Emas Tembus US$3.290, Investor Global Cari Perlindungan
JAKARTA, BursaNusantara.com – Lonjakan harga emas dunia menjelang tenggat waktu tarif impor Amerika Serikat kembali menggambarkan satu hal penting: investor global sedang panik menghadapi ketidakpastian ekonomi.
Harga emas spot tercatat naik 0,46% ke US$3.290,24 per troi ons pada perdagangan Kamis (31/7/2025).
Sementara itu, harga emas berjangka AS justru sedikit melemah 0,2% ke US$3.347,80 per ons.
Lonjakan harga ini terjadi di tengah meningkatnya kecemasan pasar terkait kebijakan Presiden Donald Trump soal tarif impor.
Investor internasional ramai-ramai keluar dari aset berisiko dan masuk ke emas sebagai perlindungan nilai.
Emas Jadi Pelarian Saat Ketegangan Perdagangan Memuncak
“Ketidakpastian meningkat tajam menjelang 1 Agustus. Ini membuat emas kembali diburu sebagai safe haven,” ujar Peter Grant dari Zaner Metals.
Grant menyebut harga emas kini berada di rentang menengah sekitar US$3.312 per ons, dan bila mampu menembus puncak pekanan, arah penguatan jangka pendek semakin terbuka.
Pasar kini menanti dengan was-was apakah Trump benar-benar akan mengeksekusi ancaman tarif tambahan terhadap produk dari Brasil dan Korea Selatan.
Yang paling mengguncang adalah pengumuman mendadak tentang tarif 50% terhadap produk tembaga seperti kabel dan pipa.
Langkah ini dianggap bukan hanya memukul mitra dagang, tetapi juga menimbulkan efek domino terhadap seluruh pasar logam.
Inflasi Naik, The Fed Tahan Suku Bunga, Emas Terangkat
Dalam konteks domestik, tekanan tarif sudah terasa di dalam negeri AS.
Data inflasi yang dirilis Kamis malam menunjukkan indeks PCE naik 0,3% pada Juni, naik dari revisi Mei yang berada di 0,2%.
Harga barang naik tajam, sebagian besar akibat beban tarif yang dibebankan pada jalur impor.
Namun, meski tekanan harga naik, Federal Reserve memilih menahan suku bunga acuannya.
Dalam pertemuan 30 Juli 2025, The Fed menolak memberi sinyal akan memotong suku bunga dalam waktu dekat.
Komentar Ketua The Fed Jerome Powell terdengar berhati-hati, bahkan sedikit hawkish, membuat pelaku pasar kembali meragukan arah pelonggaran moneter.
Tetapi, justru itulah yang mendorong emas menguat lebih lanjut, mengingat sifatnya sebagai aset tanpa imbal hasil.
Saat suku bunga tetap rendah atau bahkan berpotensi stagnan, emas menjadi semakin menarik secara relatif.
Logam Lain Tumbang, Tembaga Seret Pasar Turun
Tak seperti emas, logam mulia lainnya justru tergelincir.
Harga perak anjlok 1,3% ke US$36,63 per ons—terendah dalam tiga pekan terakhir.
Platinum jatuh 2,1% ke US$1.285,09 per ons dan paladium turun 1,8% ke US$1.184,05.
“Pelemahan ini tidak bisa dilepaskan dari sentimen negatif di pasar tembaga,” kata Jim Wyckoff dari Kitco Metals.
Pasar terkejut saat Trump mengumumkan kebijakan tarif 50% terhadap pipa dan kabel tembaga impor.
Harga tembaga langsung tumbang lebih dari 20% di bursa COMEX, dan dampaknya menjalar ke logam lain.
Terbentuknya efek limpahan ini menunjukkan betapa pasar global saat ini sangat rentan terhadap kebijakan unilateral AS.
Pasar Tunggu Data Non-Farm Payrolls Sebagai Katalis
Fokus pasar kini bergeser ke laporan ketenagakerjaan AS yang akan dirilis Jumat (1/8/2025).
Data non-farm payrolls diperkirakan akan memberi petunjuk baru mengenai kekuatan ekonomi AS di tengah tekanan harga dan tarif.
Jika data ketenagakerjaan ternyata melemah, maka tekanan terhadap The Fed untuk melonggarkan kebijakan akan semakin kuat.
Skenario ini bisa mendorong harga emas menembus level resistance mingguan dan berpotensi ke area psikologis US$3.350 per ons.
Namun, jika data ketenagakerjaan justru solid, maka kemungkinan besar emas akan terkoreksi kembali dalam jangka pendek.
Tetapi di tengah kabut ketidakpastian seperti saat ini, emas tetap menjadi pilihan utama pelaku pasar global yang ingin bertahan di tengah badai.
Tak hanya bagi spekulan, tren ini juga relevan bagi investor ritel di Asia, termasuk Indonesia.
Harga emas dalam rupiah pun turut terdongkrak, memberikan potensi gain bagi investor logam mulia domestik.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.







