BisnisEnergi

Ekspor Batu Bara RI Anjlok, China-India Beralih ke Energi Lebih Padat

66
Ekspor Batu Bara RI Anjlok, China-India Beralih ke Energi Lebih Padat
Ekspor batu bara Indonesia ke China dan India anjlok hingga 14,3% akibat peralihan ke batu bara berkalori tinggi. RI hadapi tantangan efisiensi energi global.

Batu Bara RI Tergusur di Pasar Utama Asia

JAKARTA, BursaNusantara.com – Di tengah gejolak pasar global, ekspor batu bara Indonesia menghadapi pukulan telak dari perubahan strategi energi dua negara pengimpor terbesar dunia, China dan India.

China dan India Geser Permintaan ke Batu Bara Kalori Tinggi

Dalam lima bulan pertama 2025, kedua negara raksasa ekonomi ini mengurangi pembelian batu bara termal dari Indonesia secara signifikan.
China mencatat penurunan impor batu bara asal Indonesia sebesar 12,3%, sementara India lebih tajam dengan penurunan 14,3%.
Langkah ini bukan semata-mata pengurangan permintaan, melainkan pergeseran preferensi menuju batu bara dengan nilai kalor (calorific value/CV) lebih tinggi.
Tren ini muncul seiring anjloknya harga global, yang menjadikan batu bara berkualitas tinggi lebih kompetitif secara ekonomi.

Direktur I-Energy Natural Resources, Vasudev Pamnani, menyebut satu juta ton batu bara ber-CV tinggi dapat menggantikan hingga 1,5 juta ton batu bara biasa.
Dari sisi efisiensi, pembeli hanya mengeluarkan sedikit lebih mahal untuk mendapatkan output energi yang jauh lebih besar.

Mongolia, Rusia dan Afrika Selatan Jadi Pesaing Serius Indonesia

Tekanan terhadap batu bara RI tidak hanya datang dari kebijakan pembeli, tetapi juga dari pesaing regional yang agresif memanfaatkan momentum.
Di China, pasokan batu bara kalori sedang dan rendah asal Indonesia kini harus bersaing dengan produk serupa dari Rusia yang dijual dengan harga diskon.
Data Kpler mencatat ekspor batu bara termal Indonesia ke China anjlok 12,9% sepanjang Januari–Mei 2025.

Sementara itu, Mongolia mencatat lonjakan ekspor ke China sebesar 44,8%, dan Australia naik 3,4%.
Kondisi serupa terjadi di India, di mana Afrika Selatan mencatat lonjakan ekspor 26,1% pada periode yang sama.
Pasar India bahkan mulai dilirik negara-negara nontradisional seperti Tanzania, Kazakhstan, dan Mozambik.

Anjloknya Harga, Kejar Efisiensi, dan Arah Baru Industri

Menurut analis Mysteel, Xue Dingcui, ekspor Mongolia akan terus meningkat karena efisiensi logistik dan harga jual yang tetap kompetitif.
Ironisnya, walaupun harga batu bara termal di China turun, harga batu bara Mongolia justru tetap menguntungkan karena lebih efisien dalam penggunaannya.
Indeks harga batu bara Indonesia dan Australia menunjukkan tren turun sejak Oktober 2023, dengan patokan Australia merosot lebih tajam.
Namun, kualitas batu bara Australia lebih disukai pasar China, memperbesar tantangan bagi produsen Indonesia.

Ramli Ahmad, Direktur Utama Ombilin Energi, menyebut batu bara Indonesia masih punya peluang bangkit jika konflik geopolitik seperti di Timur Tengah mendongkrak harga batu bara kalori tinggi.
Namun ia memperingatkan bahwa batu bara berkalori rendah akan tetap tertekan selama mutu lebih tinggi tetap tersedia secara kompetitif.

Dampak Jangka Pendek: Ekspor Merosot, Domestik Jadi Andalan

Total ekspor batu bara Indonesia sepanjang Januari–Mei 2025 turun 12% menjadi 187 juta ton, menurut data Kpler.
Impor China turun hampir 10% menjadi 137,4 juta ton, sementara India turun lebih dari 5% menjadi 74 juta ton.
Penurunan ini membuat para penambang dalam negeri mengalihkan fokus ke pasar domestik.
Asosiasi Jasa Pertambangan Indonesia memproyeksikan pengiriman lokal naik 3% tahun ini.

Ekspor diperkirakan turun 10% sepanjang 2025, menandai tahun penuh tekanan bagi produsen batu bara nasional.
Langkah ini juga menjadi bentuk respons terhadap menurunnya daya saing batu bara RI di pasar ekspor utama.

Kebijakan Energi Global Ubah Lansekap Pasar Indonesia

Peralihan China dan India ke batu bara dengan efisiensi energi lebih tinggi mencerminkan pergeseran paradigma energi global.
Kedua negara kini tidak lagi sekadar mencari pasokan murah, tetapi juga mengedepankan rasio energi terhadap biaya.
Langkah ini menyiratkan bahwa Indonesia perlu memikirkan ulang strategi ekspor dan mulai mempertimbangkan peningkatan kualitas produksi.

Ketergantungan terhadap volume ekspor besar dengan kualitas sedang atau rendah mulai kehilangan relevansinya.
Produsen Indonesia didorong untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar baru yang lebih menuntut efisiensi dan mutu.

Tekanan Geopolitik Bisa Ubah Arah, Tapi Tidak Permanen

Konflik di Timur Tengah masih menjadi variabel tak terduga yang bisa mengganggu stabilitas pasar energi.
Jika harga minyak dan batu bara berkualitas tinggi kembali melonjak akibat eskalasi konflik, batu bara Indonesia bisa kembali dilirik.
Namun, ketergantungan pada faktor eksternal bukan strategi berkelanjutan bagi sektor batu bara nasional.

Ke depan, investasi dalam teknologi pencucian batu bara, peningkatan CV, serta diversifikasi pasar menjadi keharusan.
Jika tidak, Indonesia akan terus kehilangan posisi strategisnya di peta perdagangan energi dunia.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version