JAKARTA, BursaNusantara.com – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menegaskan bahwa peralihan aset BUMN ke Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) akan dilakukan secara bertahap dan transparan. Hingga saat ini, proses peralihan aset, termasuk saham anak perusahaan BUMN, masih dalam tahap finalisasi regulasi.
“Orang kan berpikirnya mudah, padahal tidak. Nanti kita masih mendorong Peraturan Pemerintah (PP) Inbreng,” kata Erick dalam kunjungannya ke Bandara Soekarno-Hatta, Sabtu (1/3/2025).
Transformasi BUMN: Tidak Setengah-Setengah
Menurut Erick, keputusan menyerahkan seluruh aset BUMN kepada BPI Danantara bukan hanya sebatas tujuh perusahaan besar, melainkan mencakup keseluruhan aset. Hal ini bertujuan untuk menciptakan manajemen aset yang lebih utuh dan efisien.
“Saya sebagai Menteri BUMN tidak mau setengah-setengah. Ini tujuh dulu, ini tambah dua dulu. Maunya semuanya. Toh, kita nggak ada yang diumpetin,” ujar Erick.
Ia juga menegaskan bahwa transformasi BUMN selama lima tahun terakhir dilakukan dengan transparansi penuh. Keberhasilan ini dibuktikan dengan catatan laba BUMN yang mencapai Rp310 triliun, yang menunjukkan efektivitas efisiensi dan reformasi yang telah diterapkan.
“Kalau BUMN itu benar-benar buruk dan banyak korupsi, tidak mungkin ada profit sebesar itu,” tambahnya.
Regulasi Inbreng dan Tantangan Pasar
Salah satu kendala utama dalam peralihan aset ini adalah regulasi terkait penyetoran modal saham dalam bentuk selain uang (inbreng). Pemerintah masih dalam tahap menyusun PP yang mengatur mekanisme ini agar sesuai dengan standar investasi global.
Selain itu, Erick mengakui bahwa pembentukan BPI Danantara masih mendapatkan respon negatif dari pasar. Namun, ia menekankan bahwa visi Presiden Prabowo Subianto dalam membentuk badan ini harus didukung untuk memperkuat perekonomian nasional.
Benchmark dengan Sovereign Wealth Fund Global
Erick menyoroti bahwa banyak negara telah sukses mengelola sovereign wealth fund (SWF) mereka, termasuk Public Investment Fund (PIF) Arab Saudi dan Qatar Investment Authority. Ia meyakini bahwa Indonesia juga dapat mengadopsi model keberhasilan tersebut agar BPI Danantara menjadi salah satu SWF terkemuka di dunia.
“Masa kita bikin sovereign wealth fund yang segede ini, yang nomor 7 atau nomor 8, benchmarking-nya yang tidak bagus? Kami akan kasih lihat yang bagus,” tegasnya.
Arah Baru Ekonomi Indonesia
Peralihan aset BUMN ke BPI Danantara bukan sekadar restrukturisasi perusahaan negara, tetapi juga bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat perekonomian Indonesia. Dengan regulasi yang tepat dan manajemen yang profesional, BPI Danantara berpotensi menjadi instrumen utama dalam menarik investasi dan mengoptimalkan aset negara.
Pasar masih menunggu langkah konkret dari pemerintah dalam implementasi kebijakan ini. Namun, dengan komitmen transparansi dan efisiensi yang ditekankan Erick Thohir, transformasi ini diharapkan mampu memberikan manfaat bagi ekonomi Indonesia di masa depan.











