Geser Kebawah
Internasional

Eropa Susun Rencana Perdamaian Ukraina, Trump Jadi Penentu Akhir?

125
×

Eropa Susun Rencana Perdamaian Ukraina, Trump Jadi Penentu Akhir?

Sebarkan artikel ini
Eropa Susun Rencana Perdamaian Ukraina, Trump Jadi Penentu Akhir
Para pemimpin Eropa menyusun rencana perdamaian Ukraina yang akan dibawa ke AS. Apakah Trump akan memberikan jaminan keamanan bagi Kyiv?

JAKARTA, BursaNusantara.com – Para pemimpin Eropa sepakat menyusun rencana perdamaian untuk Ukraina dalam pertemuan puncak di London. Rencana ini akan dibawa ke Amerika Serikat guna mendapatkan jaminan keamanan yang dianggap vital oleh Kyiv untuk menghalangi Rusia.

Langkah ini muncul hanya dua hari setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy berselisih dengan Presiden AS Donald Trump, yang membuatnya memperpendek kunjungannya ke Washington. Para pemimpin Eropa menegaskan bahwa persatuan dalam mendukung Ukraina harus tetap dijaga meski ada ketidakpastian terkait kebijakan AS.

Sponsor
Iklan

Eropa Bergerak Mandiri dalam Pertahanan

Dalam pertemuan tersebut, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan bahwa Inggris, Ukraina, Prancis, dan beberapa negara lain akan membentuk “koalisi yang bersedia” guna menyusun rencana perdamaian yang akan diajukan kepada Trump.

“Kita berada di persimpangan sejarah hari ini. Ini bukan saatnya untuk lebih banyak bicara. Sudah waktunya untuk bertindak,” ujar Starmer.

Untuk menunjukkan keseriusannya, pemimpin Eropa sepakat untuk meningkatkan anggaran pertahanan mereka. Langkah ini diambil untuk membuktikan kepada Trump bahwa benua Eropa mampu melindungi dirinya sendiri tanpa ketergantungan penuh pada AS.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen bahkan mengusulkan agar Uni Eropa melonggarkan aturan pembatasan utang guna memungkinkan peningkatan belanja pertahanan. Menurutnya, negara-negara anggota membutuhkan lebih banyak ruang fiskal untuk memperkuat keamanan.

Trump Berubah Sikap, Eropa Waspada

Ketidakpastian atas sikap AS terhadap Ukraina semakin mengemuka setelah Trump kembali ke Gedung Putih. Sejak itu, ia mulai mengubah pendekatan kebijakan luar negeri AS terhadap perang di Ukraina.

Pertemuan antara Zelenskiy dan Trump di Ruang Oval bahkan memicu spekulasi bahwa AS dapat menarik dukungannya terhadap Ukraina dan mendorong kesepakatan damai yang dinegosiasikan dengan Rusia.

Beberapa pemimpin Eropa menegaskan perlunya peningkatan anggaran pertahanan agar dapat menarik kembali dukungan AS dalam memberikan jaminan keamanan bagi Ukraina.

“Eropa harus menjadikan Ukraina sebagai ‘landak baja’ yang tidak dapat dicerna oleh calon penjajah,” kata von der Leyen.

Perdana Menteri Polandia Donald Tusk menambahkan bahwa Eropa harus lebih bertanggung jawab atas pertahanannya sendiri. “Kami perlu meningkatkan kontribusi dalam NATO dan tetap menjaga hubungan erat dengan AS,” ujarnya.

Dukungan AS Masih Krusial untuk Ukraina

Meskipun Eropa berusaha meningkatkan pertahanannya, mereka tetap berharap AS memainkan peran kunci dalam menjamin keamanan Ukraina. Pembicaraan dengan Washington saat ini berfokus pada kemungkinan dukungan AS dalam bentuk perlindungan udara, intelijen, dan pengawasan terhadap Ukraina.

Sebagai bentuk dukungan lebih lanjut, Zelenskiy bertemu dengan Raja Charles di Inggris untuk membahas strategi diplomasi lebih lanjut. Namun di sisi lain, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menuduh negara-negara Eropa berusaha memperpanjang konflik dengan terus memberikan dukungan kepada Kyiv.

Starmer mengakui bahwa perselisihan antara Zelenskiy dan Trump di Ruang Oval adalah tontonan yang tidak nyaman. Namun, ia tetap berusaha menjadi perantara antara Eropa dan AS untuk memastikan rencana perdamaian ini bisa diterima oleh semua pihak.

Eropa Harus Mandiri, Tapi Dukungan AS Tetap Diperlukan

Para pemimpin Eropa sepakat untuk meningkatkan upaya mereka dalam menyusun strategi pertahanan dan perdamaian bagi Ukraina. Namun, tanpa jaminan keamanan dari AS, masa depan rencana ini masih belum pasti.

Eropa kini berada di titik krusial—berusaha membangun kemandirian pertahanan sekaligus tetap menjaga hubungan baik dengan AS. Keputusan akhir tetap berada di tangan Washington, terutama Trump, yang memiliki pengaruh besar dalam menentukan arah geopolitik global.

Ikuti media sosial kami untuk update terbaru