Geser Kebawah
HeadlinePasarSaham

Fenomena Backdoor Listing Menggoda, Tapi Investor Perlu Cermat

286
×

Fenomena Backdoor Listing Menggoda, Tapi Investor Perlu Cermat

Sebarkan artikel ini
Fenomena Backdoor Listing Menggoda, Tapi Investor Perlu Cermat
Saham-saham bertema backdoor listing kembali naik daun. Tapi tak semua akuisisi berujung transformasi

Spekulasi Membuncah di Bursa, Tapi Jangan Terlena Backdoor Listing

JAKARTA, BursaNusantara.com – Belakangan, euforia investor ritel terhadap saham-saham bertema backdoor listing kembali menguat. Lonjakan harga yang berulang dalam waktu singkat menggoda banyak pihak untuk ikut dalam arus spekulasi.

Namun di balik sorotan dan sensasi, para analis mengingatkan bahwa tidak semua akuisisi berarti akan berujung pada transformasi fundamental perusahaan.

Sponsor
Iklan

Di Balik Label ‘Backdoor’, Ada Dinamika yang Tak Sederhana

Backdoor listing sendiri merupakan jalur alternatif bagi perusahaan swasta untuk menjadi emiten publik tanpa melewati proses IPO. Skemanya: perusahaan swasta masuk melalui akuisisi atau merger dengan perusahaan terbuka.

Manuver ini kerap memicu lonjakan harga saham secara drastis, terutama jika investor menilai bisnis baru yang masuk lebih menjanjikan ketimbang bisnis lama.

Namun perubahan besar ini tak bisa dilepaskan dari langkah agresif seperti divestasi, injeksi aset, hingga transformasi lini usaha. Dan di situlah risiko tersembunyi.

Saham-saham Penggerak Spekulasi

Beberapa emiten telah mencuri perhatian karena kabar akuisisi yang dinilai potensial berujung pada backdoor listing. PT Meratus Jasa Prima Tbk (KARW), misalnya, menjadi sorotan usai diakuisisi Meratus Group.

Demikian juga PT Techno9 Indonesia Tbk (NINE), yang diambil alih oleh investor asing Poh Group asal Singapura. Nama-nama seperti PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) dan PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) bahkan sempat mencatatkan lonjakan harga signifikan.

Kini, pelaku pasar kembali terpaku pada PT Multi Makmur Lemindo Tbk (PIPA). Emiten ini menguat hingga 14 hari berturut-turut pasca akuisisi 57,37% sahamnya oleh PT Morris Capital Indonesia pada 28 April 2025. Sebagian pelaku pasar mulai berspekulasi akan potensi backdoor listing di balik akuisisi ini.

Akankah Semua Akuisisi Berujung Backdoor Listing?

Founder Stockwise, Douglas Goh, menyebut bahwa tidak semua akuisisi berarti akan mengarah pada backdoor listing. Perbedaannya mendasar, namun sering diabaikan oleh investor awam.

“Semua backdoor listing berawal dari akuisisi. Tapi tidak semua akuisisi akan berubah jadi backdoor listing,” tegas Douglas, Jumat (2/5/2025).

Menurutnya, backdoor listing justru terjadi saat pemilik baru tidak tertarik dengan bisnis lama. Fokus mereka adalah pada status legal perusahaan publik sebagai kendaraan masuk ke bursa, bukan pada kegiatan usaha yang sudah ada.

“Biasanya ada divestasi dulu, baru disuntikkan aset baru,” ujarnya.

Lihat Siapa di Balik Akuisisi, Bukan Hanya Harga Saham

Douglas mengingatkan pentingnya mengenali pihak pengakuisisi. Apakah mereka punya reputasi, kekuatan modal, dan visi jangka panjang?

Jika ya, besar kemungkinan langkah tersebut akan memberi nilai tambah. Tapi jika pihak pengakuisisi tidak jelas rekam jejaknya, investor perlu meningkatkan kewaspadaan.

“Jangan mudah memberi label setiap akuisisi sebagai ‘the next PANI’ atau ‘next PACK’,” katanya. “Mayoritas malah tidak kemana-mana.”

Backdoor Listing Tak Bisa Instan, Penuh Tahapan

Satu hal lain yang juga sering dilupakan publik adalah soal waktu. Proses backdoor listing tidak pernah instan.

Setelah akuisisi, masih ada proses mandatory tender offer (MTO), disusul pengeluaran bisnis lama, dan penyesuaian struktur baru. Belum lagi proses perizinan serta suntikan aset dari pemilik baru yang sering kali memakan waktu panjang.

Backdoor listing sejatinya bukan cerita satu malam. Ia adalah skenario penuh tahapan, yang tidak semua perusahaan bisa atau ingin melewatinya sampai akhir.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.