JAKARTA, BursaNusantara.com – Indonesia menghadapi tahun 2025 dengan penuh optimisme di tengah tantangan global dan domestik yang terus berkembang. Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR, Said Abdullah, menyatakan bahwa proyeksi ekonomi makro dari berbagai lembaga kredibel sejalan dengan target APBN 2025. Namun, ia juga menegaskan pentingnya kesiapan dalam mengantisipasi tantangan dan memanfaatkan peluang agar perekonomian nasional dapat melompat lebih maju.
Tantangan Global dan Domestik
- Perang Tarif Global Perang tarif antara Amerika Serikat (AS), China, dan Uni Eropa diperkirakan akan berdampak signifikan pada ekonomi Indonesia. Uni Eropa telah memberlakukan bea masuk 43% untuk mobil listrik asal China, sementara AS mengancam mengenakan tarif pada negara-negara yang melakukan dedolarisasi.Dampaknya bisa negatif berupa ketidakpastian bisnis dan meningkatnya biaya ekspor. Namun, Said menilai ini juga peluang besar bagi Indonesia untuk menggantikan produk impor di pasar global. Pemerintah dan eksportir harus cermat membaca situasi ini sebagai peluang emas.
- Penurunan Ekonomi China Sebagai mitra dagang terbesar Indonesia, perlambatan ekonomi China dapat memengaruhi ekspor Indonesia. Said menyarankan pemerintah untuk mencari mitra dagang alternatif guna mengurangi dampak negatif ini.
- Depresiasi Dolar AS Pengalaman dari perang tarif sebelumnya menunjukkan bahwa ketidakpastian dapat memperkuat dolar AS terhadap rupiah. Bank Indonesia telah menggunakan berbagai strategi, seperti triple intervention dan debt switch/reprofiling, untuk menjaga stabilitas rupiah. Namun, upaya penguatan sistem moneter tetap perlu ditingkatkan.
- Deindustrialisasi dan Penurunan Daya Beli Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan penurunan kontribusi industri pengolahan nonmigas terhadap PDB dari 21,28% pada 2014 menjadi 18,67% pada 2023. Kondisi ini mengindikasikan deindustrialisasi yang mengancam pertumbuhan kelas menengah dan daya beli masyarakat.
- Korupsi dan Inefisiensi Birokrasi Tingginya Incremental Output Ratio (ICOR) yang mencapai angka 6 dalam dua tahun terakhir mencerminkan efisiensi ekonomi yang rendah akibat praktik korupsi dan birokrasi yang tidak efisien. Jika pemerintah mampu mengatasi hambatan ini, daya saing produk ekspor Indonesia di pasar global dapat meningkat.
Peluang Besar untuk Indonesia
- Potensi Ekspor Perang tarif global membuka peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor, terutama dengan menggantikan produk yang sebelumnya didominasi oleh China atau AS. Industri dalam negeri perlu memperkuat kemampuan bersaing di pasar global.
- Hilirisasi Sektor Industri Hilirisasi menjadi kunci dalam membangkitkan industri manufaktur. Tidak hanya di sektor nikel, tetapi juga sektor perkebunan, pertanian, dan kehutanan yang memiliki potensi besar untuk memenuhi kebutuhan rantai pasok global.
- Pemberdayaan Kelas Menengah Program industrialisasi yang mendukung pertumbuhan kelas menengah diyakini dapat meningkatkan daya adaptasi tenaga kerja untuk menopang kebutuhan industri.
- Reformasi Ekonomi Penurunan ICOR melalui reformasi struktural, pemberantasan korupsi, dan efisiensi birokrasi akan memberikan sinyal positif kepada investor dan pelaku pasar. Hal ini penting untuk menarik investasi dan memperkuat kepercayaan terhadap kebijakan pemerintah.
Kesimpulan
Indonesia menghadapi tantangan ekonomi global dan domestik yang kompleks pada tahun 2025. Namun, dengan strategi yang tepat, tantangan tersebut dapat diubah menjadi peluang untuk melompat lebih maju. Pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat harus bersinergi dalam membaca situasi, mengambil langkah adaptif, serta memanfaatkan peluang yang ada guna mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.












