Kinerja Ekonomi Tertekan, Target 5% Sulit Tercapai
JAKARTA, BursaNusantara.com – Ekonomi Indonesia pada kuartal II-2025 diproyeksikan belum mampu bangkit dari tekanan struktural yang telah membayangi sejak awal tahun.
Indikator utama seperti sektor manufaktur, inflasi domestik, hingga kinerja ekspor menunjukkan sinyal perlambatan yang semakin nyata.
Penurunan laju pertumbuhan ekonomi diperkirakan terjadi secara bertahap, tanpa adanya pengungkit struktural yang kuat selama periode April–Juni 2025.
Prediksi ini mengemuka seiring berakhirnya momentum Ramadan dan Lebaran yang sebelumnya menyumbang efek musiman pada kuartal I-2025.
Tekanan Manufaktur Menjadi Beban Terbesar
Sektor industri manufaktur masih berada dalam fase kontraksi beruntun selama tiga bulan terakhir.
PMI manufaktur Indonesia pada Juni 2025 turun ke angka 46,9 dari sebelumnya 47,4, mempertegas bahwa aktivitas produksi belum beranjak menuju fase ekspansi.
Kontraksi ini mencerminkan perusahaan-perusahaan enggan menambah kapasitas produksi akibat lemahnya permintaan domestik maupun ekspor.
Efek lanjutan dari situasi ini mulai terasa dalam bentuk efisiensi tenaga kerja, dengan kecenderungan pemutusan hubungan kerja yang meningkat secara diam-diam di beberapa sektor padat karya.
Fakta tersebut mengindikasikan bahwa sektor manufaktur belum menjadi motor pemulihan ekonomi seperti yang diharapkan oleh pembuat kebijakan.
Inflasi Mulai Merangkak, Konsumsi Rumah Tangga Melemah
Inflasi bulanan kembali mencatatkan angka positif pada Juni 2025 sebesar 0,19%, membalikkan deflasi 0,37% yang terjadi bulan sebelumnya.
Secara tahunan, inflasi menyentuh angka 1,87%, naik dari posisi 1,60% pada Mei 2025.
Inflasi inti yang mencapai 2,37% yoy menunjukkan tekanan harga yang bersifat lebih permanen, terutama pada kebutuhan pokok dan jasa pribadi.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang tekanan terbesar, diikuti oleh kenaikan harga pada perhiasan emas dan kebutuhan sekunder lainnya.
Kondisi ini menyebabkan daya beli masyarakat, terutama kelas menengah ke bawah, semakin terkikis karena pendapatan riil tidak mengalami kenaikan yang seimbang.
Surplus Dagang Menyusut, Ekspor Tidak Lagi Menopang
Kontribusi sektor eksternal terhadap pertumbuhan mulai terbatas setelah surplus neraca perdagangan mulai mengecil.
BPS melaporkan bahwa pada Juni 2025, surplus neraca perdagangan hanya mencapai US$ 4,11 miliar, lebih rendah dari Mei sebesar US$ 4,30 miliar.
Penyusutan ini seiring dengan turunnya harga komoditas ekspor unggulan dan melemahnya permintaan dari mitra dagang utama.
Ketergantungan terhadap sektor ekspor berbasis komoditas kembali menunjukkan sisi rentan dari struktur ekonomi Indonesia.
Penurunan nilai ekspor juga tidak diimbangi oleh peningkatan permintaan domestik, yang justru sedang mengalami pelemahan signifikan akibat tekanan inflasi.
Ramalan Ekonomi: Tidak Lebih Baik dari Kuartal Sebelumnya
Celious Economic Research memperkirakan pertumbuhan kuartal II-2025 akan lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya yang tumbuh 4,87% yoy.
Menurut Direktur Ekonomi Celious, Nailul Huda, tidak ada faktor pengungkit yang signifikan pada kuartal ini selain libur panjang yang sifatnya temporer.
Ia menilai momentum Ramadan dan Lebaran sudah habis pada kuartal I, sehingga kontribusinya tidak akan terasa pada periode April–Juni.
Perkiraannya, pertumbuhan kuartal II hanya akan berada di kisaran 4,55% hingga 4,65%, jauh dari target ideal 5% yang dibidik pemerintah.
Pelemahan sektor riil, tekanan harga, dan ekspor yang mulai stagnan menjadi kombinasi yang menyulitkan pemulihan ekonomi dalam jangka pendek.









