JAKARTA, BursaNusantara.com – PT Freeport Indonesia (PTFI) menargetkan perbaikan smelter di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik, Jawa Timur, yang mengalami kebakaran pada Oktober 2024, dapat rampung pada Juni 2025. Biaya perbaikan diperkirakan mencapai US$ 130 juta atau sekitar Rp 2,13 triliun, yang sepenuhnya akan ditanggung oleh asuransi.
Presiden Direktur Freeport Indonesia, Tony Wenas, dalam rapat dengar pendapat dengan DPR pada Kamis (13/3/2025), mengungkapkan bahwa kerusakan akibat kebakaran mencakup sekitar 30% dari total 3.500 item di smelter. Sementara itu, sekitar 70% komponen lainnya masih bisa diperbaiki atau digunakan kembali.
“Estimasi biaya kerusakan sejauh ini sekitar US$ 130 juta yang akan ditutupi dari asuransi,” ujar Tony Wenas.
Percepatan Perbaikan Smelter
Untuk mempercepat proses pemulihan, Freeport telah mengerahkan sekitar 2.000 tenaga kerja yang bekerja dalam dua shift. Fokus utama perbaikan mencakup pengadaan material, konstruksi, serta instalasi ulang fasilitas smelter.
“Kami mempercepat perbaikan ini dengan menggunakan pesawat berbadan lebar seperti Boeing 747 dan tiga perjalanan Antonov-AN124 untuk mengangkut lebih dari 300 ton peralatan yang dibutuhkan,” jelas Tony.
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa jika tidak ada hambatan, perbaikan diproyeksikan selesai pada minggu ketiga Juni 2025. Setelahnya, pada minggu keempat, smelter Gresik diharapkan kembali beroperasi penuh dengan kapasitas produksi tembaga katoda seperti sebelumnya.
Dampak dan Strategi Pemulihan
Insiden kebakaran ini sempat menimbulkan kekhawatiran terhadap operasional dan rantai pasok produksi Freeport. Namun, dengan strategi percepatan perbaikan serta dukungan tenaga kerja dan teknologi transportasi yang efisien, Freeport optimistis target pemulihan dapat tercapai tepat waktu.
“Kami yakin minggu ketiga bulan Juni sudah selesai. Dan minggu keempat bulan Juni kami bisa memproduksi katoda tembaga kembali,” tutup Tony.
Seperti dikutip dari sumber terkait, perbaikan smelter ini menjadi prioritas utama guna memastikan kelancaran operasi industri tambang dan hilirisasi mineral di Indonesia.












