JAKARTA, BursaNusantara.com – Unilever Indonesia Tbk (UNVR), salah satu raksasa industri barang konsumsi cepat saji (FMCG) di Indonesia, kini menghadapi tantangan berat yang menggerus kinerja keuangan dan harga sahamnya.
Laporan keuangan kuartal III-2024 menunjukkan penurunan signifikan di berbagai lini, menandai era kejayaan perusahaan yang mulai meredup. Artikel ini akan mengulas secara mendalam tantangan yang dihadapi UNVR, strategi pemulihan yang diambil, serta prospek ke depan bagi emiten berkode saham UNVR ini.
Penurunan Kinerja Keuangan yang Signifikan
Laporan keuangan Unilever Indonesia untuk kuartal III-2024 menunjukkan penurunan yang cukup signifikan. Penjualan bersih perusahaan tercatat sebesar Rp 27,41 triliun, turun 10,12% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 30,5 triliun.
Penurunan ini terutama dipicu oleh lesunya penjualan domestik yang turun 9,89% menjadi Rp 26,63 triliun, serta penurunan penjualan ekspor sebesar 17,45% menjadi Rp 785,7 miliar.
Segmen produk kebutuhan rumah tangga dan perawatan tubuh masih menjadi kontributor utama dengan penjualan Rp 17,59 triliun. Sementara itu, segmen makanan dan minuman mencatatkan penjualan sebesar Rp 9,82 triliun. Namun, tekanan biaya produksi membuat laba kotor tertekan 13,05% menjadi Rp 13,28 triliun.
Setelah memperhitungkan beban operasional, Unilever hanya mencatat laba bersih Rp 3 triliun, anjlok 28,15% secara tahunan. EBITDA juga turun 25,7% menjadi Rp 4,58 triliun.
Dari sisi neraca, total aset tercatat Rp 16,54 triliun per akhir September 2024, turun 0,72% YtD, dengan liabilitas turun 1,32% menjadi Rp13,10 triliun. Arus kas setara kas merosot tajam 68,6% menjadi Rp 539,63 miliar.
Tantangan Berat yang Dihadapi UNVR
Unilever Indonesia menghadapi sejumlah tantangan berat yang menggerus kinerjanya. Pertama, kompetisi ketat dari merek-merek lokal yang lebih gesit dan mampu menawarkan produk dengan harga lebih terjangkau.
Kedua, perubahan preferensi konsumen yang kini lebih selektif terhadap harga, kualitas, dan isu sosial. Ketiga, dampak boikot konflik Israel-Palestina yang turut memengaruhi penjualan perusahaan.
Founder Stocknow.id, Hendra Wardana, menilai era kejayaan Unilever di Indonesia mulai meredup. “Unilever menghadapi tantangan berat dari kompetitor lokal yang lebih gesit, serta perubahan perilaku konsumen yang kini lebih selektif terhadap harga, kualitas, dan isu sosial,” ujar Hendra.
Strategi Pemulihan yang Ditempuh
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Unilever mencoba bertahan dengan fokus pada segmen inti, seperti perawatan tubuh, kebutuhan rumah tangga, dan makanan.
Selain itu, perusahaan juga memutuskan untuk melepas bisnis es krimnya kepada PT The Magnium Ice Cream Indonesia senilai Rp 7 triliun. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan fokus pada bisnis inti.
“Unilever masih memiliki keunggulan dari distribusi yang kuat dan portofolio produk yang dikenal luas. Tapi, tanpa inovasi yang relevan dengan kebutuhan konsumen saat ini, mereka akan semakin tertinggal,” jelas Hendra.
Kinerja Saham yang Belum Menunjukkan Tanda Pemulihan
Dari sisi kinerja saham, UNVR belum menunjukkan tanda-tanda bangkit. Secara year-to-date (ytd), saham UNVR tercatat melemah sebanyak 270 poin (-14,71%) ke level Rp 1.565. Harga tersebut terpangkas 50% dari harga penawaran UNVR pada saat menggelar Initial Public Offering (IPO) saham sebesar Rp 3.175.
Secara teknikal, saham UNVR masih berada dalam tren menurun (downtrend). Investor disarankan untuk menunggu konfirmasi pembalikan tren sebelum mengambil posisi signifikan. Jika berhasil menembus level resistance di Rp1.800 dengan volume beli yang kuat, potensi pemulihan jangka menengah bisa terbuka.
Prospek Ke Depan
Meskipun menghadapi tantangan berat, beberapa analis masih melihat potensi pemulihan bagi Unilever Indonesia. Target harga jangka pendek diperkirakan di kisaran Rp1.900, dengan potensi naik ke Rp 2.200–2.500 dalam 6–12 bulan jika restrukturisasi berjalan baik.
Untuk jangka panjang, jika Unilever berhasil merebut kembali pangsa pasar dan meningkatkan profitabilitas, harga saham berpeluang menuju Rp 2.800 atau lebih.
“Bagi investor jangka panjang yang percaya pada potensi pemulihan Unilever, ini bisa menjadi kesempatan. Namun, pemulihan kinerja membutuhkan waktu dan sangat bergantung pada efektivitas strategi transformasi perusahaan,” tambah Hendra.
Era kejayaan Unilever Indonesia (UNVR) memang mulai meredup, namun perusahaan masih memiliki sejumlah keunggulan yang dapat dimanfaatkan untuk pemulihan.
Dengan fokus pada segmen inti dan strategi restrukturisasi yang tepat, Unilever masih memiliki peluang untuk bangkit kembali. Namun, investor perlu bersikap hati-hati dan menunggu konfirmasi pembalikan tren sebelum mengambil posisi signifikan di saham UNVR.











