Emas Tertekan Dolar dan Ketidakpastian Dagang Global
JAKARTA, BursaNusantara.com – Harga emas dunia mengalami tekanan signifikan pada Selasa (3/6/2025), setelah sempat menguat dan menyentuh level tertinggi dalam hampir empat pekan. Aset safe haven ini tergelincir 0,8% menjadi US$3.352,4 per ons troi.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS juga mencatat penurunan 0,6% ke posisi US$3.377,10 per ons. Pergerakan ini terjadi seiring penguatan dolar AS yang kembali menarik minat pelaku pasar.
Dolar AS Menguat, Tekan Daya Tarik Emas Global
Kinerja dolar AS yang naik 0,5% dari posisi terendah satu bulan terakhir turut menekan harga emas. Penguatan ini membuat logam mulia menjadi lebih mahal bagi investor luar negeri.
Baca Juga: Harga CPO Naik, Didukung Permintaan India dan Minyak Mentah
Kondisi tersebut memicu penurunan permintaan terhadap aset lindung nilai, terutama dari pasar global. Menurut analis, fase ini menandai dimulainya musim sepi perdagangan emas di musim panas.
Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures David Meger menyebut pasar emas berpotensi stagnan. “Kita memasuki musim konsolidasi, pasar bergerak datar menanti sinyal baru,” ujarnya.
Ketegangan AS-China dan Eropa Ganggu Sentimen
Kekhawatiran geopolitik kembali meningkat menjelang kemungkinan komunikasi antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Trump menuding China melanggar kesepakatan tarif, memicu ketegangan dagang lanjutan.
Baca Juga: Rupiah Menguat Tipis, Pasar Tunggu Data Ketenagakerjaan AS
Komisi Eropa turut bereaksi dengan mendorong penurunan tarif AS. Di sisi lain, Trump justru mengusulkan pelipatan tarif produk baja dan aluminium.
Pemerintah AS juga memberikan tenggat waktu kepada negara mitra hingga Rabu untuk mengajukan proposal baru dalam perundingan dagang. Tekanan terhadap mitra dagang ini menjadi fokus investor global.
Pasar Menanti Data Ekonomi dan Arah Suku Bunga
Pelaku pasar kini menanti rilis data nonfarm payrolls AS pada Jumat, serta pernyataan pejabat The Fed untuk petunjuk arah suku bunga. Data lowongan kerja April menunjukkan kenaikan PHK, sinyal potensi pelemahan ekonomi.
Meger menilai The Fed kemungkinan akan memangkas suku bunga, meski tidak dalam waktu dekat. “Saya percaya The Fed siap memangkas lagi, mungkin pada September,” jelasnya.
Baca Juga: Harga Minyak Tembus Tertinggi 2 Pekan, Ketegangan Global Memanas
Suku bunga rendah secara historis mendukung penguatan harga emas sebagai aset safe haven. Sepanjang tahun ini, harga emas telah naik sekitar 28%.
Perak dan Logam Mulia Lainnya Juga Alami Volatilitas
Harga perak turut turun 0,8% menjadi US$34,51 per ons, meskipun masih dekat level tertinggi tujuh bulan terakhir. Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank Ole Hansen menyoroti potensi dukungan tren energi hijau terhadap perak.
Baca Juga: Harga Batu Bara Tertekan, China dan India Ubah Arah Pasar
“Reli perak bisa terdorong dari kuatnya permintaan China, terbatasnya pasokan global, dan dukungan tren energi bersih,” ujar Hansen.
Sementara itu, harga platinum naik 0,9% ke US$1.073,14 per ons, dan palladium melejit 2,1% menjadi US$1.009,83 per ons, menunjukkan daya tarik logam industri di tengah ketidakpastian global.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












