknis tersebut.

Lebih lanjut, Prof Maila juga menegaskan bahwa penyebaran informasi yang tidak akurat terkait dugaan plagiarisme dapat merusak reputasi seseorang, terutama dalam konteks akademik dan profesional.

Perspektif Akademisi terhadap Penggunaan Turnitin

Guru Besar Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung (Unisba), Prof Dedeh Fardiah, menegaskan bahwa angka similarity yang tinggi dalam Turnitin tidak selalu menunjukkan adanya plagiarisme. Ia mencontohkan bagaimana sebuah naskah yang dikirim ke jurnal tertentu namun tidak diterbitkan tetap bisa terdeteksi sebagai dokumen yang tersimpan di sistem.

“Ketika diperiksa kembali, sistem akan menunjukkan similarity yang tinggi karena naskah tersebut telah terekam dalam database jurnal sebelumnya,” kata Prof Dedeh pada Jumat (7/3).

Selain itu, menurutnya, kasus lain yang sering terjadi adalah ketika seorang mahasiswa mengirimkan naskah disertasinya ke jurnal ilmiah tanpa melakukan parafrase terlebih dahulu. “Otomatis ketika diperiksa ulang di Turnitin, similarity akan tinggi. Ini disebut sebagai auto plagiarism atau self-plagiarism,” jelasnya.

Kasus serupa juga terjadi pada peneliti yang ingin mempublikasikan kembali karya ilmiahnya dalam bentuk berbeda, misalnya dari tesis menjadi jurnal atau dari jurnal ke buku. Tanpa pengelolaan yang tepat, sistem Turnitin akan tetap mengenali kesamaan dokumen tersebut dengan hasil similarity yang tinggi.

Mekanisme Pendeteksian Turnitin dan Ambang Batas Similarity

Prof Maila menambahkan bahwa Turnitin bekerja dengan membandingkan teks terhadap dokumen yang telah tersimpan dalam sistem. Oleh karena itu, jika dokumen yang sama diuji ulang, sistem akan menunjukkan kesamaan 100% meskipun berasal dari sumber yang berbeda.

Untuk menghindari kesalahan interpretasi seperti ini, Prof Maila menyarankan agar pengecekan awal dilakukan dengan pengaturan “no repository” agar dokumen tidak tersimpan secara permanen dan tidak memengaruhi hasil pemeriksaan di kemudian hari.

Setelah dilakukan uji resmi, nilai similarity disertasi Menteri Bahlil tercatat sebesar 13%, angka yang berada di bawah ambang batas plagiarisme yang ditetapkan untuk disertasi, yakni antara 15-30%, tergantung kebijakan masing-masing perguruan tinggi. Dengan demikian, tidak ditemukan indikasi plagiarisme dalam disertasi tersebut.

Implikasi dan Tanggapan Publik

Meski telah diklarifikasi oleh UIN Jakarta dan para akademisi, isu dugaan plagiarisme ini tetap menjadi sorotan. Beberapa pihak menilai bahwa publik perlu lebih memahami cara kerja sistem deteksi plagiarisme sebelum menuduh seseorang melakukan tindakan akademik yang tidak etis.

Sementara itu, di tengah polemik ini, Kementerian ESDM belum memberikan pernyataan resmi mengenai dampak isu ini terhadap posisi Bahlil sebagai Menteri ESDM. Namun, beberapa pengamat menilai bahwa klarifikasi dari UIN Jakarta sudah cukup untuk meredakan spekulasi yang beredar di masyarakat.

Penjelasan ini diharapkan dapat meredam spekulasi publik mengenai dugaan plagiat terhadap Bahlil Lahadalia dan memberikan pemahaman yang lebih jelas tentang cara kerja sistem deteksi kesamaan teks dalam dunia akademik. Ke depan, transparansi dan pemahaman lebih mendalam tentang metode pengecekan plagiarism diharapkan dapat mencegah terjadinya kesalahpahaman serupa di dunia akademik Indonesia.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru