HeadlineKomoditasPasar

Emas Tembus US$3.363: The Fed Melemah, Safe Haven Bersinar

86
Emas Tembus US$3.363 The Fed Melemah, Safe Haven Bersinar
Harga emas melonjak usai data tenaga kerja AS jeblok dan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed naik. Safe haven jadi incaran investor global.

Emas Melesat, Data Lemah dan Gejolak Global Dongkrak Daya Tarik

NEW YORK, BursaNusantara.com – Harga emas spot melonjak 2,24% ke US$ 3.363,48 per ons pada Jumat (1/8/2025), tertinggi dalam sepekan terakhir, setelah data tenaga kerja Amerika Serikat di bawah ekspektasi mendorong spekulasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed.

Kenaikan ini juga diperkuat oleh kekhawatiran baru dari sisi geopolitik dan perdagangan global, menyusul langkah Presiden AS Donald Trump yang kembali memicu ketegangan tarif lintas negara.

Daya tarik emas sebagai aset lindung nilai pun menguat, seiring meningkatnya ketidakpastian arah kebijakan moneter dan risiko perlambatan ekonomi global.

Sepanjang pekan, emas naik tipis 0,4%, namun penguatan di akhir pekan menjadi sinyal penting bahwa investor kembali berpaling ke aset safe haven.

Kontrak berjangka emas AS pun ditutup naik 1,9% ke level US$ 3.413,4 per ons, mempertegas tren positif jangka pendek.

Data Payroll AS Lemah, Tekanan The Fed Bertambah

Departemen Tenaga Kerja AS mencatat penambahan lapangan kerja hanya sebesar 73 ribu pada Juli, jauh dari ekspektasi pasar.

Lebih buruknya lagi, data Juni direvisi menjadi hanya 14 ribu, memperkuat kesan bahwa pasar tenaga kerja AS mulai melemah struktural.

Analis melihat data ini sebagai dorongan kuat bagi The Fed untuk segera melonggarkan kebijakan moneternya guna menahan perlambatan ekonomi.

Kepala Strategi Komoditas TD Securities, Bart Melek, menyebut kondisi ini sebagai sinyal awal bahwa The Fed kemungkinan memangkas suku bunga dalam waktu dekat.

Saat ini pasar memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga hingga akhir tahun, dengan peluang pertama muncul pada FOMC bulan September.

Langkah ini akan sangat menguntungkan emas yang tidak menawarkan imbal hasil, karena suku bunga rendah membuat opportunity cost memegang emas menjadi lebih kecil.

Tarif Dagang Trump Kembali Mengguncang Pasar Global

Dalam langkah yang mengejutkan pasar global, Presiden Trump mengumumkan tarif baru terhadap sejumlah negara mitra dagang utama AS.

Negara-negara seperti Kanada, India, Brasil, dan Taiwan termasuk dalam daftar terbaru tarif tersebut.

Langkah proteksionis ini meningkatkan risiko ketegangan dagang lintas kawasan, memicu kekhawatiran resesi, serta mendorong pelarian dana ke aset aman.

Gejolak yang ditimbulkan menciptakan atmosfer pasar yang cenderung risk-off, memperkuat permintaan terhadap logam mulia sebagai pelindung nilai dan alat diversifikasi.

Investor global langsung merespons dengan memburu emas, mempercepat reli harga di pasar spot dan berjangka.

Kombinasi antara pelemahan data ekonomi dan kebijakan dagang agresif menciptakan lingkungan ideal bagi penguatan harga emas dalam jangka menengah.

Ketegangan Inflasi, Tarif, dan Upah Jadi Dilema The Fed

Ketua The Fed Jerome Powell menyatakan belum ada keputusan terkait suku bunga bulan September, namun situasi makro yang kompleks menekan opsi kebijakan yang tersedia.

Di satu sisi, tekanan inflasi dari tarif dan kenaikan upah mendorong kekhawatiran harga, namun di sisi lain lemahnya tenaga kerja memperbesar urgensi stimulus moneter.

Melek menilai, jika The Fed menurunkan suku bunga dalam situasi seperti ini, maka emas akan mendapatkan keuntungan maksimal dari semua sisi.

Pasar pun mulai menyesuaikan portofolio mereka dengan skenario pelonggaran, termasuk meningkatkan eksposur ke aset non-yielding seperti emas dan perak.

Investor institusional dan manajer dana global disebut mulai melakukan rotasi aset dari ekuitas ke logam mulia sejak awal Juli.

Logam Mulia Lain Ikut Naik, Tapi Masih Melemah Mingguan

Tak hanya emas, sejumlah logam mulia lainnya turut menguat di perdagangan Jumat.

Harga perak naik 0,7% menjadi US$ 36,98 per ons, platinum menguat 1,6% ke US$ 1.309,27, dan palladium terkerek 1% ke US$ 1.203,52 per ons.

Namun demikian, secara mingguan, ketiga logam tersebut masih mencatatkan pelemahan akibat tekanan teknikal dan spekulasi jangka pendek.

Sinyal kuat baru terlihat jika emas mampu bertahan di atas US$ 3.350 dalam beberapa hari ke depan, membuka ruang penguatan lanjutan.

Di tengah kekhawatiran pasar dan ketidakpastian ekonomi global, daya tarik emas sebagai safe haven tampaknya belum akan surut dalam waktu dekat.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Grafik tidak tersedia karena JavaScript dinonaktifkan di browser Anda.
×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version