Geser Kebawah
BisnisEnergi

Energi Mega Persada (ENRG) Genjot Produksi & Capex, Bidik Pertumbuhan

187
×

Energi Mega Persada (ENRG) Genjot Produksi & Capex, Bidik Pertumbuhan

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, BursaNusantara.com – PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), emiten energi dari Grup Bakrie, menegaskan ambisinya untuk mendorong pertumbuhan kinerja dengan menetapkan target peningkatan produksi minyak dan gas bumi sebesar 10% hingga 15% pada tahun 2025. Untuk menunjang langkah tersebut, ENRG menganggarkan belanja modal (capex) antara US$ 150 juta hingga US$ 170 juta.

Strategi utama perusahaan tahun ini berfokus pada optimalisasi aset-aset migas yang telah dimiliki, termasuk yang baru saja diakuisisi selama tahun 2024 lalu.

Sponsor
Iklan

Fokus Produksi dari Aset Baru dan Eksisting

Investor Relations Advisor ENRG, Herwin W. Hidayat, mengungkapkan bahwa peningkatan produksi akan bersumber dari sejumlah blok migas strategis yang dimiliki perusahaan.

Baca Juga: Energi Mega Persada (ENRG) Kembangkan Proyek CCS di Lapangan Arun

“Kami akan terus meningkatkan produksi dari aset-aset yang sudah ada, termasuk Bentu dan Malacca yang merupakan blok utama kami,” ujarnya pada Kamis (10/4).

Tak hanya itu, ENRG juga melanjutkan kegiatan eksplorasi dan pengembangan di Blok Gebang. Target produksi awal blok ini diproyeksikan pada semester kedua tahun 2026, seiring langkah perusahaan mengamankan pertumbuhan jangka panjang lewat strategi anorganik.

“Peluang akuisisi terhadap aset migas yang sudah berproduksi juga terus kami jajaki,” tambah Herwin.


Capex Dialokasikan untuk Proyek Strategis

Capex senilai US$ 150 juta–US$ 170 juta akan dialokasikan untuk mendukung operasional seluruh anak usaha ENRG. Realisasi nilai capex akan sangat bergantung pada dinamika proyek dan potensi investasi baru sepanjang tahun ini.

Baca Juga: ExxonMobil Investasi Rp 162 Triliun, Bangun CCS dan Petrokimia

ENRG mencatatkan performa keuangan yang solid sepanjang tahun 2024. Mengacu laporan keuangan yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia (BEI), penjualan neto perusahaan mencapai US$ 467,43 juta, tumbuh 11,09% secara tahunan (YoY) dari US$ 420,78 juta pada 2023.

Kontribusi utama berasal dari penjualan minyak mentah dan gas bumi sebesar US$ 441,66 juta, disusul segmen usaha penunjang sebesar US$ 23,62 juta dan DMO serta over/under lifting sebesar US$ 2,15 juta.


Laba dan Aset Terus Bertumbuh

Meski beban pokok penjualan naik 28,93% menjadi US$ 319,36 juta, ENRG berhasil menekan beban usaha sebesar 0,29% YoY menjadi US$ 23,95 juta.

Baca Juga: Analisa Menyeluruh IPO RATU: Peluang Investasi Prospek Menjanjikan di Sektor Energi

Dengan efisiensi tersebut, perusahaan mencatatkan laba usaha sebesar US$ 124,11 juta dan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 75,39 juta, naik 10,15% dari tahun sebelumnya.

Total aset ENRG hingga akhir 2024 tercatat sebesar US$ 1,58 miliar, mengalami pertumbuhan 15,33% dibanding tahun sebelumnya sebesar US$ 1,37 miliar. Aset tersebut terbagi atas liabilitas senilai US$ 926,12 juta dan ekuitas sebesar US$ 657,14 juta.

Baca Juga: Jadwal Pembagian Dividen Bank Mega (MEGA), Cek Detailnya!


Dorong Proyek CCS di Lapangan Arun

Di tengah fokus pada sektor hulu migas, ENRG juga menunjukkan komitmennya terhadap dekarbonisasi melalui proyek Carbon Capture and Storage (CCS) dan/atau Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS) yang dikembangkan bersama anak usahanya, PT Pema Global Energi (PGE).

Proyek ini akan dikembangkan di Lapangan Arun, Aceh, yang dikenal sebagai salah satu lokasi penyimpanan karbon paling potensial di Asia Tenggara, dengan kapasitas penyimpanan mendekati 16 triliun kaki kubik (TCF).

Lapangan Arun memiliki sejarah panjang dalam produksi sejak 1978 dengan kapasitas puncak hingga 2.500 MMSCFD, serta didukung infrastruktur dan kondisi geologi yang cocok untuk CCS skala besar.


Komitmen ESG dan Pertumbuhan Berkelanjutan

Sebagai langkah awal, ENRG akan melakukan studi kelayakan menyeluruh dengan membentuk tim teknis internal dan menggandeng konsultan independen. Studi ini direncanakan selesai pada 2026 dan akan mengacu pada ketentuan Peraturan Menteri ESDM No. 2 Tahun 2023.

ENRG juga akan membentuk divisi khusus Carbon Management yang akan memimpin pengembangan proyek CCS/CCUS di seluruh wilayah operasionalnya.

Meski fokus utama perusahaan tetap pada sektor hulu migas, proyek dekarbonisasi ini dinilai mampu memberikan nilai tambah jangka panjang, sekaligus mendukung target pemerintah menuju Net Zero Emission pada 2060.

Langkah ini sekaligus memperkuat posisi ENRG sebagai pemain energi yang adaptif terhadap tuntutan global akan energi bersih dan berkelanjutan.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru