Geser Kebawah
HeadlineKomoditasPasar

Emas Tertekan, Dolar Menguat Usai AS-Eropa Sepakat Dagang

141
×

Emas Tertekan, Dolar Menguat Usai AS-Eropa Sepakat Dagang

Sebarkan artikel ini
Emas Tertekan, Dolar Menguat Usai AS-Eropa Sepakat Dagang
Harga emas turun 0,68% ke US$3.314,6 akibat penguatan dolar dan meningkatnya selera risiko usai kesepakatan dagang AS-Uni Eropa diteken.

Emas Terluka, Investor Berburu Risiko Setelah Trump Teken Kesepakatan Dagang

NEW YORK, BursaNusantara.com – Pasar emas global kembali tertekan pada awal pekan ini, dengan harga spot emas jatuh ke level terendah dalam hampir tiga pekan, terseret gelombang optimisme investor usai Amerika Serikat dan Uni Eropa meneken kesepakatan dagang strategis.

Pelemahan ini menjadi sinyal kuat bahwa permintaan aset lindung nilai melemah saat pasar memilih berburu imbal hasil dari aset berisiko, ditambah penguatan dolar AS yang memperburuk tekanan terhadap logam mulia.

Sponsor
Iklan

Spot emas merosot 0,68% ke posisi US$ 3.314,6 per troi ons, setelah sempat menyentuh level US$ 3.301,29, terendah sejak 9 Juli. Kontrak berjangka emas AS juga melemah 0,7% ke US$ 3.311,2.

Dolar AS Perkasa, Emas Jadi Kurang Menarik

Penguatan dolar AS ke level tertinggi dalam lebih dari sepekan menjadi faktor utama yang mendorong penurunan harga emas.

Dolar yang lebih kuat membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi investor global non-AS, mengurangi daya tarik emas sebagai aset safe haven.

Analis Marex, Edward Meir, menilai tren penguatan dolar semakin kuat seiring bertambahnya perjanjian dagang internasional yang diteken pemerintahan Trump, meningkatkan persepsi stabilitas makro ekonomi AS.

“Setiap kesepakatan dagang baru memperkuat dolar dan mendorong investor keluar dari aset lindung nilai seperti emas,” ujar Meir.

Kesepakatan Trump-Eropa Ubah Sentimen Global

Kesepakatan terbaru antara Presiden AS Donald Trump dan Komisi Eropa memberikan kejutan positif bagi pasar. Tarif 15% yang diberlakukan terhadap barang asal Uni Eropa dianggap moderat karena lebih rendah dari ancaman awal 30%.

Kesepakatan ini dianggap meredakan potensi perang dagang besar dan mendorong kenaikan selera risiko global. Hal ini menyebabkan investor berpindah dari emas menuju instrumen berisiko lebih tinggi seperti saham dan mata uang.

Kesepakatan ini juga memperpanjang momentum positif dari perjanjian serupa antara AS dan Jepang pekan lalu, dan memberikan dorongan tambahan bagi indeks-indeks global.

China–AS Kembali ke Meja Perundingan, Tapi Harapan Tipis

AS dan China dijadwalkan melanjutkan pembicaraan tarif di Stockholm pada Selasa (29/7/2025). Meski tidak diharapkan muncul kesepakatan besar, pertemuan ini tetap dipantau pelaku pasar sebagai indikator niat baik kedua pihak.

Menurut Meir, emas masih berpeluang rebound jika kesepakatan-kesepakatan ini sulit diimplementasikan atau dinilai tidak realistis oleh pasar.

Namun, selama persepsi risiko pasar tetap rendah, emas berisiko tertahan di bawah tekanan teknikal dan fundamental.

The Fed Jadi Penentu Arah Berikutnya

Investor kini menanti keputusan Bank Sentral AS (The Fed) yang akan diumumkan Rabu (30/7/2025), dalam pertemuan dua hari yang menjadi fokus utama pekan ini.

Mayoritas pelaku pasar memperkirakan suku bunga tetap di kisaran 4,25%–4,5%, namun spekulasi mengenai pemangkasan suku bunga pada September mulai beredar luas.

Suku bunga yang lebih rendah biasanya menjadi katalis positif bagi emas karena menurunkan opportunity cost memegang aset tanpa imbal hasil seperti logam mulia.

Jika The Fed memberi sinyal dovish, emas bisa menemukan pijakan untuk bangkit dari tekanan saat ini.

Logam Mulia Campuran, Palladium Justru Menguat

Di pasar logam mulia lainnya, pergerakan bervariasi. Harga perak turun 0,3% ke US$ 38,04 per ons, sedangkan platinum melemah 1,1% ke US$ 1.386,03.

Namun palladium mencatatkan kenaikan 1,5% ke US$ 1.238,18, didukung oleh permintaan industri otomotif dan pasokan yang masih terbatas.

Kontrasnya arah logam mulia mencerminkan betapa sentimen pasar masih terbelah antara ekspektasi pemulihan ekonomi dan kekhawatiran makro jangka menengah.

Sementara emas kehilangan daya tariknya untuk sementara, pasar logam tetap menjadi medan tarik-menarik antara risiko dan ketidakpastian.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.