JAKARTA, BursaNusantara.com – Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) memperoleh sentimen positif usai rilis laporan keuangan 2024 yang menunjukkan perbaikan signifikan.
Dalam riset terbarunya, Macquarie menaikkan proyeksi pendapatan GOTO untuk tahun 2025 dan 2026 masing-masing sebesar 7% dan 8%, serta menyesuaikan proyeksi EBITDA naik 15% dan 10%.
EBITDA GOTO Kembali Positif, Target Diunggulkan
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, EBITDA disesuaikan segmen fintech GOTO mencatatkan hasil positif pada tahun 2024. Tahun ini, manajemen GOTO menargetkan EBITDA disesuaikan berada di kisaran Rp 1,4 triliun hingga Rp 1,6 triliun, melampaui estimasi konsensus analis.
Kontributor utama kinerja ini berasal dari segmen on demand services (ODS) yang diperkirakan menyumbang sekitar Rp 1,1 triliun, sedangkan fintech menyumbang Rp 300 miliar.
Perseroan juga dinilai berhasil menjaga efisiensi pengeluaran meskipun menghadapi beban tambahan, seperti pemberian bonus untuk mitra pengemudi selama periode Lebaran.
Pertumbuhan Fintech dan E-Commerce Terus Menguat
Di segmen fintech, pertumbuhan pinjaman pada kuartal IV-2024 mencapai 172% secara tahunan. Dengan basis pengguna GoPay yang terus meningkat, nilai total kredit fintech GOTO diperkirakan menembus Rp 8 triliun pada akhir 2025, dari sebelumnya Rp 5,2 triliun di kuartal IV tahun lalu.
Untuk bisnis e-commerce, biaya layanan Tokopedia mengalami kenaikan 6% secara kuartalan menjadi Rp 183 miliar pada kuartal IV-2024. Macquarie memperkirakan beban layanan tersebut akan tumbuh sekitar 9% sepanjang 2025.
Macquarie Sematkan Rekomendasi Outperform
Melihat prospek bisnis yang kuat, Macquarie memberikan rekomendasi outperform terhadap saham GOTO, dengan target harga baru Rp 105.
Penilaian ini berdasarkan valuasi EV/net sales 2025 sebesar 4,6 kali, naik dari sebelumnya 3,8 kali. Nilai EV/sales untuk bisnis ODS dinaikkan menjadi 3,8 kali, setara dengan kompetitor regional seperti Grab.
Macquarie juga menyoroti dua katalis utama yang berpotensi mendorong harga saham GOTO lebih tinggi: peluang merger strategis dengan Grab serta kebijakan regulasi pemerintah yang mendukung transformasi digital dan ekonomi berbasis teknologi.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.












