Anjloknya Ekspor Seret Harga CPO Kembali ke Titik Kritis
JAKARTA, BursaNusantara.com – Pasar minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) kembali terpukul pada awal pekan, setelah data ekspor Malaysia untuk bulan Juli menunjukkan penurunan tajam yang menimbulkan kekhawatiran pasar akan tekanan stok dan lemahnya permintaan.
Pada perdagangan Senin (28/7/2025), seluruh kontrak berjangka CPO di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) ditutup melemah, memperpanjang tren koreksi sejak pekan lalu.
Kontrak CPO Agustus 2025 ambles 71 Ringgit Malaysia ke posisi 4.150 Ringgit per ton, sementara kontrak September jatuh 35 Ringgit menjadi 4.223 Ringgit per ton.
Kontrak Oktober juga tergelincir 31 Ringgit ke 4.242 Ringgit, dan November melemah 30 Ringgit ke 4.253 Ringgit. Untuk kontrak Desember dan Januari 2026 masing-masing terpangkas 30 dan 27 Ringgit.
Ekspor Anjlok Nyaris Dua Digit, Sentimen Terguncang
Sumber utama tekanan datang dari data ekspor sawit Malaysia yang menunjukkan penurunan cukup signifikan sepanjang 1–25 Juli 2025.
Menurut data Intertek Testing Services yang dikutip Bernama, volume ekspor hanya mencapai 1.029.585 ton, atau turun 9,23% dibandingkan bulan Juni.
Sementara itu, data dari AmSpec Agri Malaysia mencatat penurunan yang lebih dalam, yakni 15,22% ke 896.484 ton.
Anilkumar Bagani dari Sunvin Group menyebut penurunan ekspor sebagai faktor utama kejatuhan harga CPO, terutama karena periode tersebut biasanya mencerminkan tren pembelian kuartal ketiga.
Investor kini mempertanyakan ketahanan permintaan global, terutama dari pasar tradisional seperti India dan China yang belum menunjukkan pemulihan signifikan.
Harga Terseret Faktor Global: Produksi Naik, Kedelai Turun
Kekhawatiran pasar tidak berhenti pada sisi ekspor. Tekanan tambahan datang dari proyeksi peningkatan produksi sawit dalam beberapa pekan ke depan.
Pedagang CPO David Ng menilai bahwa pasar sedang dihantui kombinasi sentimen negatif: suplai yang membesar dan pelemahan harga minyak nabati lain, terutama minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT).
Minyak kedelai yang biasa menjadi substitusi utama CPO mengalami koreksi harga, sehingga menurunkan daya saing minyak sawit secara relatif di pasar global.
Kondisi ini memicu aksi ambil untung dan menekan minat beli di pasar derivatif.
Level Teknis Kritis Jadi Perhatian Pelaku Pasar
David Ng menyebut bahwa saat ini pasar sedang menguji level support kritis di 4.200 Ringgit Malaysia per ton, yang menjadi titik pantul potensial bila tekanan tidak berlanjut.
Sementara itu, resistance terdekat diperkirakan berada di kisaran 4.350 Ringgit, yang menjadi batas psikologis untuk reli jangka pendek.
Pergerakan CPO dalam waktu dekat sangat bergantung pada rilis data produksi akhir Juli dan sinyal pembelian dari negara-negara importir utama.
Namun tanpa pemulihan ekspor atau perubahan signifikan dalam permintaan global, harga CPO berisiko tetap tertekan hingga menjelang September.
Pasar kini menanti apakah koreksi ini akan menjadi peluang beli atau awal dari tren penurunan jangka menengah.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.









