JAKARTA, BursaNusantara.com – Spekulasi akuisisi Grab terhadap PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kembali mencuat ke permukaan.
Rencana besar ini kembali diperbincangkan setelah Reuters mengungkap bahwa Grab, perusahaan teknologi asal Singapura, sedang mengupayakan kesepakatan untuk mengambil alih GoTo pada kuartal kedua 2025.
Dua sumber yang mengetahui rencana tersebut menyebutkan bahwa Grab telah menunjuk penasihat khusus guna memfasilitasi proses akuisisi.
Proses ini dikabarkan masih dalam tahap pembahasan, terutama mengenai aspek pembiayaan yang sedang dinegosiasikan dengan sejumlah bank.
Baca Juga: GOTO Bantah Isu Merger dengan Grab, Begini Klarifikasinya
Baik Grab maupun GoTo belum memberikan pernyataan resmi terkait kabar tersebut. Meskipun demikian, geliat di pasar mulai terasa, dengan sejumlah pihak mencermati dampak potensi merger ini terhadap industri digital di Asia Tenggara.
Rencana Akuisisi Bernilai US$ 7 Miliar
Salah satu sumber menyebutkan bahwa Grab mematok nilai akuisisi sekitar US$ 7 miliar untuk mengakuisisi unit bisnis utama GoTo.
Nilai ini lebih tinggi dari kapitalisasi pasar GoTo saat ini yang tercatat sekitar US$ 5,8 miliar, berdasarkan data LSEG.
Di sisi lain, saham Grab yang diperdagangkan di Nasdaq mengalami kenaikan 2,4% sepanjang tahun ini, menjadikan valuasinya mendekati US$ 20 miliar.
Baca Juga: GOTO Diunggulkan Macquarie, Target Harga Naik
Kinerja positif ini memberikan dorongan tambahan bagi Grab untuk melanjutkan ekspansi bisnis melalui akuisisi strategis.
Menurut dua sumber lainnya, GoTo kemungkinan akan melepas unit bisnis internasionalnya yang berbasis di Singapura kepada Grab.
Sementara untuk pasar Indonesia, Grab disebut akan mengambil alih seluruh unit operasional GoTo, kecuali divisi layanan keuangan.
Dampak Kompetisi dan Potensi Monopoli
Langkah besar ini tentu memantik perhatian pelaku industri dan regulator. Menurut analisis Euromonitor International, jika penggabungan ini terwujud, entitas gabungan Grab-GoTo akan menguasai sekitar 85% pangsa pasar ride-hailing dan pengiriman makanan Asia Tenggara.
Baca Juga: Saham GOTO Melejit! Prospek Cerah dan Target Tinggi
Khusus di Indonesia dan Singapura, dominasi keduanya diperkirakan akan mencapai lebih dari 90%. David Zhang dari Euromonitor menyatakan bahwa penggabungan ini berisiko menciptakan struktur pasar yang terlalu terkonsentrasi, sehingga pengawasan antimonopoli dipastikan akan diperketat di kedua negara tersebut.
Ia menambahkan bahwa potensi penolakan merger sangat besar, mengingat kekhawatiran akan menurunnya tingkat persaingan dan risiko kenaikan harga bagi konsumen.
Regulasi Jadi Faktor Penentu
Meskipun potensi dominasi pasar menjadi isu utama, analis BRI Danareksa Sekuritas, Niko Margaronis, berpendapat bahwa pemerintah Indonesia mungkin akan mengambil pendekatan pragmatis.
Baca Juga: 10 Saham Net Sell Terbesar Asing: TLKM, GOTO dan BMRI Terbesar
Menurutnya, merger ini bisa dipertimbangkan dari sisi nilai ekonomi jangka panjang dan efisiensi operasional yang dihasilkan dari penguatan pemain lokal dalam ekosistem digital.
Namun demikian, ia juga mengingatkan bahwa tren pengawasan regulasi di Asia kini sedang meningkat. Fenomena ini dipicu oleh kekhawatiran global terhadap praktik monopoli, terutama dalam sektor teknologi digital yang terus berkembang pesat.
Preseden Pengawasan Ketat di Asia
Kasus serupa pernah terjadi sebelumnya. Pada Maret lalu, Uber membatalkan rencana akuisisi unit bisnis Foodpanda senilai US$ 950 juta di Taiwan setelah regulator setempat menolak kesepakatan tersebut. Alasan utamanya adalah potensi pengurangan persaingan dan dampaknya terhadap konsumen.
Pengalaman itu menjadi pengingat bahwa proses akuisisi lintas batas di sektor digital tidak hanya soal nilai, tetapi juga kepatuhan terhadap regulasi ketat yang berlaku di masing-masing negara.
Dengan ketatnya pengawasan dan tekanan dari publik serta regulator, rencana akuisisi ini bisa menjadi pertarungan antara ambisi korporasi dan kepentingan pasar yang lebih luas, yang akan menentukan wajah kompetisi digital Asia Tenggara di masa depan.










