Geser Kebawah
HeadlineKomoditasPasar

Ekspor Batu Bara RI ke China Turun, Disalip Rusia

88
×

Ekspor Batu Bara RI ke China Turun, Disalip Rusia

Sebarkan artikel ini
Ekspor Batu Bara RI ke China Turun, Disalip Rusia
Ekspor batu bara Indonesia ke China turun 9% pada Maret 2025. Rusia catat kenaikan ekspor, sementara permintaan batu bara China terus melemah.

JAKARTA, BursaNusantara.com – Volume ekspor batu bara Indonesia ke China menunjukkan tren pelemahan pada Maret 2025, mencatat penurunan sebesar 9% secara tahunan.

Di saat yang sama, pasokan dari Rusia justru mengalami peningkatan 6%, menandai pergeseran kompetisi pasokan energi ke pasar China yang semakin dinamis.

Sponsor
Iklan

Penurunan ekspor dari Indonesia ini tercermin dalam data impor batu bara China yang turun menjadi 17,96 juta metrik ton sepanjang bulan tersebut.

Meski Indonesia masih mendominasi sebagai pemasok utama, posisi pasar mulai terancam seiring meningkatnya volume dari negara pesaing.

Dampak Penyesuaian Harga Batubara Acuan

Penurunan ekspor ini terjadi tak lama setelah penerapan kebijakan baru Harga Batu Bara Acuan (HBA) oleh pemerintah Indonesia, yang mulai berlaku pada 1 Maret 2025.

Berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 80.K/MB.01/MEM.B/2025, HBA kini ditetapkan dua kali sebulan dan digunakan sebagai patokan harga ekspor.

Kebijakan ini memberikan sinyal kuat ke pasar, namun juga berkonsekuensi pada daya saing harga ekspor, khususnya di tengah tekanan permintaan yang mulai merosot di negara tujuan utama seperti China.

Rusia Ambil Alih Momentum

Sementara ekspor dari Indonesia menurun, Rusia mengambil peluang dengan meningkatkan pasokan ke China sebesar 6%, mencapai 7,33 juta metrik ton selama Maret 2025.

Kenaikan ini menjadikan Rusia sebagai pesaing signifikan dalam pasar batu bara China yang tengah mencari efisiensi harga dan kestabilan pasokan.

Lesunya Permintaan Domestik dan Meningkatnya Energi Terbarukan

Secara keseluruhan, impor batu bara China turun 6% pada bulan tersebut. Kondisi ini terjadi akibat tingginya stok di pelabuhan serta lemahnya konsumsi dalam negeri.

Harga spot batu bara di China pun anjlok ke level terendah dalam empat tahun terakhir.

Tekanan tambahan juga datang dari sektor pembangkit listrik. Output pembangkit termal yang sebagian besar berbasis batu bara turun 2,3% pada Maret dan 4,7% pada kuartal I-2024, menurut data dari Biro Statistik Nasional China (NBS).

Sebaliknya, energi terbarukan mulai mendominasi. Pembangkit listrik tenaga air mengalami peningkatan signifikan sebesar 9,5% menjadi 78,1 miliar kWh, menandai pergeseran strategi energi domestik China dari batu bara menuju sumber yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Tren ini menunjukkan tantangan baru bagi pelaku industri batu bara di Indonesia dalam mempertahankan pangsa pasar ekspor, khususnya ke negara dengan strategi diversifikasi energi yang agresif seperti China.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Tinggalkan Balasan