Geser Kebawah
KeuanganLainnya

Gen Z Paling Rentan Finansial, Ketahanan Jangka Panjang Terendah

303
×

Gen Z Paling Rentan Finansial, Ketahanan Jangka Panjang Terendah

Sebarkan artikel ini
Gen Z Paling Rentan Finansial, Ketahanan Jangka Panjang Terendah
Sun Life ungkap Gen-Z Indonesia paling lemah secara finansial. Minim perencanaan jangka panjang, tapi mulai andalkan AI untuk konsultasi keuangan.

Gen-Z Paling Rentan Finansial, Ketahanan Jangka Panjang Merosot

JAKARTA, BursaNusantara.com – Laporan terbaru Sun Life Indonesia memperlihatkan adanya jurang ketahanan finansial antar generasi yang semakin menganga, dengan Gen-Z menempati posisi paling rentan secara ekonomi dalam jangka panjang.

Ketahanan Finansial Gen-Z Masih Rentan Dibanding Generasi Lain

Generasi Z Indonesia tampak belum menemukan pijakan finansial yang kokoh di tengah gelombang ekonomi yang berubah cepat.
Dalam laporan Sun Life Asia Financial Resilience Index 2025, hanya 49% Gen-Z yang merasa aman secara finansial angka yang tertinggal dari Baby Boomer (63%) dan Milenial (61%).
Lebih dari separuh Gen-Z mengaku sebagai investor konservatif, menunjukkan sikap enggan ambil risiko dan minimnya eksposur terhadap strategi investasi jangka panjang.
Dibandingkan kelompok usia lain, Gen-Z paling jarang mencari nasihat keuangan, dengan 29% memilih melakukannya sendiri tanpa bimbingan ahli.
Namun ironi terjadi: justru Gen-Z adalah kelompok yang paling membutuhkan arahan karena karakteristik finansialnya masih labil dan kurang matang.

Sponsor
Iklan

AI Mulai Jadi Panduan Finansial Gen-Z, Bukan Lagi Manusia

Menariknya, laporan Sun Life mengungkap tren baru yang mengemuka: AI menjadi sumber utama konsultasi keuangan bagi Gen-Z.
Sebanyak 21% Gen-Z mengandalkan aplikasi berbasis kecerdasan buatan untuk membuat keputusan keuangan pribadi.
Angka ini lebih tinggi dibandingkan Gen X (9%) maupun Baby Boomer (11%), dan sejajar dengan Milenial (21%) yang juga mulai mempercayai teknologi.
Fenomena ini mencerminkan pergeseran paradigma dari interaksi tradisional dengan penasihat keuangan menuju pendekatan digital yang instan dan adaptif.
Namun, tingginya ketergantungan terhadap AI juga menunjukkan lemahnya relasi personal Gen-Z dengan institusi keuangan konvensional.

Inflasi Memukul Keseharian, Perencanaan Jangka Panjang Ditinggalkan

Kondisi makroekonomi yang terus memburuk turut menggerus semangat perencanaan finansial jangka panjang masyarakat Indonesia.
Sebanyak 92% responden Sun Life mengaku merasakan dampak langsung dari inflasi, dan 46% di antaranya mengeluhkan beban pemenuhan kebutuhan harian.
Fokus keuangan kini bergeser ke prioritas jangka pendek, dengan 62% responden memilih pengelolaan kebutuhan harian sebagai prioritas utama.
Perencanaan pensiun yang semula jadi perhatian utama kini tergeser ke posisi kelima, mencerminkan penurunan urgensi terhadap masa depan finansial.
Dana darurat kini menempati posisi kedua (42%) dalam daftar prioritas, seiring naiknya kesadaran terhadap risiko ekonomi mendadak.

