Geser Kebawah
KeuanganMultifinance

Emiten Multifinance Masih Tertekan, BFIN dan CFIN Jadi Pengecualian

499
×

Emiten Multifinance Masih Tertekan, BFIN dan CFIN Jadi Pengecualian

Sebarkan artikel ini
Emiten Multifinance Masih Tertekan, BFIN dan CFIN Jadi Pengecualian
Meski sektor multifinance belum sepenuhnya pulih pada paruh pertama 2025, saham BFIN dan CFIN mencuri perhatian analis karena efisiensi dan potensi rebound teknikal.

BFIN dan CFIN Bersinar di Tengah Awan Gelap Sektor Multifinance

JAKARTA, BursaNusantara.com – Kinerja sektor multifinance pada paruh pertama 2025 menggambarkan lanskap industri yang penuh tantangan namun menyimpan peluang tersembunyi.

Beberapa emiten berhasil mencatat pertumbuhan laba signifikan, sementara lainnya justru mengalami penurunan tajam hingga merugi.

Sponsor
Iklan

Peta kinerja ini menunjukkan bahwa pasar multifinance belum kembali pada jalur pemulihan penuh pasca-pandemi dan tekanan suku bunga.

Namun, analis Kiwoom Sekuritas, Miftahul Khaer, menyoroti adanya celah positif pada saham tertentu yang mampu bertahan dan bahkan mencatatkan performa menonjol.

Dalam penilaiannya, faktor utama yang memengaruhi kinerja semester I-2025 adalah pertumbuhan pembiayaan baru yang cukup aktif, terutama di sektor kendaraan bekas dan UMKM.

Kinerja operasional pun turut mendapat perhatian, terutama efisiensi dalam menekan beban operasional.

Namun, di balik dinamika tersebut, tekanan dari naiknya cost of fund dan risiko kredit tinggi tetap menjadi batu sandungan utama bagi emiten multifinance.

BFIN: Efisiensi dan ROE Stabil Jadi Penopang Utama

Salah satu nama yang dinilai bersinar di tengah tekanan sektor adalah PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN).

BFIN disebut berhasil mencatatkan kinerja yang solid, ditopang oleh sejumlah indikator keuangan yang konsisten menguat.

Dari sisi laba bersih, BFIN mengalami kenaikan signifikan berkat efisiensi biaya dan peningkatan pembiayaan produktif.

Return on equity (ROE) BFIN juga tetap terjaga stabil, menandakan kemampuan perusahaan dalam mengelola modal dan menghasilkan profit yang berkelanjutan.

Piutang pembiayaan terus tumbuh, mencerminkan permintaan yang tetap kuat terhadap layanan pembiayaan yang disediakan BFIN.

Miftahul mengungkapkan bahwa pihaknya tetap merekomendasikan saham BFIN sebagai top pick untuk sektor multifinance saat ini.

Rekomendasi yang disematkan adalah overweight, dengan target harga konservatif di kisaran Rp 920 hingga Rp 1.000 per saham.

Sentimen positif ini mencerminkan ekspektasi pasar bahwa BFIN memiliki fundamental kuat yang akan terus menahan tekanan eksternal.

CFIN Dilirik Karena Potensi Rebound Teknikal

Selain BFIN, PT Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN) juga mulai mencuri perhatian analis berkat sejumlah perbaikan teknikal dan operasional.

Perusahaan dinilai mengalami perbaikan pada rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO), yang selama ini menjadi titik lemah utama.

Penurunan BOPO mengindikasikan efisiensi kerja yang makin baik dan memberi ruang pertumbuhan laba ke depan.

Dari sisi teknikal, Miftahul melihat adanya peluang rebound jangka pendek yang menjadikan saham CFIN cukup menarik dilirik oleh investor ritel maupun institusi.

Pergerakan harga yang mulai stabil membuka ruang bagi pergerakan naik dalam jangka menengah.

Kombinasi antara teknikal yang mulai menguat dan peningkatan efisiensi operasional memberi potensi bagi CFIN untuk mengejar ketertinggalan dari pemain utama lain di sektor ini.

ADMF, WOMF, dan BBLD Masih Dalam Tekanan

Berbeda dengan BFIN dan CFIN, sejumlah emiten lainnya seperti ADMF, WOMF, dan BBLD masih berjuang keluar dari tekanan profitabilitas yang cukup dalam.

Masalah utama yang mereka hadapi adalah tingginya risiko kredit dan kenaikan biaya dana (cost of fund) akibat tren suku bunga yang masih tinggi di awal tahun.

Profitabilitas yang melemah membuat kinerja keuangan mereka sulit tumbuh secara organik, dan investor cenderung wait and see terhadap pergerakan saham-saham tersebut.

Di sisi lain, ketidakmampuan untuk menekan biaya operasional juga mempersempit ruang ekspansi usaha.

Situasi ini menegaskan bahwa pemulihan sektor multifinance masih berlangsung secara tidak merata dan bergantung pada kekuatan fundamental masing-masing perusahaan.

Prospek Semester II: Sinyal Pemulihan Bertahap

Meski masih menghadapi tantangan struktural, sejumlah sentimen positif diprediksi akan menopang sektor multifinance di paruh kedua 2025.

Miftahul menyebutkan bahwa potensi penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia dapat menjadi katalis utama dalam menurunkan biaya dana.

Penurunan tersebut akan memberi napas bagi pelaku multifinance dalam mengatur kembali strategi pembiayaan yang lebih kompetitif.

Selain itu, kondisi makroekonomi yang mulai menunjukkan stabilitas juga menjadi titik terang bagi sektor pembiayaan.

Pemulihan daya beli masyarakat serta perbaikan sektor UMKM diharapkan dapat meningkatkan permintaan pembiayaan, terutama untuk kendaraan dan alat produksi.

Meskipun secara keseluruhan sektor ini masih dinilai stabil dan belum sepenuhnya pulih, ruang perbaikan mulai terbuka lebar pada semester mendatang.

Selektif Jadi Kunci Investasi di Saham Multifinance

Dari seluruh dinamika tersebut, investor dinilai perlu lebih selektif dalam memilih saham multifinance yang layak dikoleksi.

Saham seperti BFIN dan CFIN menjadi contoh bahwa kekuatan fundamental dan efisiensi operasional mampu menjadi pembeda utama di tengah gejolak industri.

Sementara saham dengan tekanan profitabilitas tinggi tetap perlu diwaspadai karena berisiko menyerap modal dalam jangka panjang tanpa hasil maksimal.

Di tengah pasar yang belum sepenuhnya pulih, pendekatan berbasis analisa fundamental dan sentimen teknikal tetap menjadi panduan utama bagi investor cerdas.

Dengan potensi katalis dari penurunan suku bunga dan pulihnya ekonomi domestik, sektor multifinance masih layak untuk diperhatikan, meski dengan sikap waspada yang tinggi.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.