HeadlinePasarSaham

ENRG Paling Panas, Tapi Target Harga Masih Jauh

154
ENRG Paling Panas, Tapi Target Harga Masih Jauh (2)
Saham ENRG melonjak paling tajam di sektor migas, namun target harganya dinilai masih jauh. Lonjakan harga didorong sentimen geopolitik dan minyak.

ENRG Memimpin Lonjakan Sektor Migas

JAKARTA, BursaNusantara.com – Saham PT Energi Mega Persada Tbk (IDX:ENRG) menjadi sorotan tajam di Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah mencatat lonjakan tertinggi di antara emiten migas lainnya.

Harga saham ENRG naik 5,59% ke level Rp 378 hingga akhir sesi pertama perdagangan, Senin (23/6/2025).

Dalam sepekan terakhir, kenaikannya telah mencapai 16,6%, sementara dalam sebulan melonjak tajam hingga 70,2%.

Kinerja luar biasa ini membuat ENRG menjadi emiten migas terpanas, meski target harga dinilai belum sebanding dengan pergerakan saat ini.

Perbandingan Kinerja Saham Migas Lainnya

Di sisi lain, kinerja ENRG jauh mengungguli PT Medco Energi Internasional Tbk (IDX:MEDC), yang menguat 2,1% ke Rp 1.460 pada sesi yang sama.

MEDC tercatat naik 2,4% dalam sepekan dan meningkat 21,1% selama sebulan terakhir.

Saham PT Raharja Energi Cepu Tbk (IDX:RATU) justru melemah 1,3% ke Rp 7.225 pada sesi yang sama.

Padahal, dalam sebulan terakhir, RATU mencatat penguatan sebesar 14,2%, meski dalam sepekan terakhir anjlok 9,69%.

Sementara itu, saham emiten penunjang migas juga bergerak beragam sepanjang perdagangan sesi pertama.

PT Elnusa Tbk (IDX:ELSA) naik tipis 1,2% ke Rp 500, tetapi secara mingguan justru minus 1,9%.

Secara bulanan, saham ELSA hanya naik 3,3%, jauh di bawah reli agresif ENRG.

Saham PT Wintermar Offshore Marine Tbk (IDX:WINS) mencatatkan penguatan 1,49% di akhir sesi pertama.

IDX:WINS menguat 1,9% dalam sepekan dan naik 12,6% dalam sebulan, menunjukkan pemulihan moderat di sektor pelayaran migas.

Lonjakan ENRG Didukung Sentimen Minyak dan Geopolitik

Investment Analyst Stockbit Sekuritas, Hendriko Gani, menjelaskan bahwa reli saham migas pekan ini banyak dipengaruhi sentimen dari harga minyak dunia.

Kenaikan harga minyak mentah Brent sebesar 2,7% ke level US$ 79,07 per barel menjadi salah satu pemicu positif.

Sentimen ini muncul setelah Presiden AS, Donald Trump, mengonfirmasi bahwa negaranya meluncurkan serangan terhadap tiga fasilitas nuklir di Iran.

Pasar langsung merespons dengan eskalasi ketegangan geopolitik yang berdampak signifikan pada harga komoditas energi.

Iran Ancam Tutup Selat Hormuz, Minyak Bergejolak

Dampak dari serangan AS ini semakin dalam setelah parlemen Iran menyatakan dukungan atas rencana penutupan Selat Hormuz.

Selat strategis ini merupakan jalur transit sekitar 20% pasokan minyak global setiap harinya.

Penutupan selat tersebut diperkirakan bisa mendorong harga minyak mentah ke level yang lebih tinggi dalam waktu singkat.

Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan Dewan Keamanan Nasional Iran, yang hingga kini belum memberikan pernyataan resmi.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebutkan bahwa semua opsi masih terbuka dalam menyikapi tindakan AS.

Sementara itu, Trump kembali memperingatkan bahwa jika Iran melancarkan serangan balasan, AS akan membalas dengan kekuatan yang jauh lebih besar.

Respons Pasar dan Prospek Saham Migas

Situasi geopolitik yang memanas ini secara otomatis menciptakan sentimen jangka pendek positif bagi sektor energi di pasar modal.

Hendriko menegaskan bahwa saham-saham seperti MEDC, ENRG, RATU, ELSA, WINS, hingga LEAD berpeluang mendapatkan limpahan dana dari investor yang berspekulasi atas reli harga minyak.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa sentimen tersebut bersifat temporer dan sangat dipengaruhi perkembangan konflik yang belum stabil.

Peningkatan harga ENRG memang mencolok, tapi dari sisi valuasi dan target harga jangka menengah, saham ini dinilai belum menyentuh potensi wajarnya.

Investor perlu mencermati volatilitas tinggi yang bisa datang sewaktu-waktu jika konflik mereda atau arah kebijakan berubah drastis.

Sementara untuk saham seperti WINS dan ELSA, potensi pergerakan relatif stabil karena terdampak secara tidak langsung melalui sektor jasa pendukung energi.

ENRG Jadi Magnet Baru, Tapi Masih Perlu Bukti Fundamental

Reli besar ENRG menarik perhatian pelaku pasar karena dinilai sebagai saham tematik yang sedang naik daun di tengah isu global.

Namun, dominasi spekulasi atas fundamental membuat saham ini rawan koreksi tajam jika eskalasi konflik mereda dalam waktu dekat.

Meskipun berada di jalur kenaikan tajam, ekspektasi pasar terhadap ENRG tetap harus ditopang oleh kinerja keuangan dan realisasi operasional.

Dalam kondisi penuh ketidakpastian seperti saat ini, pelaku pasar disarankan mengedepankan strategi trading jangka pendek.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

×

Selamat Datang

Masuk untuk komentar & diskusi.

Lupa Password?

Password dikirim ke email.

Exit mobile version