Minimnya Perencanaan Jangka Panjang Jadi Masalah Sistemik

Laporan juga mengungkap bahwa perencanaan keuangan jangka panjang belum menjadi budaya masyarakat.
Sebanyak 55% responden belum memiliki rencana finansial lebih dari 12 bulan ke depan, dan hanya 9% yang merancang rencana lebih dari 10 tahun.
Data ini menegaskan rendahnya kesiapan masyarakat menghadapi situasi ekonomi jangka panjang yang tak pasti.
Minimnya visi jangka panjang ini menjadi penghambat utama bagi pembangunan ketahanan finansial yang berkelanjutan.
Sebaliknya, ketergantungan pada perencanaan jangka pendek memperkuat siklus kerentanan terhadap gejolak ekonomi mendatang.

Kontras Tajam: Ketahanan Tinggi vs Ketahanan Rendah

Perbedaan sikap dan kebiasaan keuangan antara kelompok berketahanan tinggi dan rendah terlihat begitu kontras.
Kelompok dengan ketahanan tinggi cenderung menempatkan dana darurat (45%) dan pendidikan (38%) sebagai prioritas utama.
Mereka juga menunjukkan tingkat keyakinan yang lebih tinggi: 81% yakin bisa penuhi kebutuhan jangka pendek, dan 87% optimis capai tujuan jangka panjang.
Sebanyak 51% dari mereka bahkan percaya bisa bertahan lebih dari enam bulan jika terjadi kondisi darurat seperti kehilangan pekerjaan.
Yang menarik, 44% dari mereka aktif berkonsultasi ke penasihat keuangan, 50% belajar rutin soal finansial, dan 48% rajin berinvestasi.

Siklus Ketidakpastian Finansial Menjerat Gen-Z

Sebaliknya, kelompok berketahanan rendah menunjukkan arah yang berlawanan: 53% fokus membayar utang dan 45% pada dana darurat, tanpa visi jangka panjang.
Hanya 27% dari mereka yang yakin mampu memenuhi kebutuhan jangka pendek, dan hanya 15% yang yakin bisa capai tujuan jangka panjang.
Parahnya, 68% menyatakan tidak akan mampu bertahan lebih dari enam bulan jika menghadapi krisis keuangan atau kesehatan serius.
Gen-Z sebagian besar masuk dalam kelompok ini, memperlihatkan bahwa risiko masa depan mereka sangat tinggi jika tidak segera diintervensi.
Minimnya rencana dan rendahnya literasi keuangan menjadikan mereka kelompok yang sangat rentan dalam menghadapi tantangan ekonomi modern.

Intervensi Literasi Keuangan Harus Segera Diperkuat

Chief Client and Distribution Officer Sun Life Indonesia, Kah Jing Lee menyebut perlunya pendekatan sistemik untuk membekali Gen-Z dengan fondasi keuangan yang kuat.
Menurutnya, Gen-Z tumbuh dalam tekanan biaya hidup dan kondisi ekonomi tidak pasti, sehingga membutuhkan lebih dari sekadar motivasi mereka perlu literasi dan akses.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara lembaga keuangan, pemerintah, dan teknologi untuk memperluas akses terhadap informasi finansial yang kredibel.
Langkah ini diyakini menjadi kunci dalam membangun daya tahan finansial jangka panjang bagi generasi muda.
Kah Jing Lee menegaskan bahwa waktu masih berpihak kepada Gen-Z, namun arah dan struktur bimbingan sangat menentukan hasil akhirnya.

Generasi Digital Harus Disambut dengan Edukasi Digital

Fenomena AI yang makin populer di kalangan Gen-Z bisa menjadi peluang emas untuk membentuk arah literasi finansial digital.
Dengan menjadikan aplikasi keuangan berbasis AI sebagai alat edukasi, bukan hanya alat konsultasi, pola pikir konservatif Gen-Z dapat diarahkan secara bertahap.
Namun teknologi tidak bisa bekerja sendiri pendekatan humanis dan empatik tetap dibutuhkan agar proses edukasi terasa relevan dan membumi.
Pendekatan multikanal yang menggabungkan AI, media sosial, komunitas finansial, dan sekolah keuangan daring perlu segera dikembangkan.
Di titik inilah peran sektor keuangan dan regulator menjadi krusial dalam menutup kesenjangan dan membuka jalan menuju masa depan yang lebih tahan guncangan.