Garuda Dapat Dana Jumbo, Tapi Risiko Tetap Menghantui
JAKARTA, BursaNusantara.com – PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA) kembali disorot usai menerima suntikan dana restrukturisasi sebesar Rp6,65 triliun dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) melalui skema shareholder loan.
Dana tersebut dikucurkan lewat anak usaha Danantara, yakni PT Danantara Asset Management (Persero), sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pemulihan keuangan maskapai pelat merah tersebut.
Namun, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, mengingatkan bahwa dana besar ini tak boleh menjadi pembenaran bagi Garuda untuk terus merugi.
Garuda, menurutnya, masih dalam posisi rapuh secara keuangan dan berpotensi membebani negara jika tidak ada perbaikan kinerja yang nyata.
Perlu Efisiensi, Bukan Sekadar Bertahan
Nailul menilai bahwa keuangan Garuda hingga saat ini masih sangat bergantung pada dukungan pemerintah, meskipun bentuknya kini bukan lagi Penanaman Modal Negara (PMN) langsung.
Ia menyebut, transisi ke Danantara bukan berarti lepas dari risiko kerugian negara jika Garuda gagal mengelola dana tersebut secara optimal.
Restrukturisasi keuangan harus diiringi dengan transformasi operasional, bukan hanya bertahan hidup dari suntikan modal.
Dana sebesar itu harus mampu menghasilkan nilai kembali, bukan tergerus oleh beban operasional yang tak efisien.
Jika tidak, potensi kerugian yang ditanggung Danantara bisa mencapai triliunan rupiah dan menjadi bom waktu baru bagi keuangan negara.
Evaluasi Rute Jadi Kunci Efektivitas
Salah satu rekomendasi utama dari Celios adalah melakukan evaluasi mendalam terhadap rute-rute penerbangan yang dinilai tidak produktif.
Rute internasional seperti Jakarta–Amsterdam disebut sulit bersaing dari sisi harga dengan maskapai Timur Tengah yang menawarkan tarif lebih murah melalui sistem transit.
Begitu juga penerbangan ke Jepang yang mengalami tekanan dari sisi okupansi dan struktur biaya.
Sebaliknya, Garuda disarankan untuk fokus memperkuat rute direct ke Arab Saudi yang dinilai memiliki permintaan tinggi dan potensi margin yang lebih sehat.
Fokus pada rute strategis yang menguntungkan lebih penting daripada mempertahankan citra global dengan rute yang rugi secara komersial.
Risiko Sistemik Jika Dana Tak Berputar
Dana restrukturisasi dari Danantara bersifat pinjaman pemegang saham, artinya tetap ada beban pembayaran kembali di masa depan.
Jika Garuda gagal mencetak laba atau arus kas positif, maka beban itu akan berbalik menjadi risiko sistemik bagi lembaga pengelola dana negara.
Nailul menegaskan bahwa GIAA harus menunjukkan strategi bisnis yang benar-benar mengarah pada efisiensi, bukan sekadar mempertahankan operasi yang tidak kompetitif.
Kegagalan mengelola dana akan memunculkan beban jangka panjang, baik bagi Danantara maupun bagi reputasi pemerintah dalam melakukan restrukturisasi BUMN.
Bahkan, ini bisa menjadi preseden buruk bagi program pendanaan serupa jika dianggap gagal menghasilkan manfaat nyata.
Transformasi atau Tergerus Lagi?
Dengan gelontoran Rp6,65 triliun, Garuda memiliki peluang emas untuk kembali menjadi maskapai nasional yang sehat dan kompetitif.
Namun peluang itu juga datang dengan risiko besar bila manajemen tak mampu memaksimalkan penggunaan dana secara bijak.
Langkah ke depan harus fokus pada efisiensi biaya, optimalisasi rute, dan penyesuaian struktur bisnis agar sesuai dengan realitas pasar.
Jika tidak, suntikan dari Danantara hanya akan memperpanjang napas sebuah maskapai yang masih terjebak di ruang intensif keuangan.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Garuda diselamatkan, tetapi apakah Garuda bisa bangkit dan berlari kembali tanpa menyandarkan seluruh beban pada negara.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












