Geser Kebawah
AgrobisnisBisnisHeadline

Ekspor Sawit Indonesia Didominasi Produk Hilir, Gapki Khawatirkan Tarif

636
×

Ekspor Sawit Indonesia Didominasi Produk Hilir, Gapki Khawatirkan Tarif

Sebarkan artikel ini
Ekspor Sawit Indonesia Didominasi Produk Hilir, Gapki Khawatirkan Tarif
Ekspor sawit Indonesia didominasi produk hilir (90%), namun Gapki minta penundaan kenaikan tarif ekspor CPO 10% karena khawatirkan daya saing di pasar global.

Ekspor Produk Hilir Sawit Capai 90% dari Total Pengiriman

JAKARTA, BursaNusantara.com – Industri sawit Indonesia menunjukkan transformasi signifikan dengan dominasi produk hilir dalam ekspor.

Data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mencatat volume ekspor Januari-Februari 2025 mencapai 4,76 juta ton, dimana 90% diantaranya merupakan produk olahan.

Sponsor
Iklan

Refined Palm Oil (RPO) menjadi kontributor utama dengan realisasi ekspor 3,52 juta ton. Produk ini merupakan hasil olahan lanjutan dari minyak sawit mentah (CPO) yang telah melalui proses penyulingan. Disusul kemudian oleh ekspor oleokimia yang mencapai 752.000 ton pada periode yang sama.

Baca Juga: Penurunan Ekspor Minyak Sawit Indonesia di Januari 2025

Kebijakan Tarif Ekspor dan Kekhawatiran Industri

Pemerintah secara resmi menaikkan tarif pungutan ekspor (PE) untuk CPO dan produk turunannya dari 7,5% menjadi 10% mulai 17 Mei 2025. Kebijakan ini diambil sebagai bagian dari strategi pengendalian ekspor komoditas primer.

Namun Gapki melalui Ketua Umum Eddy Martono telah mengajukan permohonan penundaan implementasi kebijakan ini.

“Situasi internasional sedang kurang menguntungkan dengan adanya kebijakan tarif tinggi Amerika Serikat serta ketegangan geopolitik antara India dan Pakistan,” jelas Eddy. Kedua negara tersebut merupakan pasar utama ekspor sawit Indonesia.

Baca Juga: Produksi CPO 2025 Diprediksi Stagnan, Ekspor Terancam Turun







Bagaimana menurut Anda tentang kebijakan kenaikan tarif ekspor CPO ini? Apakah akan berdampak signifikan terhadap kinerja industri sawit nasional?