Ekspor Meledak: Sawit, Emas, dan Logam Dominasi Lonjakan Nilai
JAKARTA, BursaNusantara.com – Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Indonesia justru mencetak tonggak baru dalam ekspor nasional dengan nilai mencapai US$23,44 miliar per Juni 2025.
Angka ini bukan sekadar naik 11,29% secara tahunan, tapi juga menjadi cermin kebangkitan tiga sektor utama: logam mulia, minyak sawit, dan bijih logam.
Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor nonmigas mendominasi hingga US$22,33 miliar, sementara ekspor migas hanya menyumbang US$1,11 miliar.
Fenomena mencolok justru datang dari komoditas yang selama ini kerap terabaikan: bijih logam, terak, dan abu melonjak 3.736,49%, mencetak rekor pertumbuhan paling agresif sejak 10 tahun terakhir.
Kenaikan fantastis ini berkontribusi sebesar 3,09% terhadap total ekspor nasional, menggambarkan perubahan struktur permintaan global terhadap bahan mentah industri berat.
Lemak dan minyak hewani atau nabati terutama minyak sawit ikut menopang dengan pertumbuhan 22,05% dan menyumbang andil 2,85% terhadap total ekspor.
Namun yang paling mencengangkan justru datang dari sektor logam mulia, perhiasan, dan permata yang melambung 104,44%, mengukuhkan Indonesia sebagai eksportir strategis di pasar barang berharga.
Sektor Pengolahan Jadi Mesin Utama Ekspor Nasional
Nilai ekspor dari sektor industri pengolahan mencapai US$19 miliar, menyumbang 81% dari total ekspor nonmigas bulan Juni.
Pertumbuhan tahunan sebesar 16,75% dalam sektor ini bukan hanya mencerminkan daya saing produk manufaktur Indonesia, tetapi juga peningkatan signifikan dalam nilai tambah yang dihasilkan dalam negeri.
Komoditas seperti semikonduktor, peralatan listrik, dan bahan kimia dasar organik menjadi penopang utama peningkatan nilai ekspor pengolahan.
Data BPS menggarisbawahi bahwa peningkatan ekspor barang elektronik dan produk berbasis teknologi menunjukkan sinyal awal transformasi struktural ekonomi nasional menuju industri berbasis inovasi.
Sebaliknya, sektor pertanian dan kehutanan, meski volumenya kecil, mencatat lonjakan signifikan sebesar 49,55% secara tahunan, mencapai US$590 juta.
Sektor ini kembali membuktikan peran strategisnya sebagai penyeimbang neraca perdagangan di saat sektor tambang dan energi mengalami fluktuasi.
Dominasi Industri dalam Tren Ekspor Semester Pertama
Secara kumulatif Januari–Juni 2025, total ekspor Indonesia mencapai US$135,41 miliar, naik 7,7% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Sektor industri pengolahan memegang kendali penuh atas tren ini dengan kontribusi sebesar 12,16%, menjadikannya motor utama ekspor nasional.
Kinerja ekspor migas justru mengalami kontraksi tajam, turun 11,04% menjadi US$7,03 miliar, namun tertutupi oleh kekuatan sektor nonmigas yang mencetak angka US$128,39 miliar atau tumbuh 8,96%.
Dengan data ini, jelas bahwa sektor pengolahan bukan hanya andalan jangka pendek, tetapi juga representasi masa depan struktur ekspor Indonesia yang lebih bernilai tinggi dan tahan gejolak global.
Meski demikian, tantangan ke depan masih besar: dari sisi geopolitik, fluktuasi harga komoditas, hingga ketergantungan ekspor terhadap pasar tradisional yang mulai jenuh.
Namun lonjakan bijih logam dan logam mulia memberi harapan baru bahwa Indonesia tidak lagi sekadar pengekspor bahan mentah, tapi siap naik kelas sebagai penentu arus global barang strategis.












