Harga Emas Cetak Rekor Baru di Tengah Ketidakpastian Global
Harga emas kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada Selasa (4/2/2025) seiring meningkatnya permintaan aset safe haven. Investor beralih ke emas setelah China membalas kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) yang diberlakukan Presiden Donald Trump.
Mengutip CNBC International, harga emas spot naik 1,1% ke level US$ 2.843,06 per ons, setelah sebelumnya sempat menyentuh rekor tertinggi di US$ 2.845,14. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS meningkat 0,6% menjadi US$ 2.873,7 per ons.
Menurut Bob Haberkorn, analis senior di RJO Futures, kebijakan tarif AS menjadi faktor utama yang mendorong pergerakan harga emas saat ini. “Data ekonomi yang dirilis kemungkinan akan tertutup oleh isu tarif,” ujarnya.
Perang Dagang AS-China Dorong Kenaikan Emas
Ketegangan perdagangan antara AS dan China semakin memanas setelah China mengenakan tarif balasan terhadap produk impor AS.
Langkah ini memperburuk situasi perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia, meskipun Trump sebelumnya memberikan kelonggaran tarif untuk Meksiko dan Kanada.
Investor melihat ketidakpastian ekonomi global sebagai pemicu peningkatan permintaan emas. Secara historis, emas dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan risiko geopolitik.
Dolar AS Melemah, Emas Makin Menarik
Selain faktor perang dagang, pelemahan dolar AS juga menjadi pendorong utama kenaikan harga emas. Mata uang AS tercatat melemah 0,5%, yang membuat emas lebih murah bagi pemegang mata uang lain.
Tiga pejabat Federal Reserve (The Fed) memperingatkan bahwa kebijakan tarif AS dapat meningkatkan risiko inflasi. Salah satu dari mereka menegaskan bahwa ketidakpastian terhadap prospek harga mengharuskan pemangkasan suku bunga yang lebih lambat dari perkiraan sebelumnya.
Data Ekonomi AS Jadi Sorotan
Data terbaru menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan di AS pada Desember 2024 turun menjadi 7,6 juta, lebih rendah dari estimasi konsensus sebesar 8 juta. Ini mengindikasikan kemungkinan perlambatan ekonomi yang dapat memperkuat permintaan terhadap aset safe haven seperti emas.
Investor kini menantikan laporan ketenagakerjaan ADP pada Rabu (5/2/2025) dan laporan nonfarm payrolls pada Jumat (7/2/2025), serta beberapa pernyataan dari pejabat The Fed yang berpotensi mempengaruhi kebijakan suku bunga.
Proyeksi Harga Emas ke Depan
Menurut analis senior di Kitco Metals, Jim Wyckoff, ketidakstabilan yang disebabkan oleh kebijakan AS serta potensi peningkatan pembelian emas oleh bank sentral dapat mendorong harga emas menuju US$ 3.000 per ons tahun ini.
Selain emas, harga perak spot naik 1,9% menjadi US$ 32,15 per ons, platinum meningkat 0,1% ke US$ 965,30, sementara paladium justru turun 1,8% ke US$ 990,84 per ons.
Pasar emas global saat ini dipengaruhi oleh berbagai faktor makroekonomi dan kebijakan politik. Para investor disarankan untuk terus memantau perkembangan perang dagang, kebijakan moneter The Fed, serta fluktuasi dolar AS untuk mengantisipasi pergerakan harga emas selanjutnya.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












