Dominasi China Ganggu Rantai Pasok Global
JAKARTA, BursaNusantara.com – Kekhawatiran atas dominasi China dalam rantai pasok mineral kritis kembali melonjak menyusul pembatasan ekspor logam tanah jarang yang mulai berdampak luas terhadap industri otomotif global.
Produsen mobil Jerman bergabung dalam daftar panjang negara yang mendesak Beijing agar membuka keran ekspor, menyusul keluhan serupa dari pelaku industri Amerika Serikat dan India.
Ekspor Magnet Tersendat, Dunia Panik
Penghentian ekspor campuran dan magnet tanah jarang oleh China sejak April telah menghambat rantai produksi sektor kendaraan listrik, pesawat, dan semikonduktor.
China memberlakukan pembatasan ini di tengah meningkatnya ketegangan dagang dengan pemerintahan Presiden Donald Trump, yang sebelumnya menaikkan tarif barang China hingga 145%.
Izin Ekspor Tertahan di Pelabuhan
Keterlambatan izin ekspor menyebabkan penumpukan pengiriman di pelabuhan China.
Kondisi ini menimbulkan kegelisahan di ruang rapat korporasi dan pusat-pusat pemerintahan negara besar, termasuk AS, Jepang, India, dan Eropa.
“Jika situasinya tidak segera berubah, penundaan hingga penghentian produksi tidak bisa dihindari,” kata Hildegard Mueller, Ketua Asosiasi Industri Otomotif Jerman.
Delegasi Dunia Bergerak Tekan Beijing
Diplomat dan pelaku industri dari berbagai negara mulai mengambil langkah darurat.
Delegasi bisnis Jepang dan pejabat Eropa dikabarkan tengah menjadwalkan pertemuan dengan otoritas perdagangan China.
India juga bersiap mengirim eksekutif otomotif menyusul peringatan dari Bajaj Auto soal risiko gangguan produksi EV.
AS: “Waktu Terbaik Bertindak Itu Kemarin”
Pemerintahan Trump memantau ketat kepatuhan China terhadap aturan perdagangan internasional.
Eks pejabat energi AS, Frank Fannon, menyebut krisis ini akibat lambatnya inisiatif membangun rantai pasok nasional.
“Kita butuh pendekatan lintas sektor untuk mengamankan pasokan,” ujarnya.
Aliansi produsen otomotif AS yang mencakup GM, Toyota, Volkswagen, dan Hyundai telah memperingatkan bahwa tanpa akses ke magnet tanah jarang, produksi komponen vital kendaraan bisa lumpuh.












